Lombok Post
Metropolis

Tren Statistik Gaya Hidup Warga Kota, Happy dengan Rokok, Abaikan Bahan Pokok

ILUSTRASI: Seorang pria sedang asyik menikmati hembusan asap rokok, tanpa memperdulikan kesehatan dirinya.

Saat ini kampanye bahaya rokok begitu gencar di ibu kota. Namun lucunya warga kota lebih memilih rokok daripada pemenuhan gizi dan nutrisi yang baik keluarga. Kok bisa?

———————————-

ADA yang menarik dengan data statistik yang dirilis Badan Pusat Statistik Kota Mataram. Data yang dirilis 1 Maret 2019 itu memperlihatkan tren yang kurang baik di tengah kehidupan masyarakat ibu kota. Data itu memperlihatkan hampir semua bahan pokok yang dapat menghasilkan nutrisi ternyata alami deflasi. Apa itu?

“Defasi terjadi akibat barang meningkat, tapi permintaan turun sehingga harga barang-barang jadi turun. Itu hukum pasar,” kata Isa Ansori, Kepala BPS Kota Mataram.

Tapi saat semua barang pokok dan jadi sumber nutrisi itu minus atau turun harga karena permintaan yang lemah, permintaan rokok dan alkohol meningkat. Data statistik menunjukkan rokok dan minuman beralkohol justru meningkat dari sisi harga.

Dalam hukum pasar saat sebuah barang alami peningkatan harga, itu biasanya disebabkan oleh permintaan barang yang tinggi. Ini lumrah disebut inflasi.

Artinya, saat daya beli masyarakat sedang turun, ditandai dengan pertumbuhan ekonomi ibu kota yang rendah, rokok dan minuman alkohol lebih diprioritaskan daripada kebutuhan lain. “Sebenarnya kalau mau jujur, itulah yang terjadi dengan masyarakat kita,” imbuh Isa.

Ia mengaku kerap mengamati. Terutama pada masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Mereka lebih mementingkan rokok daripada pemenuhan gizi dan kalori keluarga.

Ia mencontohkan misalnya masyarakat yang bekerja jadi tukang. Banyak yang lebih memilih, rokok dan kopi sebagai tambahan layanan di luar honor kerja dibanding makanan yang banyak mengandung gizi.

“Pernah ada yang kerja di rumah, itu minta rokok dan kopi daripada makan,” ujar ia heran.

Dan ini tidak hanya terjadi pada satu dua tukang bangunan. Tapi hampir semua. Padahal dari sisi kelas ekonomi, pada tukang berada pada kelompok yang rentan miskin jika diukur dari indikator kemiskinan ala BPS. “Bahkan rokok itu berada pada nomor dua loh, setelah beras,” jelasnya.

Faktanya lanjut Isa, rokok telah mengambil peran yang sangat penting sebagai bagian dari konsumsi pokok masyarakat. Sehingga keberadaanya menjadi variabel ukuran kedua, setelah beras didata oleh BPS. “Karena rokok punya andil besar, muncul dengan sendirinya sebagai data statistik,” ulasnya.

Di kelas masyarakat dengan pengetahuan menengah ke bawah, rokok menjadi tak tergantikan setelah nasi. Bahkan makanan yang mengandung banyak gizi dan kalori tergeser ke bawah. Ini tentu ironi, mengingat seharusnya masyarkat lebih mementingkan gizi keluarga daripada rokok.

Maka tak heran bila anekdot “gak apa-apa gak makan asal ngerokok” itu benar adanya. “Padahal dengan posisinya nomor dua setelah beras, rokok jadi bahan konsumsi yang rentan mendekatkan kemiskinan masyarakat dekat dengan garis kemiskinan, bahkan ad ada yang miskin,” ulasnya.

Mengapa bisa seperti itu?

Pertama, sudah dijelaskan sebelumnya, rokok menjadi variabel kedua dalam pemenuhan konsumsi pokok. Lalu yang kedua, perlu diketahui, pemenuhan kalori masyarakat yang sehat menurut statistik, harus mampu mencapai 2.100 kalori per hari.

“Sekarang masalahnya rokok yang mahal itu ada di posisi nomor dua setelah beras, tapi apa rokok menghasilkan kalori? tidak,” cetusnya.

Maka hampir bisa dipastikan uang yang dipakai masyarakat ekonomi kelas memengah ke bawah untuk beli rokok, sia-sia dalam pemenuhan kalori. Karena tidak ada kontribusi sedikitupun untuk meningkatkan kalori dan gizi masyarakat. Padahal, dari sisi harga rokok termasuk sangat mahal.

“Berapa harga rokok sekarang, Rp 20 ribu? Rp 23 Ribu? atau bisa jadi lebih mahal, coba pakai itu beli ikan, pasti hitungan kalorinya jauh lebih baik,” terangnya.

Tapi perilaku ini sudah kadung mengakar kuat di tengah masyarakat menengah ke bawah. Masyarakat kelas menengah ke bawah, kebanyakan meletakan orientasi makanan pada ukuran kenyang atau tidak. Sedangkan gizi tak terlalu dipertimbangkan. “Wajar jika permintaan pada rokok tetap tinggi karena yang beli semua lapisan masyarakat,” ulasnya.

Bagi masyarakat kelas menengah ke atas, membeli rokok tidak akan terlalu berdampak pada pemenuhan kalori mereka. Pemenuhan 2.100 kalori per hari dengan mudah dicukupi, karena mereka punya daya beli di atas rata-rata. Berbeda dengan masyarakat kelas menengah ke bawah yang akan sulit memenuhi gizi, karena lebih mementingkan rokok.

“Bahkan kami menghitung rokok punya andil sebesar 22 persen untuk menjadikan masyarakat menjadi miskin,” ulasnya.

Rokok telah membuat masyarakat yang dekat dengan garis kemiskinan rentan jadi miskin. Pendapatan mereka yang tentatif, dengan penghasilan yang tidak terlalu tinggi, memperlebar risiko. Masyarakat ibu kota jatuh miskin.

“Coba saja hitung, jadi tukang pendapatan harian bisa sekitar Rp 120 ribu sehari, tapi itu kan tidak tetap, mereka baru bisa bekerja kalau ada proyek,” jelasnya.

Lalu bagaimana, mereka akan memenuhi kebutuhan rokok yang relatif cukup mahal? Dengan harga di atas Rp 20 ribu. Sedangkan sebungkus rokok, bisa dihabiskan hanya dalam beberapa hari. “Bahkan ada yang cuma satu hari,” ujarnya.

BPS lanjut Isa telah mengkur 254 komoditas hingga bulan Maret 2019 ini. Rata-rata mengalami deflasi. Ada beberapa yang alami inflasi. Salah satu yang inflasi adalah rokok dan alkohol. Isa mengatakan, kenaikan harga rokok memang bisa dipastikan karena permintaan yang tinggi. “Selain itu bisa juga karena ditentukan harganya oleh pabrik karena kebanyakan rokok kan diproduksi di Jawa,” tandasnya.

Kampanye melawan rokok di ibu kota sebenarnya sudah digencarkan dalam banyak rupa. Kementerian Kesehatan bahkan sampai ‘meneror’ para perokok dengan gambar-gambar seram di bungkus rokok. Nyatanya, itu tak berhasil membuat para perokok kapok atau sekedar mengurangi rokok.

“Ya jelas bahaya rokok itu bagi paru-paru,” kata dr H Usman Hadi, pada kesempatan berbeda.

Bahan-bahan pembuat rokok dari tembakau, cengkeh, hingga kemasan rokok pun rentan dengan bahaya-bahaya kimia. Tapi, rupanya tak sedikitpun membuat para perokok surut dan takut dengan kematian yang lebih dekat mengintai nyawanya.

“Ini kan soal kesadaran karena yang kena dampaknya bukan hanya perokok itu sendiri tapi orang-orang disekitarnya,” ulasnya.

Seharusnya, keluarga mengambil peranan paling besar. Mencegah salah satu anggota keluarga merokok. Karena tidak hanya berpotensi menyebar penyakit, tetapi juga tidak menguntungkan sama sekali dari sisi ekonomi. “Jangan dibiarkan apalagi dimaklumi,” harapnya.

Rokok terbukti secara medis dapat membuat orang sakit begitu juga orang-orang di sekitar perokok. Namun, kampanye buruknya rokok secara statistik, menunjukan tak ada perubahan.

Bahkan, mencegah orang merokok pun didorong melalui kampanye Kota Layak Anak (KLA). Di mana syaratnya salah satunya yakni pembatasan baliho iklan rokok, hingga membatasi para orang tua merokok di dekat anak.

“Kalau itu tetap kita gencarkan, kita kan kerja sama juga dengan beberapa OPD seperti dinas perkim untuk penertiban iklan rokoknya,” kata Dewi Mardiana Ariany, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Mataram (DP3A).

Bahkan, kota pun telah berhasil meraih predikat KLA kategori Pratama. “Itu menjunjukan kita punya komitmen untuk menjadikan ibu kota ramah dengan anak, salah satunya mengurangi bahaya rokok di sekitar anak,” kata Dewi.

Tapi fakta statistik ini seharunya bisa jadi bahan evaluasi lagi. Bahwa, predikat KLA belum jadi indikator perokok di ibu kota berkurang. Jumlahnya bahkan telah berhasil, membuat harga rokok naik karena ada permintaan yang tinggi. (zad/r7)

Berita Lainnya

Buat Wisata Kuliner Ikan di Sekarbela

Redaksi LombokPost

Muhir Keok, Malik Melenggang

Redaksi LombokPost

Jadup Mulai Ada Titik Terang

Redaksi LombokPost

Aneh, Usulan Perda Koperasi Dihapus Begitu Saja

Redaksi LombokPost

Zohri Kembali Pertajam Rekor Jadi 10,13 Detik

Redaksi LombokPost

Partai Beringin Panas Dingin

Redaksi LombokPost

Gubernur Bantah Ucapkan Selamat kepada Calon Presiden Tertentu

Redaksi LombokPost

Gubernur Zul Yakin Jokowi Tak Cuekin NTB

Redaksi LombokPost

Kebutuhan Uang Selama Ramadan Rp 2,9 Triliun

Redaksi LombokPost