Lombok Post
Metropolis

Curhat Papuq Irah : Dipeluk Prabowo, Rasanya Dipeluk sang Ayah

NOSTALGIA: Papuk Irah menunjukkan foto masa lalunya bersama keluarga dan kerabatnya di kediamannya Kampung Telaga Mas, Kelurahan Binatro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, kemarin (29/3).

Video Papuq Irah dapat Rp 500 ribu dari Prabowo viral di media sosial. Dengan cepat pula disambar jadi gorengan politik kubu yang berseberangan. Lalu, seperti apa cerita sebenarnya Papuq Irah?

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

======================================

SUMIRAH tak pernah menduga. Di usianya yang satu abad kurang 15 tahun, bakal jadi omongan banyak orang. Nenek dengan lutut gemetaran itu sangat ingin memutar waktu. Lalu menolak ajakan seorang remaja yang ia kenal baik, selalu menyapanya ketika lewat di sebuah apotek.

Sayang nasi telah jadi bubur. Videonya sudah terlanjur dan dipakai kubu politik untuk saling menjatuhkan. “Irfan namanya, dia jadi tukang parkir di sana,” kata perempuan yang lebih akrab di sapa Papuq Irah itu.

Sembari terus mengelus lututnya Papuq Irah ingat betul. Bagaimana gelora dadanya ingin ikut kampanye Prabowo di Lapangan Karang Pule, Selasa (26/3) lalu. Sekalipun dengan keterbatasan tenaga yang ada, ia tetap ngoyo datang ke tempat itu. Lalu ikut berteriak mengelu-elukan nama Prabowo, bersama warga yang tumpah ruah di lapangan itu.

“Saya memang pendukung Prabowo, lihat saja itu,” tunjuknya sambil memperlihatkan beberapa stiker dan kalender Prabowo dan Partai Gerindra.

Stiker itu sudah dipasang jauh-jauh hari sebelum Prabowo datang. Papuq Irah mengenal Prabowo dari televisi butut di dalam kamarnya. Saban hari ia menonton televisi bersama kucingnya yang telah punya anak empat ekor. “Iya saya tinggal dengan kucing-kucing saya,” akunya, sembari terkekeh.

Papuq Irah sebenarnya sudah tidak ingin membahas tentang video viral itu lagi. Terlalu banyak orang yang datang dan bertanya dan ia merasa lelah mengulang jawaban yang sama. Sampai harus sumpah segala. Tapi pada Lombok Post ia kembali luluh, bercerita duduk persoalannya.

“Ia memang ngotot ingin ikut, ‘siapa tahu saya bisa salaman sama pak Prabowo (kata Papuq Irah)’,” timpal Ibu Farida, sahabat PapuqIrah yang siang itu datang juga ke kontrakannya.

Farida sedikit tahu tentang peristiwa itu. Ia kebetulan ikut bersama Papuq Irah ketika Prabowo datang kampanye ke Kota Mataram.

Sebelum meminta Papuq Irah melanjutkan cerita, Lombok Post memutar ulang videonya yang viral bersama seorang remaja yang disebut-sebut bernama Irfan. Usai diputar, dengan berlinang air mata Papuq Irah, menyebut video itu ia sebut hanya bercanda. Bentuk keakraban antara nenek dan cucu. Ia tak pernah menyangka bila pada akhirnya video itu akan jadi pembahasan banyak orang. Keterbatasan pengetahuannya tentang cara kerja teknologi saat ini membuat Papuq Irah, menyesali telah mau saja direkam menggunakan smartphone kala itu. “Kita bercanda-bercanda,” sebutnya.

Tapi ia kembali bersumpah. Prabowo yang ia kagumi tidak pernah memberinya sepeser pun uang seperti dalam pengakuannya. Bagaimana bisa diberi? Orang-orang yang hadir dalam kampanye, tentu dengan mudah akan melihat dan merekam, ia dapat uang dari Prabowo. Jika pemberian itu, langsung di atas panggung.

Sedangkan sejak ia naik dari panggung sampai turun lagi, Prabowo tidak pernah beringsut dari tempatnya berdiri, di sana. “Sepeser pun secuilpun tidak ada,” tegasnya.

Ia pun tak pernah menyangka. Jika kesempatan ingin berjabat dengan Prabowo itu tiba-tiba jadi kenyataan. Bahkan lebih dari itu, ia punya kesempatan istimewa berdiri berdua di atas panggung. Lalu menitipinya harapan agar ia menang dan jadi Presiden.

Mengapa Papuq Irah sangat ingin Prabowo jadi Presiden?

Rupanya, selain ia yakin Prabowo bisa bawa bangsa ke arah lebih baik, papuq Irah punya alasan sendiri. Alasan ini erat kaitannya dengan perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku. “Saya sebenarnya bukan orang asli sini, tapi saya dari Ujung Pandang, Makassar,” kisah Papuq Irah.

Saat ia masih berumur 10 tahun dan duduk di kelas 3 SD, ibunya meninggal, di Makassar. Hatinya hancur kehilangan sang ibu tercinta. Di usia yang masih sangat belia. Belakangan kemudian, sang ayah kemudian dapat tugas khusus untuk ke Mataram, Lombok. “Ayah saya seorang Opasus, kalau sekarang polisi,” kisahnya.

PapuqI Irah menyebut Opasus. Tapi mungkin maksudnya adalah Opsus. Akronim dari Operasi Khusus. Opsus adalah Lembaga Intelijen di masa Orde Baru di bawah pimpinan Ali Moertopo.

Tugas negara itu akhirnya membawa Papuq Irah kecil bersama sang ayah tiba di Mataram. Tapi saat ia baru saja duduk di kelas 1 SMP, ayah yang ia cintai menyusul ibunya ke alam kubur. “Saya pun jadi anak sebatang kara,” ujarnya.

Kehilangan sosok ayah yang tegas dan disiplin, membuat Papuq Irah rapuh. Di usia belia ia pun telah luntang-lantung mencari sesuap nasi dengan bekerja serabutan. Ia begitu menganggumi sang ayah.

Sosok yang tegas dan sangat jelas perintahnya. Jiwa militer dalam diri ayahnya begitu kuat memancar. Hingga mampu mendamaikan hatinya, sekalipun ia tak punya ibu.

“Karenannya saat pak Prabowo memeluk saya, rasanya seperti dipeluk ayah saya,” ujarnya berkaca-kaca.

Ia merasa ayahnya hidup kembali. Dalam pancaran semangat Prabowo. Ia merasakan damai yang begitu kuat. Setelah puluhan tahun dipisahkan, oleh takdir. Karena itu, memilih dan mendukung Prabowo menjadi presiden bagi Papuq Irah, sama saja dengan memilih dan mendukung ayahnya sendiri.

“Makanya saya berbisik, ‘bapak harus menang dan jadi presiden’,” ulangnya pada bisikannya ke telinga Prabowo di atas panggung kala itu.

Seusai dapat pelukan istimewa itu, Papuq Irah pun turun. Dengan dibantu beberapa wanita yang memapahnya agar tak terjatuh karena tenaganya yang lemah. Ada beberapa di antara mereka yang akhirnya iba pada papuk Irah. Lalu menyodorinya beberapa lembar uang, sekadar untuk beli es.

“Bukan Rp 500 ribu, tapi Rp 5 ribu, ada yang Rp 10 ribu, mereka kasihan ke saya, mungkin karena saya tua dan kelelahan, apa itu salah?” ujarnya lagi.

Ia merasa dukungannya ke Prabowo, tidak pernah dibeli dan tidak bisa dibeli. Kalaupun tidak ada yang menyodorinya uang, ia tetap akan memilih Prabowo. Karena baginya ia sedang memilih sang ayah. Setulusnya. Apa itu salah?

“Saya keliru (menyebut dalam video) itu cuma Rp 5 ribu, ada yang kasih Rp 10 ribu, karena kasihan, sedekah,” ungkapnya.

Papuk Irah pun menerima. Dan menganggap itu uluran kebaikan. Bukan untuk membeli suaranya. Ia butuh asupan tenaga, dari seteguk es untuk kembali memulung sepulang dari kampanye itu.

“Saya mau tidak mau harus kerja, karena harus bayar kontrakan Rp 500 ribu setiap bulan,” kisahnya.

Jika pemberian beberapa orang yang iba itu salah. Apa orang-orang yang juga kerap iba padanya di jalan saat ia sedang jalan memulung juga salah? Papuq Irah mengaku benar-benar tidak mengerti dengan dunia politik. Di mana orang berbuat baik pada orang tua renta dan ringkih sepertinya, dianggap seperti dosa besar. “Mereka kan cuma sedekah,” ucapnya.

Ia tak ada lagi tempat bergantung dan berkeluh kesah. Dari tiga kali menikah Papuq Irah tak dikaruniai anak. Dua kali menikah dengan pria asal Lombok, dua kali pula ia akhirnya cerai. Terakhir menikah dengan orang Surabaya, suaminya itu pun meninggal dunia. “Saya memang sebatang kara, tapi saya tidak pernah mau menyerah (bekerja),” tutupnya. (*/r7)

Berita Lainnya

Buat Wisata Kuliner Ikan di Sekarbela

Redaksi LombokPost

Muhir Keok, Malik Melenggang

Redaksi LombokPost

Jadup Mulai Ada Titik Terang

Redaksi LombokPost

Aneh, Usulan Perda Koperasi Dihapus Begitu Saja

Redaksi LombokPost

Zohri Kembali Pertajam Rekor Jadi 10,13 Detik

Redaksi LombokPost

Partai Beringin Panas Dingin

Redaksi LombokPost

Gubernur Bantah Ucapkan Selamat kepada Calon Presiden Tertentu

Redaksi LombokPost

Gubernur Zul Yakin Jokowi Tak Cuekin NTB

Redaksi LombokPost

Kebutuhan Uang Selama Ramadan Rp 2,9 Triliun

Redaksi LombokPost