Lombok Post
NASIONAL

2 Tahun Tersangka, Markus Nari Ditahan

Anggota Komisi VIII Markus Nari ditahan KPK, Senin (1/4/19) Markus ditahan terkait kasus EKTP. FOTO : FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

JAKARTA–Anggota Komisi VIII DPR Markus Nari tak banyak berkomentar ketika keluar dari ruang pemeriksaan. Sambil berjalan menuju kendaraan tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), politisi Partai Golkar yang berstatus tersangka kasus kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) itu terlihat beberapa kali hanya melempar senyum ke arah awak media.

            Penyidik KPK memutuskan menahan Markus Nari, kemarin (1/4). Penahanan sekitar pukul 19.55 itu dilakukan setelah hampir dua tahun Markus menyandang status tersangka. Dia disangka merugikan keuangan negara bersama-sama dua pejabat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Irman dan Sugiharto, dalam kasus kakap e-KTP.

            KPK sebelumnya juga menetapkan Markus sebagai tersangka dalam kasus menghalangi penyidikan (obstruction of justice). Anggota dewan yang terpilih dari daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Selatan (Sulsel) III tersebut disangka mempengaruhi politisi Partai Hanura Miryam S. Haryani untuk memberikan keterangan tidak benar di Pengadilan Tipikor Jakarta pada 2017 lalu.

            Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, pihaknya menahan Markus untuk 20 hari pertama. Markus ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) KPK di Gedung Penunjang Kavling 4 (K4). Penahanan itu dilakukan karena pertimbangan subjektif dan objektif penyidik. ”Penahanan dilakukan untuk keperluan penyidikan,” ujarnya.

            Penahanan Markus menunjukan sinyal bahwa KPK tengah melanjutkan kembali kasus e-KTP. Sejauh ini, sudah ada tiga orang anggota DPR yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Selain Markus, sebelumnya KPK juga menetapkan mantan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) dan mantan anggota Komisi II DPR Miryam S. Haryani.

            Perkara Setnov dan Miryam telah berkekuatan hukum tetap (inkracht). Setnov dijatuhi hukuman 15 tahun penjara dan ditahan di Lapas Sukamiskin, Bandung, untuk perkara pokok e-KTP. Sementara Miryam divonis lima tahun penjara terkait dengan kasus obstruction of juctice. Miryam kini mendekam di Lapas Perempuan Klas IIA Jakarta atau Lapas Pondok Bambu. (tyo/JPG/r8)

Berita Lainnya

Polri Klaim May Day Aman

Naruhito Resmi Duduki Takhta Krisan

Proses Visa Dimulai, Kemenag Kumpulan Paspor Jamaah

Bambang Haryo Desak Kemenhub Tunda Operasional Bandara NYIA Kulon Progo

Jokowi dan Sandi Langsung ke Saudi

Redaksi LombokPost

Jangan Ada Hoax dan Kecurangan! SBY dan Ibu Ani Nyoblos di Singapura

Redaksi LombokPost

Sisi-Sisi ”Capres-Cawapres Juga Manusia” dalam Rangkaian Debat Pilpres 2019

Redaksi LombokPost

Adu Kuat Babak Akhir, Jokowi Ma’ruf Akan Sajikan Hal Baru, Prabowo-Sandi Mengalir Tanpa Hafalan

Redaksi LombokPost

Prabowo Janjikan Perubahan di Depan Lautan Manusia

Redaksi LombokPost