Lombok Post
Feature

Di Balik Dinding Pembuatan Antivenom Negeri Gajah Putih

HANYA UNTUK PROFESIONAL: Pawang ular beratraksi di Zona Naka Theatre, Bangkok, Thailand. FOTO AMRI HUSNIATI/JAWA POS

Tidak hanya produktif menghasilkan antivenom, Thailand membuktikan sukses menekan angka kematian karena gigitan ular. Korban meninggal tak lebih dari dua orang per tahun. Apa rahasianya?

AMRI HUSNIATI, Thailand

=====================

JULI tahun lalu Rizky Ahmad, pemuda 19 tahun yang tinggal di Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekanraya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, digigit king cobra peliharaannya di ajang car free day (CFD) di Bundaran Besar Palangka Raya. Nyawa Rizky tak tertolong meski sempat dirawat di RSUD Doris Sylvanus.

Mundur lagi dua tahun, ada Irma Bule yang kematiannya tak kalah tragis. Penyanyi dangdut yang punya nama asli Irmawaty itu tewas setelah dipatuk king cobra saat manggung.

Dua kematian tersebut hanyalah sebagian kecil dari insiden yang bermula karena korban sengaja berakrab-akrab dengan hewan berbisa. Parahnya, mereka tidak siap dengan risikonya. Yaitu kematian.

Ya, memelihara ular berbisa itu berarti memang harus siap dengan kondisi jika sewaktu-waktu terjadi insiden. Paling buruk, digigit. Sayang, fakta di tanah air menunjukkan bahwa mereka yang ”berurusan” dengan ular ternyata tak ada satu pun yang siap dengan antivenom.

Lantas, jika ada kejadian digigit ular bagaimana? Padahal, untuk ular berbisa, pengobatan paling tokcer ya diinjeksi antibisa ular. Jangankan Rizky, kebun binatang di Indonesia yang punya koleksi sejumlah ular berbisa pun hingga kini tidak mengantisipasi jika terjadi insiden tersebut.

”Belum ada kebun binatang di Indonesia yang punya stok antivenom,” ujar Dr dr Tri Maharani MSi SpEm, pakar snake bite dan toksikologi Indonesia.

Jika ada kejadian, ya korban dilarikan ke rumah sakit. Ironisnya, hanya segelintir rumah sakit di tanah air yang punya antivenom. Itu pun jenisnya sangat terbatas. Sebab, Indonesia baru punya satu antivenom polivalen.Kondisi itu jauh berbeda dengan Thailand. Negeri Gajah Putih tersebut punya 7 antivenom monovalen plus 2 antivenom polivalen. Ditambah manajemen penanganan korban gigitan ular maupun binatang beracun lain, sudah tertata rapi.

Ada Ramathibodi Poison Center yang siap melayani 24 jam. Cukup dengan tekan hotline 1367. Call center itu tidak sekadar menjadi ”dinas penerima pengaduan”. Lembaga tersebut juga siap dengan solusi. Untuk korban gigitan ular, misalnya. Di sana sudah disediakan lemari penyimpanan khusus antivenom.

Mereka juga punya Thailand antidote network yang dibikin bertahap. Pada 2015 baru ada di Udon Thani, Tak, dan Chiang Mai. Tahun berikutnya bertambah di Rayong, Surat Thani, serta Nan. Pada 2017 dibikinlah di Songkha dan 2018 di Saraburee.

Dengan jaringan yang terhubung dari utara hingga ke selatan itu, mereka tahu rumah sakit mana saja di seantero Negeri Seribu Pagoda tersebut yang punya antivenom. Juga, berapa banyak stok yang dimiliki masing-masing.

Jadi, jika ada korban gigitan ular, misalnya, yang tinggal di kawasan Thailand Selatan, mereka tak perlu jauh-jauh menanti kiriman antivenom dari Bangkok. Sebab, ada rumah sakit di sisi selatan yang punya stok dan siap menangani. ”Semua korban gigitan ular itu ditangani gratis oleh rumah sakit. Negara yang menanggung,” jelas Panee dari Ramathibodi Poison Center.

Kesigapan penanganan korban gigitan ular memang ikut menentukan kelangsungan hidup korban. Apalagi jika yang menggigit itu ular berbisa jenis tertentu. Terlambat sedikit, nyawa melayang.

Seperti yang terjadi pada Rizky itu. Sudah ditangani medis. Namun, pihak rumah sakit belum punya serum king cobra. Kala antivenom akhirnya datang, terlambat sudah. Rizky telah meninggal secara klinis.

Bayangkan jika yang menggigit itu king cobra. Sementara di Indonesia SABU (serum antibisa ular) jenis tersebut belum diproduksi. Yang ada barulah antivenom polivalen untuk gigitan ular tanah, welang, dan kobra. Padahal, beda jenis ular berbisa, beda pula penawarnya.

Memang antivenom itu bisa dibeli di luar negeri, tapi kan butuh waktu untuk mendatangkannya. Seperti yang beberapa kali dilakukan dr Maha. Jauh-jauh dia terbang ke Bangkok, Thailand, hanya demi mendapatkan antivenom. Sebab, Thailand punya lebih banyak jenis penawar racun ular tersebut. ”Begitu sampai di Bandara Suvarnabhumi, saya langsung ke Palang Merah Thailand untuk ambil antivenom ini. Setelah itu, balik ke bandara dan langsung terbang ke Indonesia lagi. Karena sudah ditunggu pasien yang sedang kritis karena digigit ular,” kenang dokter lulusan Universitas Brawijaya Malang itu.

Kesadaran pentingnya punya antivenom tersebut juga dimiliki Siam Serpentarium. Objek wisata edukatif di luar Kota Bangkok itu punya sejumlah koleksi ular yang jinak hingga yang berlabel merah alias berbahaya. Misalnya, king cobra (Ophiophagus hannah), malayan krait (Bungarus candidus), dan banded krait (Bungarus fasciatus). Mereka memelihara ular-ular berbisa itu, tapi juga siap dengan penawarnya.

Berkat riset mendalam disertai produksi antivenom serta manajemen snake bite yang keren itulah, Thailand berhasil menekan angka kematian korban gigitan ular. ”Pada 1950-an kematian akibat gigitan ular ini mencapai 178 per tahun. Namun, kurun 2008–2016, sudah sangat jauh berkurang. Kurang dari 2 orang per tahun,” jelas Prof Dr Sumana Khomvilai dari Queen Saovabha Memorial Institute yang menjadi bagian dari Palang Merah Thailand.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? ”Tahun 2017 yang tewas karena gigitan ular ini 35 orang. Dan, tahun berikutnya melonjak menjadi 45 orang,” kata Maha yang juga penasihat WHO dalam hal gigitan ular itu.

Indonesia menjadi negeri ”sarang ular”. Betapa tidak, ada 348 jenis ular, 76 di antaranya berbisa. Sudah saatnya dibangun pusat riset untuk binatang berbisa. Juga, diproduksi lebih banyak macam antivenom.

Memang, seperti dikatakan Sumana, produksi antivenom itu tidak mudah. Biayanya pun sangat mahal. Namun, untuk urusan nyawa, apakah pemerintah masih terus berhitung untung dan rugi? Sebab, ini bukan bisnis. (*/c10/git/JPG/r6)

Berita Lainnya

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Mantap, Polterkpar Lombok Masuk PATA

Redaksi Lombok Post

Makan Limbah, Ikan Jadi Berkelamin Ganda

Rebecca Alexandria Hadibroto, Dua Tahun Berturut-turut Juarai Kejuaraan Balet Dunia

Para Orang Tua yang Membantu Anak Menapaki Jalan Sukses di Festival Akuatik Indonesia

IPK 4 Dapat VIP, di Bawah 3 Nonton YouTube

Ngajinya Bagus Meski Tubuh Dirajam Tato

Redaksi LombokPost

Seharian di Rumah Tengah Hutan Komika Dodit Mulyanto

Redaksi LombokPost