Lombok Post
Headline Lapsus Metropolis

Singa-singa Mimbar, Melawan Lunturnya Tuah Dakwah

SINGA MIMBAR: Ustad Badruttamam Ahda sedang berdakwah, beberapa waktu lalu.

Mereka tetap berdiri tegak, sekalipun teknologi telah merebut jamaahnya. Mereka berteriak lantang sekalipun telinga, mata, dan hati orang-orang enggan mendengar petuah bijaknya.

—————————–

DULU dan kini tak sama lagi. Dulu, mimbar begitu agung dan terhormat. Hingga orang-orang segan mendekati apalagi berdiri di sana. Tapi kini mimbar, tak ubahnya kotak kayu yang di sana bisa ‘beratraksi’ siapa saja.

Dulu, mimbar tempat berdiri para pendakwah berilmu. Serta pendakwah yang dinilai berakhlak mulia. Mereka yang memiliki, karisma yang mampu menyedot ratusan hingga ribuan jamaah. Duduk khusyuk mendengar setiap kata mulia.

Tapi kini, mimbar-mimbar banyak ditinggalkan jamaah. Ruang itu telah direbut kemajuan peradaban teknologi. Semisal televisi hingga smartphone.

Di ibu kota, mimbar nyaris hanya tersisa bagi para pengkhotbah jumat. Satu lagi, bagi penceramah di hari-hari besar agama. Tapi mimbar-mimbar bagi para pendakwah usai salat jamaah, seiring waktu luntur dan mulai ditinggalkan. Apakah kelak mimbar jumat dan hari besar pun akan ditinggalkan?  “Semoga tidak,” kata TGH Mustamiuddin Ibrahim.

Ia salah satu singa mimbar. Sampai saat ini masih bersuara lantang. Sekalipun situasi peradaban manusia sudah berubah total, Ibrahim masih berdiri di sana mengajar tentang akhlak dan jalan kebaikan. Sekalipun lebih banyak orang yang tak mendengarkannya daripada yang tekun mendengar nasihatnya.

Terlalu dini mengkhawatirkan ini? Tidak. Keresahan ini memang sudah saatnya. Ibrahim cemas melihat bagai langit dan bumi ini. Dulu mimbar selalu jadi primadona bagi para pencari kedamaian dunia dan kehidupan mulia di akhirat. Tapi, kini semua beralih menikmati pesatnya teknologi dunia. “Orang lebih sibuk memegang HP, daripada dengar ceramah, ini kenyataan,” sebutnya.

Dulu bila ada yang ceramah. Orang-orang duduk takzim mendengar ajakan-ajakan kebaikan. Tak ada yang berani bersuara, takut ada kata mutiara yang terlewat. Satu dua jam mendengar ceramah rasanya sungguh singkat.

Tapi kini tidak lagi demikian. Bilapun ada yang dengan setia duduk di depan mimbar jumat, setelah pulang banyak yang melupakan prinsip-prinsip ajaran kebaikan. Ajakan kebaikan itu, telah bergeser nilainya. Bukan lagi dianggap sebagai petuah dan penerang jalan hidup. Tapi seolah dianggap dongeng yang belum tentu menjadi kenyataan.

“Tapi saya tentu tidak akan menyerah dan meninggalkan mimbar, saya akan terus lakukan. Entah mereka mau dengar atau tidak,” ujar pria sepuh yang telah memulai dakwah sejak tahun 1963.

Bagi Ibrahim, kebaikan tidak boleh berhenti disuarakan. Bila berhenti salahnya ada pada mereka yang akhirnya memilih diam. Mimbar boleh saja diabaikan, mimbar boleh saja ditinggalkan, mimbar boleh saja hanya terisi beberapa orang ruang di depannya. “Tapi suara kebaikan tetap harus dikumandangkan!” tegasnya.

Ketua Majelis Fatwa MUI NTB ini menyadari. Menyuarakan kebaikan dari balik mimbar di kota yang pembangunan pesat sungguh tidak mudah. Ada sejuta alasan orang-orang untuk menghindari duduk di depan mimbar. Mulai dari sibuk karena pekerjaan hingga menganggap saat ini bukan lagi zamannya duduk di depan mimbar.

Penduduk kota begitu sibuk mengejar materi. Sampai melupakan pendidikan mental dan moral bagi dirinya dan keluarganya.

“Ada anak membunuh ibunya, ada anak memperkosa sudaranya,” ujarnya miris.

Dan banyak lagi, kasus kriminal yang semakin intes didengar. Ini menurut Ibrahim, dampak buruk dari geliat pembangunan. Di mana perhatian orang pada nilai-nilai luhur agama, turun. Berganti dengan ego memburu materi yang meninggi.

“Mereka sibuk mengejar urusan dunia hingga mendorong persaingan sengit, menghalalkan segala cara. Kehidupan macam inikah yang ingin dikejar manusia?” kritisnya.

Ibrahim merasa saat ini, begitu sulit berdiri di depan anak-anak muda. Lalu menceritakan tentang akhlak baik dan budi pekerti pada mereka. Teknologi telah merampas, kesempatan itu. Lalu para anak muda dengan mudah mengakses informasi yang sebenarnya tidak baik bagi kesehatan berpikir mereka.

“Tapi sungguhpun itu sulit, kita selalu punya harapan untuk memperbaiki ini semua,” ungkapnya.

Ia belum mau menyerah. Menegaskan komitmennya, untuk selalu hadir hadir dan lantang berteriak dari mimbar ke mimbar. Ia yakin suatu saat titik jenuh itu akan tiba. Di mana orang-orang akan sadar tradisi mencari ilmu dari depan mimbar, masih jadi cara terbaik untuk menyerap ilmu akhlak dan kebaikan.

“Kita berceramah, tapi  orang-orang sibuk pegang HP, itu biasa sekarang. Kalau dulu mana berani,” cetus sosok sepuh, salah satu murid emas almagfurullah Maulanasyaikh Zainuddin Abdul Majid itu.

Aumannya tentang kebaikan, tetap akan ia lantangkan. Apapun dan bagaimanapun kondisi para jamaah. Pria asal Suralaga, Lombok Timur yang kini tinggal di kota ini mengakui ini memang tidak mudah.

Tapi sejatinya sebagai ladang amal kebaikan yang terbentang luas bagi para pengajar ilmu kebajikan.

“Saya menaruh harapan besar, pada dai-dai kita yang muda, untuk tidak menyerah melihat kondisi generasi kita yang malas hadir dalam mimbar-mimbar agama,” harapnya.

Lalu modal yang ia harapkan berikutnya yakni hadirnya sistem pemerintahan yang lebih tegas. Berwibawa. Serta bisa menindak setiap pelanggaran dengan sepantasnya. Karena hanya dengan cara itu, Ibrahim yakin marwah mimbar akan kembali lagi. Sebagai salah satu madrasah terbaik untuk mengajarkan akhlak dan ilmu agama pada generasi masa kini.

Jika Ibrahim mewakili keresahan para singa-singa mimbar yang telah sepuh. Maka, ada perwakilan singa mimbar muda yang masih setia juga menyuarakan ajakan mulia.

Dari sekian banyak dai di kota yang terus konsisten mengajak pada kebaikan itu, Ustad Badruttaman Ahda, salah satu yang menolak menyerah melihat kondisi ini. Bagi putra tertua Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, Ahda memilih jalan dakwah membangun masyrakatnya. “Kita telah kehilangan semangat dakwah di ibu kota,” kata Ahda.

Ahda tidak hanya bersuara lantang dari mimbar-mimbar. Menjadi singa muda yang mengaum, melawan terpuruknya akhlak masyarakat. tapi ia juga mencoba memodifikasi dakwahnya dengan misi sosial melalui AA Fondation.

Tantangan yang berbeda, meniscayakan cara yang lebih kreatif pula menganganinya. Pria jebolan, Al Azhar Mesir ini yakin. Semaju-majunya Kota Mataram dengan pembangunanya.

Pada akhirnya tetap membutuhkan benteng agama dan akhlak, untuk membuat masyarakat tidak lupa diri dan kebablasan dan kehidupannya.

“Tantanganya tidak mudah, sebab kita dituntut memberikan pengetahuan yang lebih menarik di banding apa yang generasi masa kini bisa dapatkan dengan mudah melalui teknologi smartphone,” ulasnya.

Mindset warga kota memang banyak yang bergeser jauh. Warga kota terjebak dalam kehidupan yang serba materialistik. Terjebak pada kuantitas bukan kualitas.

“Ada nilai luhur yang luntur, di tengah sibuknya masyarakat kota mengejar hal-hal yang bersifat keduniawian,” ungkapnya.

Maka tak heran. Bila, ada si kaya yang selalu merasa miskin. Tanpa risih ikut berebut logistik saat ada bantuan yang datang. Si kaya pun tanpa malu, menadahkan tangan dengan gelang emas melingkar di lengan, bersaing dengan tangan-tangan lusuh nan kurus dari si miskin.

Maka mimbar-mimbar agama, adalah tempat bersuara lantang sebaik-baiknya tentang kekeliruan ini. Walau tantangannya tak akan mudah. Tidak hanya sekadar mengajak masyarakat mengubah karekternya, tetapi mendorong agar mereka mau hadir dalam mimbar-mimbar kebaikan. (zad/r5)

Berita Lainnya

Hadapi Kekeringan dengan Sumur Dangkal

Redaksi LombokPost

Jangan Jadi Generasi Pil Koplo!

Redaksi LombokPost

Kalau Begini kan Enak! Trotoar Jembatan Jangkuk Steril dari Motor

Redaksi LombokPost

Mataram Butuh Pemimpin Tegas

Redaksi LombokPost

Honda Luncurkan Skutik Casual Fashionable, Genio

Total 1.691 Warga NTB Digigit Anjing Gila

Redaksi LombokPost

Adik Gubernur Didorong Maju di Pilbup Sumbawa

Redaksi LombokPost

Cerita Agus Fahrul, Membawa Ratusan Anak Yatim Piatu Belanja Baju Lebaran

Redaksi LombokPost

Daging Impor Serbu Mataram

Redaksi LombokPost