Lombok Post
Selong

Muhammad, Tukang Cukur Konvensional di Tengah Maraknya Barbershop

TUKANG CUKUR: Muhammad, tukang cukur konvensional dari Rempung sedang memangkas rambut pelanggannya di perempatan Desa Rempung, Kecamatan Sukamulia, belum lama ini.

Lapak pangkas rambut Muhammad sudah 45 tahun terbuka. Setiap hari, lelaki paro baya dari Desa Rempung, Kecamatan Sukamulia itu memastikan diri bekerja. Mencari empat lima kepala. Dengan bayaran seikhlasnya. Tak peduli, kepungan barbershop yang menjamur di sekelilingnya.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

==============================

Di depan masjid Rempung, tepatnya di samping warung makan sederhana, Muhammad membuka lapak pangkas rambutnya. Sebuah cermin, bangku, dan kotak berisi peralatan pangkas rambut jadul.

Seorang pelanggan sedang duduk di hadapan cermin. Tubuhnya terbungkus kain pelindung yang tipis dan direkatkan dengan penjepit jemuran. Kain itu berwarna biru muda, penjepit jemuran berwarna merah. Di kotak peralatan, terdapat tiga buah mesin cukur yang masih membutuhkan tenaga manusia. Tanpa listrik. Sisanya ada pisau cukur, kuas pembersih, dan beberapa kebutuhan tambahan lainnya. “Semuanya masih yang saya pakai dulu,” kata Muhammad.

Muhammad sudah mencukur ribuan kali rambut lelaki di desanya. Mereka yang kini berusia sekitar 50 tahun ke atas, tak ada yang tak mengenal namanya di Rempung. H Syamsul yang hari itu sedang duduk menunggu giliran di pangkas mengakui kemasyhuran Muhammad sebagai tukang cukur di desanya.

Tak hanya karena lamanya, kata Syamsul, Muhammad juga dikenal karena tarif yang dipasangnya. “Dari dulu sampai sekarang, dia tidak pernah mematok harga,” kata Syamsul.

Muhammad menimpali, berapapun ia terima. Bisa Rp 5 ribu, bisa Rp 10 ribu, bisa juga lebih dari itu. Kadang ada juga yang Rp 20 ribu. Tergantung keikhlasan. Ditanya mengapa, Muhammad tak menjawab. Ia hanya menegaskan jika memang benar, ia tak pernah ingin mematok harga. Saat pasien pertama selesai dicukur, Muhammad tak melihat berapa uang yang diberikan. Ia langsung memasukkannya ke dalam kantong.

Berarti harus uang pas? Tidak juga. Muhammad orangnya senang bercanda dan komunikatif. Ia menjelaskan apapun dengan jelas dan jujur. Ditanya mengenai kapan berhenti, ia menjawab sampai tangannya tak mampu lagi menekan alat cukur.

Selama ini, ia bertahan dengan hasil seadanya. Menurutnya, tidak ada perubahan. Meski barbershop menjamur dengan mesin dan gaya rambut zaman now. Baginya, ia masih mempunyai pelanggan. “Saya tidak bisa gaya sekarang. Yang saya bisa gaya lama saja. Kalau yang tipis-tipis, model polisi dan tentara,” terangnya.

Dulu, Muhammad selalu menjadi buruan mereka yang ingin mendaftar menjadi polisi atau tentara. Tapi sekarang sudah ada barbershop. Gaya rambut polisi dan tentara yang jauh lebih keren mungkin sudah ada.

Di antara semua tukang cukur yang pernah ada di Rempung, Muhammad merupakan satu-satunya tukang cukur yang masih bertahan. Bermodal sekotak peralatan cukur tua, dengan rasa berbagi yang tinggi. Memberikan siapapun datang dan setelah memiliki rambut gaya baru. Mereka boleh membayar berapapun. Seikhlasnya. (*/r5)

Berita Lainnya

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Ramai-ramai Berburu Takjil

Gara-Gara Kritis, Aldi Tak Diluluskan Sekolah

Dua Pelaku Curas Tertangkap, Dua Masih Buron

Redaksi LombokPost

Pekan Depan Pembangunan Taman Rinjani Mulai Dilelang

Redaksi LombokPost

Para Penjaga Rumah Allah di Gumi Patuh Karya (2)

Redaksi LombokPost

Jalan Rusak Picu Lakalantas

FPR Minta Amaq Har Dibebaskan

Tolong, Mata Kiri Nadir Diserang Tumor