Lombok Post
Selong

Lebih Dekat dengan Camat Selong Bq Farida Apriani

BERMAIN TENIS: Camat Selong Bq Farida Apriani sedang bermain tenis di GOR Selaparang Selong, belum lama ini.

Seorang camat tak hanya dituntut pandai melakukan fungsi pembinaan dan pengawasan, melainkan juga gemar blusukan. Kehadiran pemimpin di tengah masyarakat terkadang dianggap lebih penting daripada menyelesaikan masalah besar dari meja kantor.  Lantas bagaimana seorang Bq Farida Apriani bisa hadir pada waktu-waktu yang tak menentu itu?

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

==============================

Dalam agama Islam, perempuan memiliki waktu yang melarangnya masuk ke dalam masjid. Masa ketika tak suci atau menstruasi menjadi kendala tersendiri bagi camat perempuan menghadiri undangan yang acaranya digelar di masjid. Mendapat pertanyaan semacam itu, Bq Farida Apriani tersenyum.

Perempuan yang baru satu bulan lebih menjabat sebagai Camat Selong itu duduk manis di kursi plastik yang tersedia di halaman kantornya. Di luar gemuruh dan kilat petir sesekali menyapa. Hujan besar sebentar lagi akan turun. Camat yang sebelumnya menjabat sebagai Kabid Perdagangan di Dinas Perdagangan Lotim itu segera mengingat buruknya saluran drainase.

Tapi sebelum itu, sembari menghabiskan jam istirahat siang, ia menceritakan puluhan undangan Isra’ Mikraj yang dihadiri. “Satu hari terkadang ada dua sampai tiga acara. Jadi memang tidak semuanya bisa saya hadiri,” kata Farida.

Perempuan kelahiran 1967 mulai berseragam dinas sejak tahun 1987. Ia pernah menjabat sebagai Kabid Pemberdayaan Perempuan di DP3AKB Lotim, Sekcam Selong, Kabid Perdagangan di Disdag, dan yang terakhir Kabag Humas Lotim. Sebelum sekarang menjadi camat.

Ia bukan tipe pegawai yang berkamus rumah-kantor. Melainkan juga menyediakan sedikit banyak waktu untuk lapangan. Olahraga memang merupakan hobi yang melekat di dirinya. Tenis lapangan dan bola voli merupakan dua olahraga yang digemarinya. “Waktu libur lebih banyak saya luangkan di lapangan,” kata pengurus Pelti Lotim itu.

Jelang pemilu nanti, ia sudah mempersiapkan jadwal untuk melakukan patroli malam dengan Polres Lotim dan Kodim 1615. Mulainya bisa pukul 10 sampai 11 malam. Menurutnya, waktu tidak jadi soal. Begitu juga dengan kondisi di lapangan. Lagi pula, sebagai pencinta olahraga, ia sudah terbiasa bekerja, berdiskusi, bahkan bertarung di lapangan tenis dengan laki-laki. “Kalau waktu malam bukan masalah bagi saya, selama saya bisa, akan saya lakukan,” terangnya.

Namun justru yang terberat datang dari dirinya sendiri. Bukan lapangan yang dikatakan orang sering kali menjadi kendala seorang pemimpin perempuan. Kata Farida, kendala dari dalam yang dimaksud lebih kepada usaha untuk bekerja dengan maksimal.

Selama ini yang ia lakukan adalah berusaha merasa menghadirkan rasa nyaman. Sebab prinsipnya adalah, orang harus merasa nyaman di tempatnya bekerja. Setelah itu, barulah hasil kerja bisa maksimal. “Di manapun dan kapanpun saya bekerja, yang saya usahakan adalah berusaha menikmati dan terus belajar untuk bisa memberikan yang terbaik,” ujarnya. (*/r5)

Berita Lainnya

Calon Pejabat Mulai Diseleksi

Redaksi LombokPost

Kinerja Dewan Mengecewakan, Pembahasan Raperda Sangat Minim

Redaksi LombokPost

Edukasi Warga lewat Game Android

Redaksi LombokPost

Dikbud Gagalkan Pernikahan Dini Jelang UN

Redaksi LombokPost

Kepala Disnakertrans Paling Diminati

Redaksi LombokPost

Dinsos Usulkan Tambahan 18 Ribu KK Penerima Jadup

Redaksi LombokPost

M Rido Abdillah, Penderita Tumor Ganas di Rahang dan Mata

Redaksi LombokPost

KPU Laksanakan Rekomendasi Bawaslu

Redaksi LombokPost

Ratusan Guru Jadi PPS dan PPK

Redaksi LombokPost