Lombok Post
Metropolis

900 Lebih RTG Sudah Berdiri

TERUS DIKEBUT: Seorang warga membangun RTG jenis Riko di Lingkungan Pengempel Indah, Kota Mataram, kemarin (12/4).

MATARAM-Kemarin (12/4), jadi hari terakhir masa perpanjangan transisi pengerjaan huntap Rumah Tahan Gempa (RTG). Tapi tidak sedikit juga korban bencana belum memulai sama sekali pembangunan. Lantas seperti apa perkembangan terkini proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa?

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Mataram HM Kemal Islam mengklaim pembangunan RTG sudah mendekati seribu rumah. “Di angka 900 lebih, pokoknya Mataram paling top-lah,” ujar Kemal percaya diri.

Kemal mengatakan, punya definsi sendiri. Terkait keluarga yang telah menerima bantuan dan membangun rumah. Sehingga masuk dalam data 900 lebih rumah yang tuntas dikerjakan.

Rumah yang harus dibangun adalah tipe 36. Dalam hitungan Kemal, rumah dengan luasan ini seharusnya cukup dibangun dengan dana Rp 50 juta. Meliputi atap, dinding, dan lantai yang dirabat kasar. “Tapi kalau pemiliknya mau tambah keramik, plafon, dan beberapa ornamen rumah lain, idealnya memang Rp 70-75 juta,” ulasnya.

Karenanya, ia menghitung jumlah keluarga yang telah menerima bantuan Rp 50 juta dan telah menghabiskan dana itu untuk membangun mencapai 900 lebih. Persoalan, masih ada rumah yang dikerjakan, sekalipun dana yang tertulis di Rencana Anggaran Biaya (RAB) sudah habis. Artinya, menggunakan dana swadaya masyarakat sendiri. “Tapi intinya kita hitung sudah selesai,” terangnya.

Lebih teknis, Kemal mengakui ada beberapa persoalan. Selama dalam proses pembangunan RTG di Kota Mataram. Yakni, terkait harga material bangunan. “Ya namanya hukum pasar ya, ada permintaan meningkat harga jadi naik,” ujarnya.

Ia mencontohkan, misalnya harga batu-bata. Dalam RAB diestimasi Rp 700 ribu per seribu. Tapi ternyata, setelah pembangunan mulai masif dilakukan, harga batu-bata naik menjadi Rp 900 ribu per seribu biji. “Begitu juga dengan pasir, hanya semen yang stabil,” kisahnya.

Tapi persoalan-persoalan teknis itu, akhirnya bisa teselesaikan. Sampai akhirnya kini telah berdiri sekitar 900 lebih RTG. Bahkan, kesuksesan membangun rumah-rumah itu, telah memotivasi beberapa pokmas yang beberapa waktu lalu ragu membongkar rumah-rumahnya untuk memulai membangun.

“Sekarang mereka sudah ramai-ramai bongkar rumahnya sendiri, setelah melihat rumah milik teman-temannya sudah selesai dibangun,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang membenarkan, kemarin akhir dari masa perpanjangan transisi pemulihan berakhir. Namun, Aweng mengatakan, pemerintah pusat kembali memberi kelonggaran menambah waktu perpanjangan.

“Nanti kita tetapkan, bersama pemerintah provinsi dan Korem, sampai kapan waktunya,” kata Aweng.

Yang jelas, BPBD, Perkim, tengah berupaya secepatnya menggenjot agar progres pembangunan huntap RTG di Kota Mataram bisa lebih awal selesai dari deadline. Dikatakan, Aweng sesuai hasil rakor eselon I di Jakarta 8 April lalu, memang ada ketentuan. “Perpanjangan tidak boleh melampaui tanggal 25 Agustus 2019,” terangnya.

Karenannya, seharunya batas waktu perpanjangan nanti, di bawah 25 Agustus. Sehingga, memasuki 25 Agustus semua telah klir. Lalu masyarakat bisa menempati rumah baru mereka. “Ada juga instruksi untuk menambah SDM, agar proses rehab-rekon bisa lebih progesif lagi,” harapnya.

Pemda termasuk Kota Mataram, diberi waktu sebelum Ramadan melakukan verifikasi dan validasi rumah rusak. Lalu mengusulan revisi SK, jika masih ada rumah milik warga yang ternyata belum terdata menerima bantuan. Padahal dari segi fisik rumah, dinilai layak menerima bantuan. “Nanti para pengusaha atau aplikator akan diundang lagi oleh pihak provinsi dan Korem, untuk membahas dan menyanggupi membangun huntian RTG,” ulasnya.

Pemda juga nantinya punya tugas menyediakan dana bantuan biaya transport produksi hunian RTG. Sehingga, diharapkan poses pengerjaan bisa lebih cepat lagi. Sementara PPK BPBD dan BRI, diminta segera melakukan pendebetan. Dana rekening bantuan. “Paling lambat sampai 7 Mei 2019,” tandasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Buat Wisata Kuliner Ikan di Sekarbela

Redaksi LombokPost

Muhir Keok, Malik Melenggang

Redaksi LombokPost

Jadup Mulai Ada Titik Terang

Redaksi LombokPost

Aneh, Usulan Perda Koperasi Dihapus Begitu Saja

Redaksi LombokPost

Zohri Kembali Pertajam Rekor Jadi 10,13 Detik

Redaksi LombokPost

Partai Beringin Panas Dingin

Redaksi LombokPost

Gubernur Bantah Ucapkan Selamat kepada Calon Presiden Tertentu

Redaksi LombokPost

Gubernur Zul Yakin Jokowi Tak Cuekin NTB

Redaksi LombokPost

Kebutuhan Uang Selama Ramadan Rp 2,9 Triliun

Redaksi LombokPost