Lombok Post
Giri Menang

Tradisi Nenggala yang Mulai Tergerus Waktu

WARISAN: Seorang warga Desa Kebun Ayu, Kecamatan Gerung tengah menggiring sapi untuk membajak lahan sawah, Kamis (11/4) lalu.

Masyarakat kini sedang berada di zaman serba mesin. Semua hal dilakukan dengan bantuan mesin. Termasuk membajak sawah mereka. Padahal, dulu masyarakat menggunakan cara nenggala atau berenggala untuk membajak sawahnya.

HAMDANI WATHONI, Giri Menang

============================

Bagi yang lahir di bawah tahun 2000-an, nenggala merupakan cara membajak lahan sawah yang sudah tidak asing lagi. Hampir semua petani menggunakan cara ini untuk mengolah tanah di sawah mereka agar tetap subur. Namun untuk generasi setelahnya, cara ini sudah mulai asing. Karena banyak dari mereka melihat petani membajak sawah menggunakan mesin traktor yang lebih instan dan praktis.

“Karena kalau pakai mesin lebih cepat. Bisa sampai tiga kali lipat, makanya banyak petani yang beralih,” tutur Riman, salah seorang petani di Desa Kebun Ayu kepada Lombok Post.

Menggunakan mesin juga dirasakan lebih praktis. Tidak perlu menggiring sapi menggunakan pecut. Hanya tinggal mengarahkan kendali mesin traktor. Maka dalam hitungan beberapa jam, petak demi petak sawah bisa dibajak. Beda halnya dengan menggunakan tenaga sapi, butuh waktu setengah hari untuk membajak satu petak sawah saja.

“Ya memang agak lama. Karena sapi jalannya kan lamban. Kalau mesin kecepatannya bisa diatur,” akunya memberi penjelasan.

Inilah yang membuat nenggala kalah saing. Hanya segelintir orang yang bisa bertahan dengan cara ini. Sebagian besar peternak sapi yang menyiapkan jasa nenggala memilih banting setir. Mereka lebih tertarik menjalankan usaha penggemukan sapi daripada menyediakan jasa nenggala.

“Kalau nenggala sehari dapat upah sekitar Rp 60 ribu. Itu pun kalau setiap hari ada yang minta. Makanya sekarang lebih menjanjikan usaha penggemukan sapi,” lanjut pria 60 tahun lebih itu.

Sedangkan untuk usaha penggemukan sapi, warga biasanya akan mendapatkan keuntungan per tiga bulan hingga enam bulan. Tergantung kapan mereka mau menjual sapi miliknya. Untuk satu ekor sapi yang biasa dibeli dengan harga Rp 12 juta, dalam enam bulan bisa dijual dengan harga Rp 15 juta hingga Rp 18 juta.

Itu untuk satu ekor saja. Bayangkan jika masing-masing orang memiliki dua sampai empat ekor sapi. Maka keuntungan yang didapat tentu saja berlipat. “Makanya sekarang orang lebih memilih usaha penggemukan. Lebih banyak untungnya,” aku dia.

Namun demikian, Riman berharap tradisi nenggala ini tidak dilupakan. Karena dari warisan cara membajak turun temurun ini sebenarnya banyak yang bisa mendapatkan manfaat. Misalnya saja tukang pandai besi yang membuat alat nenggala hingga tukang kayu. Termasuk juga penggembala sapi. “Tapi sayang, sudah sangat jarang warga yang membajak sawahnya dengan cara ini. Mereka lebih pilih menggunakan mesin,” pungkasnya. (*/r8)

Berita Lainnya

Kelelahan, Enam PPS Tumbang

Redaksi LombokPost

PKS Klaim Raih Kursi di Semua Dapil

Redaksi LombokPost

SMK Plus Nurul Hakim Pelopori Ecobricks

Redaksi LombokPost

Ini Masukan TGH Muharar! Terkait Pergantian Sekda Lobar

Redaksi LombokPost

Pak Camat Sabar Dulu Ya! Terkait Pengadaan Truk Sampah

Redaksi LombokPost

Perbaikan Jalan Gunakan Dana Tak Terduga!

Redaksi LombokPost

Gubernur: Jangan Ada Dendam Politik!

Redaksi LombokPost

Ketika Ibu Bupati Lobar Teteskan Air Mata Melihat Anaknya Dilantik

Redaksi LombokPost

Pulang Kerja, Satpam Meregang Nyawa

Redaksi LombokPost