Lombok Post
Giri Menang

Perkawinan Usia Anak di Sekotong Tertinggi, Disusul Gerung

Erni Suryana

GIRI MENANG-Perkawinan usia anak masih cukup tinggi di Lombok Barat (Lobar). Ini diyakini menjadi pemicu berbagai masalah sosial di tengah masyarakat. Mulai dari tingginya angka perceraian hingga angka stunting maupun gizi buruk yang dialami bayi.

“Kita di Lobar ini menjadi daerah dengan angka pernikahan usia anak terbanyak urutan ketiga di bawah Lombok Timur dan Lombok Tengah,” beber Kabid Pengendalian Penduduk, Penyuluhan  dan Penggerakan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lobar Erni Suryana, Jumat (12/4) lalu.

Dari hasil kajian BKKBN Provinsi NTB, usia perempuan pertama kali menikah sebanyak 56 persen di bawah usia 21 tahun. Kemudian dari pendataan DP3AKB Lobar di 2019, jumlah usia pernikahan di bawah 20 tahun sebanyak 23 persen.

“Yang tertinggi itu Sekotong sampai 301 kemudian disusul Gerung 142 kasus serta Lingsar 116,” paparnya.

Dari jumlah perkawinan di bawah usia 20 tahun tersebut, ada yang menikah mulai usia 16 tahun, 17 tahun, hingga 19 tahun. “Bahkan di salah satu desa itu ada anak kelas 2 SMP mau menikah dengan kelas 2 SMK. Beruntung ini bisa kami dicegah,” tuturnya.

Bisa dibayangkan, jika anak masih usia SMP atau SMA seperti itu menikah, mereka diyakini masih belum siap secara psikologis hingga kesehatan jasmani. Dampaknya bisa berpengaruh terhadap kondisi dan kualitas bayi yang dilahirkan. Mulai dari gizi hingga yang lainnya.

“Ada di dekat rumah saya di Desa Bagik Polak mereka menikah di usia anak. Itu tidak bisa dicegah karena keluarganya bersikeras. Belum beberapa tahun, dia sudah bercerai. Kemudian anaknya dititip di neneknya,” sesalnya.

Hal semacam inilah yang kemudian harus dicegah. Karena jika kondisi bayi dititip pada neneknya, otomatis asupan gizi serta pendampingan kasih sayang tentu tidak didapatkan. Ini akan berpengaruh pada kualitas generasi Lobar di masa mendatang.

“Maka kami sudah menyiapkan program Gerakan Anti Merariq Kodeq (GAMAQ). Operasi Gamaq ini dicanangkan 2016,” paparnya.

Gerakan ini ditindaklanjuti dengan pendampingan masyarakat melalui bidang pendidikan, kesehatan hingga pendekatan agama melibatkan semua tokoh. Sosialisasi digencarkan hingga ke desa-desa memberikan pemahaman dampak pernikahan usia anak.

Terpisah, Camat Gerung Lalu Muliadi tidak menampik perkawinan usia anak di wilayahnya masih cukup tinggi. Hal ini menurutnya disebabkan beberapa faktor. “Memang kondisinya seperti itu. Ini salah satunya dipicu oleh pergaulan bebas dan perkembangan teknologi yang kurang dibatasi,” akunya.

Misalnya saja keberadaan smartphone yang memungkinkan generasi muda bisa mengakses konten negatif atau yang berbau porno. Ini bisa menjadi salah satu pemicu mereka melakukan tindakan yang mendorong ke arah pernikahan usia anak. “Maka kami sangat berharap peran serta orang tua bisa lebih banyak memberikan pendampingan dan pengawasan terhadap putra-putri mereka,” pungkasnya. (ton/r8)

Berita Lainnya

Kelelahan, Enam PPS Tumbang

Redaksi LombokPost

PKS Klaim Raih Kursi di Semua Dapil

Redaksi LombokPost

SMK Plus Nurul Hakim Pelopori Ecobricks

Redaksi LombokPost

Ini Masukan TGH Muharar! Terkait Pergantian Sekda Lobar

Redaksi LombokPost

Pak Camat Sabar Dulu Ya! Terkait Pengadaan Truk Sampah

Redaksi LombokPost

Perbaikan Jalan Gunakan Dana Tak Terduga!

Redaksi LombokPost

Gubernur: Jangan Ada Dendam Politik!

Redaksi LombokPost

Ketika Ibu Bupati Lobar Teteskan Air Mata Melihat Anaknya Dilantik

Redaksi LombokPost

Pulang Kerja, Satpam Meregang Nyawa

Redaksi LombokPost