Lombok Post
Giri Menang

Desa Sumber Air Diguyur Rp 850 Juta

SALURKAN BANTUAN: Pihak PDAM Giri Menang saat menyalurkan dana CSR bagi desa sumber air kemarin

GIRI MENANG-Sejumlah desa sumber air yang ada di Lombok Barat (Lobar) akhirnya bisa tersenyum. Kemarin (15/4), mereka menerima bantuan ratusan juta dari dana CSR PDAM Giri Menang. Ini menjadi jawaban atas keluhan mereka yang selama ini mengalami persoalan atas sulitnya akses air bersih di tanah sendiri.

“Jumlah bantuan tahun ini memang luar biasa dibanding 2017 dan 2018. Jumlahnya sekitar Rp 71 miliar untuk Desa Sesaot. Kalau dulu jumlahnya hanya sekitar Rp 15 juta per tahun,” terang Kepala Desa Sesaot Yuni Hariseni kepada Lombok Post.

Dengan bantuan ini, ia mengaku bisa membantu warganya mengatasi persoalan kesulitan akses air bersih. Misalnya dengan membiayai perpipaan hingga menata lingkungan di kawasan sumber air. Mengingat, teknis penggunaan dana ini dihajatkan untuk 40 persen penghijauan dan 30 persen untuk sosial pembinaan.

“Untuk perpipaan nanti bisa juga digunakan dari dana ini,” jelasnya.

Karena selama ini masyarakat di Desa Sesaot diketahui menyiapkan perpipaan dari dana swadaya. Akibat minimanya anggaran yang ada dari desa.

Sementara Kepala Desa Suranadi juga berterima kasih dengan adanya bantuan CSR PDAM. Mengingat selama ini desa Suranadi merupakan desa sumber air terbesar PDAM Giri Menang. Namun ada sebagian warga yang justru kesulitan mendapatkan akses air bersih.

“Ya dengan anggaran ini bisa kita menyelesaikan persoalan-persoalan warga yang kesulitan mendapatkan layanan air bersih,” ucapnya.

Mengingat, Desa Suranadi mendapatkan bantuan CSR paling besar dibandingkan desa sumber air lainnya. Total bantuan yang diterima mencapai Rp 250 juta.

Direktur Utama PDAM Giri Menang Lalu Ahmad Zaini mengaku pihaknya menyerahkan secara langsung dana CSR sebesar Rp 850 juta untuk delapan desa. Itu untuk desa yang berada di wilayah Kecamatan Lingsar dan Narmada.

“Masih ada sisanya nanti menjadi inisiasi perusahaan. Desa lain yang sifatnya membutuhkan pipa bisa menggunakan inisiasi perusahaan,” paparnya.

Pembagian dana CSR diakuinya tidak merata. Jumlahnya didasarkan pada persentase kapasitas debit air yang digunakan PDAM dari desa sumber tersebut. “Kami bagi secara proporsional. Karena rata itu belum tentu adil,” tambahnya.

Penggunaan dana CSR ini pun sudah diatur dengan juklak-juknis yang ada. Agar pengguaannya tidak sembarangan. Misalnya untuk konservasi penanampan pohon dan pengelolaan air. Dana bantuan tersebut ditransfer ke rekening desa seperti ADD.

Zaini mempersilakan masyarakat menggunakan dana itu. Bisa dikombinasikan dengan ADD atau Dana Desa dipakai sesuai kebutuhan desa. Kaitannya dengan penataan lingkungan dan pemenuhan kebutuhan air bersih. (ton/r3)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi!

Redaksi LombokPost

Satu Sapi dan Tiga Kambing Tak Layak Sembelih

Redaksi LombokPost

Senggigi Butuh Jualan Baru!

Redaksi LombokPost

Farin Langsung Bidik Kursi Bupati

Redaksi LombokPost

Aparat Diminta Usut Perjalanan Dinas Dewan Lobar

Redaksi LombokPost

Rp 595 Juta Kerugian Negara Belum Kembali!

Redaksi LombokPost

Dermaga Rusak, Antrean Truk Mengular

Redaksi LombokPost

Tegur Sudah, Segel Sudah, Bongkarnya Tunggu Apalagi?

Redaksi LombokPost

Pedagang Ingin Kembali ke Pasar Lama Gunungsari

Redaksi LombokPost