Lombok Post
Headline Metropolis

Pemilu di NTB Aman tapi Belepotan

ANTUSIASME TINGGI: Warga korban gempa di Desa Bentek Koloh Berora, Kecamatan Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Utara, tetap antusias mengikuti pencoblosan, kemarin (17/4). Lokasi TPS tidak terlalu luas, di sela hunian warga yang masih belum rampung semuanya

SEMENTARA itu Gubernur NTB H Zulkieflimansyah berkomentar terkait pemenang pemilihan presiden 2019.

“Dua-duanya terbaik. (Jokowi-Prabowo), dua-duanya yang terbaik di Indonesia,” kata Gubernur NTB H Zulkieflimansyah.

Kemarin, orang nomor satu di NTB ini menyalurkan hak pilihnya di TPS 08, Desa Bajur, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat. Menurut Gubernur Zul, meski NTB dikatakan sebagai daerah rawan dan sangat gaduh di media sosial. Tapi, dia memastikan masyarakat sudah cukup matang dalam berdemokrasi. Hampir semua TPS yang dia datangi kemarin aman dan kondusif. Partisipasi masyarakat dalam pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg) juga kata Gubernur amat tinggi.

”Masyarakat kita sudah dewasa,” katanya.

Setelah mencoblos, Gubernur Zul bersama istrinya Hj Niken Saptarini  Widyawati berkeliling menggunakan sepeda motor ke beberapa TPS, seperti TPS 10 di Jalan H Naim Geguntur, Kelurahan Jempong Baru, dan TPS 24 di depan Mapolda NTB di Jalan Majapahit, Ampenan.

Ikut memantau bersama Gubernur, Danrem 162/WB Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Provinsi NTB Hj Baiq Eva Nurcahyaningsih, dan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa, Kependudukan dan Catatan Sipil (DPMPD-Dukcapil) NTB H Ashari.

Terkait pilihan politiknya, hingga selesai pencoblosan Zulkieflimansyah tetap merahasiakan. Kader Partai Keadilan Sejahtera yang juga kawan karib TGB HM Zainul Majdi itu enggan mengungkap pilihannya ke publik. Dia hanya melempar senyum saat ditanya awak media.

”Rahasia bro,” katanya singkat.

Meski demikian, hasil perhitungan suara di TPS 08 tempat Gubernur nyoblos, pasangan Prabowo-Sandi menang telak atas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Prabowo-Sandi mendapatkan suara 177 sementara Jokowi-Ma’ruf Amin hanya mendapatkan 44 suara.

Surat Suara Tertukar         

            Meski pencoblosan berjalan aman dan lancar, tetap ada masalah. Mulai surat suara tertukar, hingga rartusan warga yang tidak bisa menyalurkan hak usaranya.

            Pantauan Lombok Post, ratusan surat suara di Desa Kekeri, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat tertukar. Hal itu menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Hingga siang, ditemukan sekitar 600 lembar kertas suara tertukuar di desa itu. Yang tertukar adalah surat suara untuk DPRD Lombok Barat. Harusnya Kekeri masuk dapil tiga, tapi surat suara yang ada untuk dapil lima meliputi wilayah Kediri dan Labuapi. Kondisi itu terjadi di beberapa TPS di desa tersebut.

Seperti di TPS 16, ada 19 surat suara untuk DPRD kabupaten yang tertukar. Semuanya dikembalikan ke Panitia Pemungutan Suara Kekeri. Begitu juga dengan TPS-TPS lainnya di Desa Kekeri, semuanya dikembalikan dan kertas suara itu tidak dipakai. Kertas suara tidak ditukar, dan tidak ada pemilihan ulang.

Ketua Kelompok Panitia Pemungutan Suara 16 Turmuzi menjelaskan, mereka tidak berani memberikan warga surat suara yang tertukar. Warga yang mendapat surat suara tertukar tidak dapat mencoblos calon legislatif dari daerahnya.

”Dari PPS mengatakan, jangan dulu diisi,” katanya.

Sementara itu, Ketua PPS Desa Kekeri Ahmad Mujahidin menjelaskan, surat suara tertukar ditemukan di beberapa TPS, seperti TPS 8, TPS 9, TPS 10, TPS 11, TPS 12 dan TPS 16. Kotak suara itu diterima sore hari sebelumnya dari kecamatan sebanyak 18 kotak. Setelah dibagikan ke TPS dan beberapa menit setelah itu baru ditemukan surat suara yang tertukar.

”Sudah berjalan 20 menit baru petugas KPPS sadar, tapi tidak semua tertukar,” ungkapnya.

Hingga siang kemarin, PPS tidak berani mengambil keputusan apakah surat suara ditukar dan pencoblosan ulang atau tidak. Namun semua surat suara yang tertukar dikumpulkannya sebagai bahan laporan.

”Ada caleg dari desa ini merasa keberatan karena tidak tercoblos,” katanya.

Ratusan Pasien Tidak Bisa Nyoblos

Masalah juga terjadi di rumah sakit. Pantauan Lombok Post, banyak warga di RSUD NTB tidak bisa menyalurkan hak pilihnya. Dari 200 orang pasien yang dirawat, hanya empat orang yang bisa menyalurkan hak pilihnya. RSUD sendiri tidak punya TPS khusus. Petugas TPS terdekat datang menghampiri para pasien. Namun hanya empat yang punya Formulir A5. Sementara ratusan pasien dan keluarga yang menunggu tidak bisa mencoblos. Pencoblosan di rumah sakit pun berlangsung singkat.

Kepala Bidang Keperawatan RSUD NTB H Maksum menjelaskan, secara umum pencoblosan lancar, tapi salah seorang pemilih protes karena kertas suara yang dicoblos tidak masuk ke dalam kotak suara. Petugas hanya memasukkan ke dalam amplop.

Menurutnya, dengan banyaknya penghuni RSUD dan hanya empat yang mencoblos, itu tidak merepresentasikan seluruh warga yang ada di rumah sakit. Pasien yang sedang dirawat juga punya hak pilih yang sama. Harusnya sitem memudahkan mereka memilih.

”Cuma mekanismenya saja yang membuat mereka kehilangan hak suara,” ujarnya.

Humas RSUD NTB H Solikin menambahkan, pihak rumah sakit hanya menyiapkan lokasi, data pasien sudah diberikan jauh hari sebelumnya. Namun akhirnya hanya empat orang yang bisa mencoblos. Pemberian formulir A5 langsung diberikan petugas KPPS Dasan Cermen, sehingga manajemen RSUD tidak mengintervensi terlalu jauh.

”Ini harus menjadi catatan perbaikan ke depan,” katanya.

Sutarman, 46 tahun, salah seorang penunggu pasien asal Dusun Luk Pasiran, Desa Bentek, Kecamatan Gangga mengaku sangat kecewa tidak bisa mencoblos. Dia sebenarnya sudah punya pilihan, tapi apa daya hak suara tidak bisa disalurkan. ”Tentu saya kecewa,” ujarnya.

Dia dan tiga anggota keluarganya tidak bisa mencoblos. Mereka tidak bisa pulang karena sedang menunggu anaknya, Rangga yang operasi usus buntu. Sutarman berharap ke depan pasien dan keluarga yang menunggu tetap bisa mencoblos.

Sementara di Lombok Tengah, sempat beredar video surat suara pilpres yang sudah sudah tercoblos sebelum dicoblos pemilih. Kejadiannya, di Dusun Selak Alas Desa Sepakek, Kecamatan Pringgarata. Tepatnya di TPS 23. Petugas kemudian mengecek langsung hal tersebut di TPS. Surat suara itu diamankan lalu diganti. Soal surat suara yang sudah tercoblos ini kemudian ditangani Bawaslu.

            Secara umum, hasil pantauan Lombok Post, proses pemilihan di Lombok Tengah berlangsung aman dan tertib.

Di Lombok Barat, surat suara tertukar juga ternyata tidak hanya ada di Kekeri. Namun, juga ditemukan di Kediri, Labuapi, Gunungsari, dan Gerung. Selain surat suarat tertukar, ada pula yang kurang dari seharusnya. Hal tersebut menjadi temuan Bawaslu Lombok Barat.

Koordinator Divisi Hukum, Data, dan Informasi Bawaslu Lobar Basriadi menjelaskan, hal tersebut terjadi akibat masalah teknis. “Terdapat 50 surat suara lebih yang sudah tercoblos oleh warga. Sebelum disadari jika surat tersebut untuk Dapil yang berbeda,” katanya.

“Setelah melalui pembicaraan maka kami sepakat tetap dilanjutkan dengan surat suara yang sudah dicoblos masuk untuk suara partai,” terang Basriadi.

Koordinator Divisi SDM dan Sosialisasi Bawaslu Lobar Ma’rifatullah mengungkapkan, ketika panitia mengetahui ada kejanggalan kekurangan surat suara, Panwascam mengambil inisiatif mempersilakan pemilih mendaftar terlebih dulu. Pendaftaran diperbolehkan sampai sebelum pukul 12.00 Wita. Hal ini akhirnya sempat membuat pemilihan ditunda atau berjalan molor.

“Tadinya kami mau merekomendasikan untuk PSU (pemungutan suara ulang). Hanya saja sebelum pukul 14.00 Wita surat suara sudah terpenuhi semua. Jadi terakomodir dan semua warga sudah memilih,” paparnya.

Sementara Komisioner Divisi Teknis Penyelenggara KPU Lobar Saiful Huda memberikan klarifikasi terkait banyaknya surat suara yang tertukar. Ia mengaku kekeliruan itu terjadi ketika penyortiran dan pengiriman surat suara ke TPS.

“Itu yang di Kekeri dan Kediri memang kan karena beda tipis. Petugas yang menyortir keliru saat mengirimnya karena sebutannya hampir mirip,” aku Saiful Huda kepada Lombok Post.

Lombok Utara

            Di Lombok Utara, banyak lansia yang kesulitan melipat kartu suara yang telah mereka coblos. Bahkan, ada kartu suara yang akhirnya sampai robek saat dilipat. Sementara itu, sejumlah pemilih difabel atau daftar pemilih khusus (DPK) juga tak memperoleh logistik dari Komisi Pemilihan Umum. Mereka pun terpaksa diakomodir menggunakan surat suara untuk DPT umum.

Pantauan koran ini, hal ini terjadi di TPS Dusun Kerurak, Desa Persiapan Segara Katon. Di sana, petugas KPPS kebingungan mengakomodir hak suara untuk pemilih difabel. Di dusun Kerurak saja, tercatat 3 orang pemilih tidak bisa berjalan, 1 orang pemilih tunarungu dan tunawicara, dan 1 orang lainnya tunanetra.

KPPS setempat kebingungan karena KPUD tidak mengirimkan logistik untuk pemilih difabel yang ada. Sehingga mereka pun menggunakan surat suara untuk pemilih normal. Pemberian hak suara untuk pemilih difabel pun baru bisa dilaksanakan pada pukul 15.07 WITA. Setelah pemungutan suara di KPPS selesai. Petugas KPPS mendatangi pemilih difabel di rumahnya.

Di TPS 18 Dusun Kerurak sendiri, terdapat satu keluarga yang difabel, yaitu keluarga Amaq Mawardi (65). Amaq Mawardi lumpuh pascagempa akibat betisnya tertimpa batako. Istrinya, Inaq Sumarni (58) tunanetra, dan anaknya, Nuraniah (29) adalah difabel tunawicara dan tunarungu. Hanya Nuraniah yang mencoblos langsung di TPS.

Proses pengambilan hak suara Mawardi dan keluarga tidak banyak mengalami kendala, kecuali pada saat pengambilan suara Inaq Sumarni. Amaq Mawardi yang masih melihat, bisa mengambil hak suaranya. Sedangkan Inaq Sumarni memberikan hak suara dengan dituntut oleh anaknya, Mawardi.

Petugas KPPS Satria Hadi menegaskan pengambilan hak pilih pada keluarga difabel tidak ada paksaan. Pemilih menyalurkan hak suara sesuai hati nurani.

“Untuk Pilpres, pemilih difabel menyalurkan hak suara dengan dengan disebutkan nama calon oleh pendamping. Sedangkan pemilihan legislatif, pemilih mencoblos sekenanya dengan meraba lembaran kertas suara,” jelas Satria. Sementara di rumah sakit KLU juga dilaporkan banyak pasien yang tak bisa nyoblos. Petugas medis dan pasien menunggu petugas khusus yang membawa form A5 dari KPUD Lombok Utara yang khusus melayani pemilih pasien rawat inap RSUD Tanjung.

Namun hingga pukul 03:30 WITA tak satupun petugas PPS mendatangi para pasien maupun petugas medis di RSUD Tanjung. Ini membuat hak suaranya untuk memilih pemimpin mereka mulai dari Presiden, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten maupun DPD RI pada pemilu kali ini hilang.

“Tidak ada yang datang. Padahal H-1 pihak KPUD mendatangi kami untuk mendata kembali jumlah pasien rawat inap dan petugas yang jaga di ship pagi,”ungkap petugas medis jaga, Weni Rusdianti bersama seorang rekannya. Yang pasti, petugas medis dan pasien pun kecewa.

Sementara pantauan Lombok Post, pusat-pusat perbelanjaan tetap ramai diserbu warga. Terutama selepas pukul 12.00 Wita siang. Ini ditengara lantaran banyak toko yang memberikan diskon bagi mereka yang sudah mencoblos. Misalnya menggelar promo by 1 get 1.

Hanya saja, pasar tradisional relatif lebih sepi. Pagi kemarin, pasar-pasar bahkan lengang. Ini dimaklumi mengingat warga masih memilih menyalurkan hak suaranya di TPS sebelum ke pasar. (ili/dss/ton/fer/tea/r6)

Berita Lainnya

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Zohri Spektakuler! Genggam Tiket ke Tokyo 2020

BNI Tebar 100 Ribu Bingkisan Ramadan

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Progres RTG Belum Sesuai Harapan

Alhamdulillah, Bantuan Jadup Cair Besok