Lombok Post
Metropolis

Petugas Kaget, Surat Suara Capres Kosong

TAK KONDUSIF: Warga Karang Buaya yang mencoblos di TPS 7 Karang Buaya, Pagutan Timur, ribut karena surat suara untuk Capres dan Cawapres tidak ada, Rabu (17/4)

MATARAM-Ptugas TPS 07 di Karang Buaya, Kota Mataram kaget. Penyebabnya, surat suara untuk Capres dan Cawapres di dalam kotak suara ternyata kosong.

Ketua KPPS 07 Bahrudin terlihat sibuk menenangkan pemilih yang sudah tidak sabar menunggu. “Jadi setelah kami buka segel kotak, lalu segel amplop, ternyata di dalamnya tidak ada isinya,” tutur Bahrudin.

Dalam keadaan bingung, warga saat itu mendesak segera diadakan pemilihan. Dengan berbagai alasan beberapa diantaranya mengaku tidak punya waktu lama untuk menunggu. Sehingga berharap bisa segera dilakuakan pemilihan.

“Saya berdiskusi dengan anggota dan kepala lingkungan, kira-kira sebaiknya bagaimana. Sampai akhirnya mereka sepakat untuk melaporkan surat suara yang raib ke PPK,” terangnya.

Situasi tanpa kejelasan itu, akhirnya membuat salah satu warga di sana memilih meninggalkan TPS. Lalu membiarkan hak suaranya hangus, hingga masa pencoblosan di tutup. Warga itu atas nama Ahmad Zaenudin yang sehari-hari bekerja sebagai buruh.

“Pekerjaan dia buruh, mungkin karena tidak ada kejelasan akhirnya ia pergi,” kata Kepala Lingkungan Karang Buaya, Kelurahan Pagutan Timur, Muzakallah.

Pada saat kejadian surat suara untuk presiden dan wakil presiden tidak ada, Mung mengaku ada di lokasi. Ia kemudian, ikut memberi masukan pada panitia KPPS agar pemilu ditunda.

“Saya merasa punya kewajiban untuk membantu aparat kepolisian dan TNI menenangkan warga, karena mereka terus mendesak segera dilakukan pencoblosan,” ujarnya.

Bahkan hingga ketua KPU Kota Mataram Husni Abidin dan rombongannya tiba, sempat terjadi salah paham. Antara Husni dengan Mung. Dari penuturan Mung, ia disebut mengintervensi jalannya pemilu.

Padahal saat itu, ia hanya bermaksud membantu aparat menenangkan warga agar tidak resah.

“Ada warga saya namanya Ismail Hasim, boleh ditanya ia termasuk yang mengeluh karena insiden surat suara untuk presiden itu tidak ada,” tuturnya.

Ismail salah satu warga yang diklaim Mung rugi waktu. Karena molornya pelaksanaan pencoblosan. Seandainya KPU bisa lebih sigap menerima laporan dan tidak memperumit persoalan, ia yakin persoalan itu bisa selesai.

Kesalahpahaman itu, bahkan sempat membuat keribuatan kecil antara dirinya dengan Husni. “Saya harus tenangkan warga saya,” ujarnya.

Tapi persoalan itu akhirnya tidak berlarut-larut. Menyusul, KPU segera mendatangkan logistik surat suara bagi pemilihan presiden di TPS 7 Karang Buaya. Logistik datang sekitar pukul 8.51 pagi. Sementara, pencoblosan baru dimulai pukul 9 pagi.

Terpisah, Ketua KPU Kota Mataram Husni Abidin mengatakan, saat itu ia hanya menegaskan agar tidak ada siapapun yang boleh masuk ke dalam ranah kerja KPU. Termasuk KPPS yang jadi kepanjangan tangan KPU sendiri.

“Jadi apa yang ia sampaikan itu tidak benar,” kata Husni.

Pada dasarnya KPU akan berusaha secepatnya menyelesaikan berbagai persoalan di lapangan. Bila ada terjadi hal-hal yang dapat menganggu kelancaran pemilu. Husni mengatakan pihaknya sebenarnya langsung menuju lokasi. Begitu dapat laporan tentang surat suara untuk pemilihan presiden tidak ada.

“Tidak hanya menelusuri, kami juga langsung menyelesaikan,” ujarnya.

Ia memerintahkan PPK untuk menelusiri jejak surat suara. Ternyata, setelah dicari-cari, surat suara itu ada di kantor KPU Kota Mataram sendiri.

“Ditemukan di kantor, langsung kita bawa lengkap sampul dengan segelnya,” terangnya.

Ia berharap masyarakat bisa memahami kekeliruan ini sebagai murni humman error. Pihaknya juga mengaku kaget. Surat suara tiba-tiba tidak ada di dalam kotak suara, begitu di buka.

“Kami memantau (proses pengemasan surat suara), di sana ada keterlibatan karyawan dan tenaga relawan ikut membantu,” terangnya.

Tapi karena kelengahan yang bersifat manusiawi, ada kekeliruan yang terjadi. Sehingga Ia berharap persoalan ini tidak diperbesar. Karena tidak lama setelah itu, pihaknya segera mencari surat suara itu. Lalu, menemukannya di Kantor KPU.

“Setelah itu kami lihat semua berjalan adem-ayem semua,” cetusnya.

Ia memastikan kasus ini hanya terjadi di TPS 07 Karang Buaya. Sementara di tempat lain, semua berjalan aman dan lancar. (zad/r3)

Berita Lainnya

Bukit Nipah dan Padanan Terbakar

Redaksi LombokPost

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Uang Korban Gempa Dicuri Mandor

Redaksi LombokPost

Kejuaraan Paralayang Nasional Diikuti 153 Peserta

Redaksi LombokPost

Melihat Persiapan Pemkot Menyambut HUT Kota Mataram Ke-26

Redaksi LombokPost

Korban TPPO Banyak Dijual ke Suriah

Redaksi LombokPost

Wajib Pakai Besi Kolom Sepuluh Mili

Redaksi LombokPost

Tok, Tok, Tok, Bank Rontok

Kafilah Kecamatan Mataram Juara MTQ XVIII