Lombok Post
Metropolis

Gubernur Zul Yakin Jokowi Tak Cuekin NTB

Baca: Ajak Masyarakat Bersatu Pascapilpres

MATARAM-Gubernur NTB H Zulkieflimansyah pede NTB akan tetap mendapat perhatian Presiden Joko Widodo yang sejauh ini dinyatakan memenangi pilpres berdasarkan hasil hitung cepat. Andai hitung cepat itu selaras dengan hitungan manual KPU, Gubernur Zul tak gusar sama sekali kendati di NTB, Jokowi disebut kalah telak oleh Prabowo.

Gubernur Zul meyakini, masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden sudah mengantisipasi daerah-daerah yang tidak potensial untuk menang. Sebab, dari hasil survei, pasti tiap kandidat sudah mereka prediksi.

“Tidak perlu khawatir bahwa kalah kemudian tidak diperhatikan,” tandas Gubernur.

Hal itu disampaikan orang nomor satu di NTB ini saat menggelar pertemuan dengan para tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, dan tim kampanye daerah masing-masing pasangan calon presiden, di Pendopo Gubernur NTB, tadi malam (22/4).

Sebagai orang yang punya latar belakang akademisi, Gubernur Zul yakin dengan hasil hitung cepat yang sudah dirilis berbagai lembaga riset. Hasil hitung cepat disebutnya tidak akan jauh beda dengan hasil akhir rekapitulasi berjenjang oleh KPU.

Karena itu, meski Jokowi kalah telak di NTB, Gubernur yakin para elite di Jakarta tidak akan menyimpan dendam politik. Menurutnya, semua akan berjalan sesuai jalan yang sudah ada. Sebab, pemerintah sekarang penting, tetapi tidak penting-penting amat. Siapapun presidennya, masyarakat NTB harus menyiapkan diri agar bisa maju.

Dia menegaskan, komunikasi politik akan tetap dilakukan. Apalagi semua kandidat merupakan rekannya. Di hadapan para hadirin, Gubernur pun membuka cerita bahwa ia punya kedekatan emosional dengan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang berkompetisi. Mulai dari Joko Widodo, H Ma’ruf Amin, Prabowo Subianto, dan Sandiaga Uno.

Karena akrab dengan semua, dalam Pilpres Gubernur mengaku tidak menonjolkan dukungan ke salah satu kubu. Sebab, dia tidak ingin melukai perasaan salah satunya. Sehingga apapun hasil Pemilu NTB tidak akan ditinggalkan pusat.

“Saya yakin NTB akan lebih baik,” tegasnya.

Jaga Persatuan

Sementara itu, memanasnya tensi politik setelah pemilihan umum kata Gubernur harus diredam. Warga tidak boleh terus larut dalam perdebatan panjang, yang kerap disertai hujatan. Terutama di media sosial. Sebab, hal tersebut berpotensi meretakkan persatuan bangsa.

Dalam pertemuan itu, Gubernur Zul mengatakan, dibandingkan daerah lain, NTB cukup kondusif. Meski ada pemungutan suara ulang di 16 TPS, namun ia menjamin pemilihan di NTB tetap aman dan kondusif. Masyarakat cukup dewasa. Meski ribut di media sosial, namun kenyataannya masyarakat cukup dewasa.

“Tenang-tenang saja, tidak seheboh dunia maya,” katanya.

Ia mengingatkan, masyarakat NTB agar memanfaatkan media sosial dengan bijaksana. Sebab, bila kata-kata yang dilontarkan tidak terkontrol, maka luka batin akan sulit disembuhkan.

Gubernur mengaku, ketika pihak kepolisian memperlihatkan isi media sosial di NTB kepada dirinya, Gubernur Zul mengaku hanya bisa geleng-geleng kepala. Meski NTB provinsi kecil, tetapi isunya besar-besar. Karena itu, keributan di media sosial harus disikapi dengan bijak.

“Kalau tidak bijaksana menyikapi media sosial, maka fragmentasi sosial bisa menjadi lebih buruk,” katanya.

Perbedaan pilihan calon presiden, beda pilihan partai dalam pesta demokrasi, diharapkan tidak membuat masyarakat terpecah.

Sementara itu, Kepala Bakesbangpoldagri NTB H Lalu Syafi’i menjelaskan, pertemuan dengan para tokoh tersebut sangat penting dalam upaya meredam situasi yang kian memanas di tengah masyarakat.

“Pemilu sudah selesai mari kita bersatu kembali,” katanya.

Sementara itu, H Ahmad Muchlis salah satu tokoh agama dalam pertemuan itu mengatakan, masyarakat NTB menginginkan pesta demokrasi seperti sepakbola. Masing-masing pihak berperan sesuai posisinya. Pemain bertugas bermain, wasit adalah hakim pertandingan, dan penonton menyaksikan pertandingan. Bila semua pihak berperan sesuai tugas masing-masing, maka Indonesia tenang, aman, nyaman dan damai.

“Saya percaya kepada KPU,” katanya.

Ketua KPU NTB Suhadri Soud dalam pertemuan itu mengatakan, pemilihan di NTB berjalan lancar. Dengan 15.989 TPS se-NTB, mereka bisa menyelenggarakan pemilihan dengan damai.

Saat ini sedang berlangsung penghitungan suara. Dia memastikan semua berjalan jujur dan adil. “Kami memastikan tidak ada pergeseran suara rakyat,” tandasnya.

Seruan soal persatuan juga datang dari Jakarta. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) menggelar tasyakuran atas kelancaran jalannya pemilu kemarin (22/4). Ormas Islam terbesar di Indonesia itu juga menyerahkan amanat keagamaan dan kebangsaan kepada calon wakil presiden Ma’ruf Amin yang hadir dalam acara tersebut.

Ketua Umum PB NU Said Aqil Siroj mengatakan, pihaknya bersyukur karena bangsa Indonesia sukses menggelar gawe besar, yaitu pileg dan pilpres. ’’Pilpres yang aman dan damai,’’ terang dia saat menyampaikan sambutan pada acara tasyakuran di Kantor PB NU, Jalan Kramat Raya, kemarin.

Jika di negara lain pemilu sampai memakan korban, kata dia, di Indonesia pesta demokrasi berjalan dengan aman. Jadi, Indonesia lebih unggul dalam berbangsa dan bernegara. Dalam berbangsa, Indonesia punya karakter, lebih matang, dan lebih dewasa.

Menurut Said, Indonesia akan menjadi contoh di dunia internasional. Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini berhasil berdemokrasi dengan baik. Dia menegaskan bahwa demokrasi tidak bertentangan dengan Islam. ’’Islam memberikan roh dalam demokrasi,’’ papar dia.

Salah besar jika Islam dianggap tidak mengenal demokrasi. Sejak zaman Nabi Muhammad, praktik demokrasi sudah dikenal. Hanya formulanya yang berbeda, tapi esensinya sama. Jadi, demokrasi adalah pilihan terbaik dalam berbangsa dan bernegara.

Said mengajak semua elemen masyarakat bersatu setelah selesainya pilpres. Merajut persaudaraan dan persatuan. Sekarang tinggal ditunggu pengumuman KPU siapa yang ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden.

Di tempat yang sama, Ma’ruf juga bersyukur atas pemilu yang berlangsung aman dan tidak ada kejadian apa pun. Apalagi, hasil hitung cepat (quick count) memenangkan pasangan calon Jokowi-Ma’ruf. ’’Tapi, itu menang versi quick count, belum resmi ditetapkan KPU,’’ ucapnya. Dia berharap paslon 01 juga menang versi real count.

Selama menunggu pengumuman resmi KPU, semua pihak harus menahan diri dan tetap menjaga persaudaraan. Apa pun keputusan KPU harus dihormati dan diikuti. Sebab, KPU merupakan satu-satunya lembaga yang diberi kewenangan dalam menggelar pesta demokrasi.

Ma’ruf mengaku belum bisa berbicara banyak karena belum resmi menjadi wakil presiden. ’’Jangan dipanggil wakil presiden dulu,’’ tutur mantan rais am PB NU itu.

Dalam kesempatan tersebut, PB NU juga menyerahkan amanat keagamaan dan kebangsaan yang berisi lima butir. Amanat itu dibacakan Ketum PB NU Said Aqil Siroj.

Pertama, dalam bidang pendidikan, PB NU mengusulkan agar mengutamakan pembangunan manusia yang menitikberatkan pada pendidikan karakter. Salah satunya memberikan perhatian lebih kepada pendidikan pesantren. ’’Dengan jumlah yang mencapai puluhan ribu, pesantren hanya diurus oleh salah satu direktorat di bawah Kementerian Agama,’’ ujarnya.

Ke depan, kata dia, harus ada upaya dan langkah lebih serius serta strategis untuk memperhatikan pesantren. Salah satu usulan hasil munas NU di Lombok pada 2017 adalah diangkatnya menteri urusan pesantren.

Kedua, pembangunan manusia berbasis nilai-nilai moderatisme. Langkah itu bisa ditempuh dengan jalan melihat kembali postur kurikulum dalam pendidikan, terutama pendidikan keagamaan, secara saksama dan cermat dengan menekankan peningkatan akhlakul karimah.

Ketiga, membangun perekonomian yang tidak hanya menekankan pertumbuhan. Lebih dari itu, berbasis pemerataan. Keempat, PB NU mendorong percepatan implemetasi gagasan ekonomi keumatan dan ekonomi Islam.

Terakhir, mewujudkan iklim berbangsa dan bernegara serta kehidupan politik yang lebih sejuk berasas nilai-nilai moderatisme. ’’Segala bentuk pengingkaran terhadap dasar-dasar negara harus ditindak tegas,’’ kata Said.

Pertemuan Prabowo dan Luhut Ditunda

Sementara itu, komunikasi antara Prabowo Subianto dengan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan ternyata sudah berjalan. Luhut bahkan mengaku sudah menghubungi Prabowo melalui telepon.

Luhut menceritakan, dirinya dan Prabowo sempat sepakat untuk bertemu pada Minggu lalu (21/4). Rencananya, pertemuan dilakukan sambil menyantap masakan Jepang. “Tapi kemudian ada masalah teknis, beliau (Prabowo, Red) agak sakit flu. Kita reschedule,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin (22/4).

Seperti diketahui, Jokowi berharap bisa segera bertemu dengan Prabowo untuk bersilaturahmi. Sebagai langkah awal, Jokowi menunjuk Luhut sebagai utusan untuk menjembatani pertemuan tersebut.

Luhut mengatakan, Prabowo merupakan sosok yang baik dan rasional. Sikap patriotik dan komitmen Prabowo untuk membangun bangsa tidak diragukan lagi. Namun, lanjutnya, mantan Danjen Kopassus itu menerima masukan yang kurang tepat dari orang di sekelilingnya dalam melihat hasil pemilu. “Jadi saya hanya titip saja, mau bilang ya jangan terlalu didengarin lah pikiran-pikiran yang terlalu gak jelas basisnya. Karena Pak Prabowo sendiri orang yang rasional,” imbuhnya.

Dia menambahkan, konstitusi dan aturan pemilu harus dihormati. Karena itu, apapun yang diputuskan KPU harus diterima semua kontestan. Sebab, bagaimana pun data-data ilmiah tidak bisa dibohongi. “Siapapun, dia mengatakan begini begitu, at the end orang akan lihat data digital yang tidak bisa dibohongi,” ungkapnya.

Namun, Luhut menegaskan, hal itu bukan berarti kubu 01 mengklaim memenangkan pilpres. Dia hanya mengatakan bahwa apapun putusan KPU harus dihormati. “Saya tidak ingin terlalu jauh seperti itu (menang kalah), tapi Pak Prabowo orang arif, dia tahu apa yang harus dilakukan. Hanya titip saja orang-orang di sekitarnya jangan memberi informasi yang tidak benar,” terangnya. Pria berdarah Batak itu menyebut pertemuan lanjutan akan digelar. Soal waktunya, bergantung pada kesiapan Prabowo. Dia sendiri siap berkomunikasi kapan pun dan di manapun.

Di sisi lain, juru bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade menyatakan tidak tahu jika Luhut sudah menelepon Prabowo. Menurut Andre, dirinya menangkap indikasi justru dari pihak Luhut yang lebih proaktif ingin bertemu Prabowo. Padahal, Prabowo sampai saat ini masih berkonsentrasi memantau rekapitulasi suara.

”Kita lagi berproses pemilu, lagi penghitungan suara, relawan dan pendukung kami lagi konsentrasi di kecamatan menjaga proses ini. Kok tiba-tiba Pak Luhut ngotot banget sih? Memang ada apa?,” kata Andre.

Dia menegaskan, sebaiknya pertemuan itu dilakukan pada waktu yang tepat. Jika setelah penetapan rekapitulasi suara pada 22 Mei dinilai belum pas, masih ada momen Ramadan dan Syawal yang juga tepat untuk bersilaturahmi. ”Nanti, nanti, habis seluruh proses selesai, habis Lebaran aja ketemuannya. Habis Lebaran ketemu sudah paling pas,” tandasnya. (ili/JPG/r6)

Berita Lainnya

Bukit Nipah dan Padanan Terbakar

Redaksi LombokPost

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Uang Korban Gempa Dicuri Mandor

Redaksi LombokPost

Kejuaraan Paralayang Nasional Diikuti 153 Peserta

Redaksi LombokPost

Melihat Persiapan Pemkot Menyambut HUT Kota Mataram Ke-26

Redaksi LombokPost

Korban TPPO Banyak Dijual ke Suriah

Redaksi LombokPost

Wajib Pakai Besi Kolom Sepuluh Mili

Redaksi LombokPost

Tok, Tok, Tok, Bank Rontok

Kafilah Kecamatan Mataram Juara MTQ XVIII