Lombok Post
Selong

Ketika Amaq Marisah Terpaksa Membawa Anaknya Mengemis di Pinggir Jalan

MEMINTA BANTUAN: Amaq Marisah sedang meminta sumbangan kepada pengendara sambil menggendong Jani, 14 tahun, putra kelimanya yang tunanetra dan lumpuh di simpang empat Kantor Bupati Lotim, kemarin (22/4).

Amaq Marisah dengan susah payah harus menggendong anak kelimanya, Jani. Bocah berusia 14 tahun itu lumpuh dan tak bisa melihat. Mau bagaimana lagi, penghasilan sebagai buruh terkadang tak mampu membiayai kebutuhan hidup sehari-hari.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

===============================

Selain tak bisa berjalan dan melihat, Jani juga tak bisa berbicara. Namun samar-samar, ia mengucapkan kata ‘Wiro’. “Iya, nanti kita beli kaset Wiro Sableng,” kata Amaq Marisah kepada putra kelimanya.

Pemandangan memilukan yang diperlihatkan Amaq Marisah tak hanya kondisi Jani yang berkebutuhan khusus. Tapi juga tubuh Jani yang besar. Membuat tubuh kurus dan kecil Amaq Marisah yang kewalahan setiap kali Jani  menggerakkan tubuhnya. Syukurlah, tempatnya berdiri menunggu dermawan memberikan bantuan cukup rindang.

“Dia tidak bisa melihat. Tapi suka disetelkan film Wiro Sableng. Yang dia suka suara silatnya. Suara pedang dan kuda yang berlari. Tang-ting-tang-ting… itu,” kata Amaq Marisah menceritakan kebiasaan Jani.

Di KTP, Amaq Marisah bernama Rat. Ia berasal dari Dusun Jiken Utara, Desa Rarang Tengah, Kecamatan Terara. Duda anak lima itu harus mengurus Jani seorang diri. Pekerjaan sebagai buruh harian lepas membuatnya terpaksa turun ke jalan. Meminta bantuan bagi yang sudi memberikan.

Selain KTP, Amaq Marisah juga menunjukkan foto-fotonya bersama Jani saat berusia lima sampai sepuluh tahun. Meski berkebutuhan khusus, tubuh Jani, tak pernah kurus. Maka di satu sisi, yang sangat memilukan dari pemandangan itu adalah perjuangan sang Ayah. Menggendong Jani yang berbobot puluhan kilogram. Amaq Marisah tak pernah menimbang berat badan putranya. Ia mengaku buta huruf dan angka.

Siang kemarin, penulis koran ini untuk pertama kalinya melihat Amaq Marisah, dan anaknya Jani mangkal di simpang empat Kantor Bupati Lotim. Ia mengatakan jika mengemis bukan pilihan tetap. Apalagi profesi. Melainkan sebuah jalan untuk memenuhi kebutuhan Jani. “Tidak setiap hari. Saya turun begini jika kondisi benar-benar sudah tidak ada,” terangnya.

Pekerjaannya sebagai perajin bambu seringkali tak cukup untuk hidup sehari-hari. Apalagi berpikir untuk biaya pengobatan Jani. Amaq Marisah sendiri sudah tak percaya pada dokter. Ia mengatakan, jika dokter sudah menyerah mengobati puteranya. “Sekarang hanya ke orang pintar saja,” jelasnya.

Sementara itu, bantuan dari pemerintah menurutnya hanya omongan belaka. Ia menceritakan oknum yang seringkali datang mengambil gambar dan foto sebagai data penerima bantuan. Kata Amaq Marisah, siapa yang tahu, setelah datang, tiba-tiba orang itu menghilang. “Tak ada kabar. Saya tahu kalau dia yang memakan uangnya,” duganya penuh kekesalan.

Sekitar pukul 12 siang, saat matahari sebentar lagi tepat di atas kepala, Amaq Marisah beranjak pulang. Ia mengatakan naik angkutan umum dari Rarang ke Selong. Pulangnya pun seperti itu. Bedanya, kini ia sudah mengantongi beberapa lembar uang. (*/r5)

Berita Lainnya

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Ramai-ramai Berburu Takjil

Gara-Gara Kritis, Aldi Tak Diluluskan Sekolah

Dua Pelaku Curas Tertangkap, Dua Masih Buron

Redaksi LombokPost

Pekan Depan Pembangunan Taman Rinjani Mulai Dilelang

Redaksi LombokPost

Para Penjaga Rumah Allah di Gumi Patuh Karya (2)

Redaksi LombokPost

Jalan Rusak Picu Lakalantas

FPR Minta Amaq Har Dibebaskan

Tolong, Mata Kiri Nadir Diserang Tumor