Lombok Post
Kriminal

Dae Ade Tandatangan Kontrak, Dae Ferra Urus Proyek

BERI KETERANGAN: Saksi Ferdiansyah Fajar Islam, yang juga direktur PT Lewa Mori Putra Pratama memberikan keterangan pada persidangan terdakwa Taufik Rusdi di Pengadilan Tipikor Mataram, kemarin (23/4).

MATARAM—Persidangan perkara korupsi pengadaan sampan fiberglass Bima dengan terdakwa Taufik Rusdi kembali bergulir di Pengadilan Tipikor Mataram, (23/4). Kali ini, agendanya mendengarkan keterangan saksi.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Suradi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Direktur CV LMPP, Ferdiansyah. Dalam kesaksian, pria yang akrab disapa Dae Ade banyak menjawab tidak tahu. Terutama ketika ditanyakan dari awal hingga akhir pengerjaan proyek tersebut.

JPU Budi Tridadi mengawali dengan mengorek proses tender hingga terpilihnya perusahaan Dae Ade menjadi pemenang. ’’Saya tidak tahu menahu soal pengadaan sampan,’’ buka dia ketika memberikan kesaksian.

Dia mengungkapkan, semua urusan administrasi diserahkan kepada kakak kandungnya yakni Hj Ferra Amelia. Dirinya hanya menandatangani dokumen. ’’Karena perusahaan itu di rumah, saya biasanya disodorkan dokumen dan tanda tangan saja,’’ katanya.

Dae Ade juga mengaku tidak pernah membuat penawaran pengadaan sampan. Termasuk mengurus dokumen yang dibutuhkan untuk tender. ’’Saya tinggal tanda tangan semua dokumen. Saya tanda tangan di rumah saya. Semua dokumen diurus kakak saya,’’ ungkapnya

Ditanya soal penyusunan RAB tender proyek, dia mengaku sama sekali tidak tahu menahu. Begitu pula dengan proses pengerjaan sampan. ’’Berkas dokumen dibawa Abdul Haris. Saya hanya tanda tangan saja. Satu bundel dokumen yang dibawa ke rumah saya,’’ katanya.

Dae Ade selalu menjawab tidak tahu setiap kali ditanya mengenai pengerjaan sampan fiberglass. Bahkan dia sama sekali tidak tahu menahu rekening perusahaan, pencairan anggaran proyek, juga uang masuk perusahaan. ’’Saya tidak tahu rekening perusahaan. Mungkin diurus Ibu Ferra. Ya, saya tanda tangan semua administrasi, termasuk administrasi pencairan,’’ terangnya.

Saat pencairan uang proyek, dia juga tidak pernah mengetahuinya.  Dae Ade juga tidak pernah melihat dan menikmati uang keuntungan dari proyek tersebut. ’’Uang yang cair saya tidak tahu. Saya tidak pernah dikasih uang juga. Semua pencairan diurus sama kakak,’’ bebernya.

Dia mengaku sama sekali tidak pernah menanyakan mengenai pekerjaan tersebut. Karena dirinya percaya dengan kakaknya Dae Fera. ’’Yang ajukan penawaran kakak saya. Saya tidak terlibat. Saya tidak tahu berapa kapal yang dibuat,’’ katanya.

Meski tidak tahu, ketika ditanya hakim dia mengaku menandatangani kontrak dan lainnya. Penandatanganan itu berlangsung di rumahnya. ’’Saya yang punya perusahaan, tapi dipinjamin. Administrasinya di perusahaan kami, yang ngadain yang lain. Memang begitu kalau di rumah,’’ tandasnya. (arl/r2)

Berita Lainnya

Rekanan Proyek THR Diklarifikasi

Dae Ferra Berkelit Tak Terima Fee

Cari Selamat, Maling Amatir Hianati Kawan

Dorfin Dituntut 20 Tahun Penjara

Redaksi LombokPost

Jaksa Usut Pengadaan Bibit THR

Redaksi LombokPost

Terpidana Kasus Hutan Sekaroh Melawan

Redaksi LombokPost

Kadis Hingga Kades Terjerat Tipilu

Redaksi LombokPost

Curi Motor Guru “Bonus” Sebutir Peluru

Redaksi LombokPost

Jelang Ramadan, Polisi Persempit “Permainan” Tengkulak

Redaksi LombokPost