Lombok Post
Metropolis

Partai Beringin Panas Dingin

Petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) melakukan rekapitulasi surat suara di tingkat Kecamatan di Balai Rakyat Pasar Minggu, Jakarta, Senin (22/4/2019). Berdasarkan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU hingga 22 April 2019 pukul 09.00 WIB, real count telah menjangkau 115.409 TPS dari 813.350 TPS (14,19 persen).FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Hitung suara masih riuh. Namun, reputasi Partai Golkar sebagai partai penguasa Bumi Gora terancam runtuh. Partai Gerindra diprediksi jadi juara. Meninggalkan Golkar yang nomor dua. Di DPRD NTB, Golkar diprediksi hanya mampu meraup 9 kursi. Sementara Gerindra bisa tersenyum puas dengan prediksi 11 kursi. Untuk kali pertama dalam empat dekade semenjak 1982, palu Ketua DPRD diprediksi tak akan di tangan Beringin lagi.

———————————————————————

SENYUM H Ridwan Hidayat mengembang. Kalkulasi angka-angka yang sampai ditangannya, boleh jadi membuat Ketua DPD Partai Gerindra NTB itu serasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Tabulasi data memang masih berlangsung. Namun, melihat angka-angka tersebut, mantan Penjabat Bupati Lombok Utara itu haqqulyakin, partainya bakal menjadi pemenang pemilu di NTB.

“Hitungan sementara, kami akan meraih 11 kursi di DPRD NTB,” kata Ridwan pada Lombok Post, kemarin (22/4).

Dalam hitungan Ridwan, Gerindra akan mendapat dua kursi di dapil Lombok Barat-Lombok Utara. Dau kursi di salah satu dapil di Lombok Tengah, dan dua kursi di salah satu dapil di Lombok Timur. Sementara Dapil Sumbawa-Sumbawa Barat, dan Dapil Bima-Dompu-Kota Bima, masing-masing satu kursi. Sehingga totalnya menjadi 11 kursi.

Ridwan yakin hitungan itu tak meleset. Meski, dia tak menolak, kalau angka itu masih bisa disebut prediksi. Mengingat penghitungan suara masih terus berlangsung dan belum berakhir.

Namun, data-data yang sampai di tangannya bukan tanpa sumber jelas. Itu adalah hasil tabulasi internal dengan data yang bersumber dari seluruh saksi yang dikerahkan Gerindra dalam Pemilu ini di sekujur Bumi Gora.

Dan prediksi Gerindra sebagai pemenang pemilu di NTB tak cuma datang dari Ridwan Hidayat seorang. Datang pula dari partai pesaing. Seperti Partai Keadilan Sejahtera. Ketua DPW PKS NTB H Abdul Hadi tak ragu menyebut kalau Gerindra sangat berpotensi menjadi pemenang Pemilu di NTB.

PKS sendiri memang melakukan penghitungan suara di internal. Sumbernya berasal dari data yang didapat saksi-saksi. Dari hasil hitungan itulah, Gerindra diprediksi bakal menjadi pemenang Pemilu. Sementara PKS sendiri kata Abdul Hadi akan meraih kenaikan signifikan. Jika pada saat ini kursi PKS di DPRD NTB mencapai enam kursi dari 65 anggota dewan, maka pada Pemilu 2019, PKS yakin akan meraih delapan kursi. Yang artinya satu kursi di setiap daerah pemilihan.

Sedangkan hasil situng cepat KPU sendiri yang diakses Lombok Post tadi malam menunjukkan Gerindra yang leading. Gerindra masih meraih angka tertinggi. Sementara Golkar nomor dua. Namun, suara yang masuk dalam hitungan tersebut masih sangat rendah. Baru dari 431 TPS dari total 15.989 TPS di seluruh NTB.

Tentu saja, jika semua berjalan linier dan benar Gerindra menjadi pemenang Pemilu di NTB tahun 2019 ini, maka ini akan menjari sejarah. Inilah kali pertama, partai pemenang pemilu di NTB akan jatuh di tangan partai selain Golkar. Dalam sejarah pemilu di Bumi Gora, Golkar selalu muncul jadi pemenang. Jangan hitung pada masa Orde Baru, di mana Golkar begitu kuat. Pada Pemilu zaman Orde Reformasi pun, reputasi Golkar di NTB begitu mentereng. Selalu menjadi pemenang pemilu.

Pada Pemilu 1999, Golkar meraup 22 kursi dari total 55 kursi di DPRD NTB kala itu. Memasuki Pemilu 2004, memang perolehan suara Golkar menurun. Mampu meraih 15 kursi. Tapi, Golkar masih menjadi pemenang Pemilu di tengah sejumlah partai yang muncul sebagai rising star. Lalu pada Pemilu 2009, Golkar juga masih jadi pemenang. Meski perolehan kursi di DPRD NTB turun lagi menjadi 10 kursi.

Sementara pada Pemilu 2014, Golkar juga meraih kursi tertinggi. Jumlahnya mencapai 11 kursi. Unggul di atas partai-partai pesaing. Dan selama itulah, Golkar selalu meraih posisi Ketua DPRD NTB.

Dan Pemilu 2019 ini, perolehan suara Golkar diprediksi akan kembali menurun, kalau tak ingin disebut anjlok. Dan kali ini, status sebagai partai penguasa di NTB pun dikudeta oleh Gerindra.

Golkar diprediksi hanya akan mampu meraih 9 kursi di DPRD NTB. Dari 11 kursi yang ada di kantor DPRD di Jalan Udayana tersebut. Jika pada pemilu 2014, Golkar meraih dua kursi di tiga daerah pemilihan dan masing-masing satu kursi di daerah pemilihan lainnya, maka pada Pemilu tahun ini, paling banter Golkar hanya akan meraih dua kursi di satu daerah pemilihan saja. Yakni dapil Lombok Barat-Lombok Utara. Di dapil ini akan ada 12 kursi yang diperebutkan. Selebihnya di dapil lainnya, Golkar hanya akan meraih satu kursi saja.

Melesat Jauh

Sementara Gerindra? Pemilu 2019 ini, adalah pemilu ketiga bagi Gerindra. Partai besutan Prabowo Subianto ini boleh dibilang menjadi partai yang terlahir dari rahim Golkar juga. Mengingat Prabowo, tadinya adalah politisi Golkar. Prabowo bahkan sempat menjadi kandidat kuat calon Ketua Umum DPP Golkar. Meski akhirnya tak berhasil meraih posisi tersebut, dan akhirnya mendirikan Partai Gerindra pada Februari 2008.

Gerindra lalu ikut Pemilu pada 2009. Di Pemilu pertamanya itu, di DPRD NTB, Gerindra langsung dapat kursi. Ada dua kursi. Satu kursi didapat dari daerah pemilihan Bima-Dompu-Kota Bima atas nama Mori Hanafi. Lalu satu kursi lagi dari daerah pemilihan Lombok Timur atas nama H Sakduddin.

Semenjak itu, Gerindra sepertinya memang terus terbang tinggi. Banyak dilirik masyarakat. Dan terbukti. Pada keikutsertaannya dalam Pemilu kedua tahun 2014, perolehan suara Gerindra melonjak. Gerindra meraih delapan kursi. Sama seperti kursi milik Partai Demokrat yang saat itu berada di akhir periode kepresidenan sang ketua umum Susilo Bambang Yudhoyono.

Secara perolehan saura, dalam Pemilu 2014, Gerindra berad adi posisi ketiga dengan raihan 265.887 suara. Hanya kalah dari Demokrat di posisi kedua dengan raihan 305.669 suara, dan Golkar sebagai pemenang dengan raihan 373.056 suara.

Dengan jumlah kursi tersebut, Gerindra pun berhak atas satu kursi Wakil Ketua DPRD NTB. Kursi itu pun dijabat Mori Hanafi. Lalu kemudian beralih ke Lalu Wirajaya, setelah Mori memilih mundur lantaran ikut bertarung dalam Pemilihan Gubernur NTB tahun 2018.

Dan kini, di Pemilu 2019, perolehan suara Gerindra pun diprediksi melonjak lagi. Yakni dengan raihan 11 kursi. Dan capaian itu didapat dalam kurun waktu 11 tahun, selepas Gerindra terlahir di Bumi Indonesia.

Dan keunggulan Gerindra itu tak hanya tercermin dari perolehan suara di kursi DPRD NTB. Untuk kursi DPR RI pun Gerindra diprediksi unggul. Bisa jadi, di Dapil Lombok, Gerindra bisa meraih dua kursi DPR RI. Sementara di Dapil Pulau Sumbawa, Gerindra juga berpotensi meraih satu kursi.

Sementara Golkar, kemungkinan hanya akan dapat satu kursi di DPR RI. Yakni dari Dapil Lombok saja. Sementara di Dapil Pulau Sumbawa, kemungkinan Golkar tak akan dapat kursi DPR RI di sana. Sebab, dengan hanya tiga kursi DPR RI yang diperebutkan dari Dapil Pulau Sumbawa, maka tiga kursi itu kemungkinan milik PAN dan PKS, dan satu kursi lagi kemungkinan milik Gerindra yang kemungkinan masih bersaing ketat dengan PPP.

Pun untuk kursi di DPRD kabupaten/kota. Misalnya di Lombok Utara. Dari rekapitulasi sementara, Gerindra mampu meraih lima kursi dan berpotensi menjadi pemenang dan meraih jabatan ketua DPRD di Lombok Utara. Raihan suara Gerindra di DPRD Mataram juga diprediksi meningkat.

”Tapi ini masih sementara kalau kabupaten/kota. Hanya kalau untuk Lombok Utara, kami optimistis bisa dapat lima kursi,” kata Ridwan Hidayat.

Efek Pilpres

Ada beberapa hal yang menjadi faktor pendongkrak, mengapa suara Geridnra demikian melejit di Bumi Gora. Salah satunya adalah efek pemilihan presiden yang digelar serentak. Seperti diketahui, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto memang bertarung dalam Pilpres 2019. Dia berpasangan dengan Sandiaga Uno.

”Ada Prabowo efek yang kita rasakan,” aku Ridwan.

Prabowo sendiri yang merupakan calon presiden nomor urut 02 berdasarkan hitung cepat, meraih suara terbanyak di NTB. Jauh meninggalkan pasangan calon nomor urut o1 Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Prabowo disebut mampu mendulang suara hingga 70 persen di NTB. Sementara sisanya untuk Jokowi. Kendati begitu, secara nasional, berdasarkan hitung cepat, Jokowi menjadi pemenang Pilpres 2019.

Di luar efek Pilpres yang disebut coat-tail effect atau efek ekor jas, Ridwan menyebut, potensi kemenangan partainya adalah berkat kesungguhan caleg dan kader di Gerindra. Konsolidasi dan soliditas kader serta caleg juga, katnaya, berperan besar menjadi faktor suara Gerindra meningkat pada pemilu 2019 ini.

Karena hal-hal tersebut, dia memastikan, hasil sementara yang ada, menjadikan Gerindra sudah meraih target yang ditetapkan partai sebelum pemilu.

”Pemilu sekarang membuahkan hasil yang sangat baik,” katanya.

Golkar Akui Menurun

Terpisah Wakil Ketua Bappilu DPP Golkar Wilayah Timur sekaligus Korwil NTB DPP Golkar Sari Yuliati tidak menampik jika suara Golkar di NTB mengalami penurunan. Dari hasil pantauan sementara, perolehan suara pemilu legislatif untuk aprtai Beringin memang tidak sememuaskan pemilu sebelumnya.

”Gerindra ini dapat coattail effect dari Prabowo,” aku Sari.

Namun, kalaupun di provinsi perolehan suara Golkar menurun, perolehan suara Golkar di kabupaten/kota diklaim tidak mengalami penurunan yang signifikan. Sehingga Golkar masih menjadi salah satu partai besar di NTB.

Menurut Sari, penyebab suara Gerindra tinggi di NTB, karena di NTB pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandi lebih unggul dari Jokowi-Ma’ruf. Dengan begitu maka suara masyarakat akan mengarah ke partai yang berafiliasi dengan Prabowo juga tinggi. Pola yang sama kata dia, diraih PKS dan PAN yang merupakan partai pengusung Prabowo.

Tapi, apakah angka-angka sementara ini akan benar, Golkar sendiri kata Sari masih menunggu rekapitulasi suara akhir yang dikeluarkan KPU. Setelah ada hasil resmi dari KPU. Nah, apapau hasil rekapitulasi resmi dari KPU itu, maka tidak menutup kemungkinan, akan ada evaluasi internal.

”Nanti Golkar akan konsolidasi ulang setelah ada hasil akhir,” cetusnya.

Dari data yang dihimpun koran ini, untuk DPRD Kota Mataram, perolehan kursi Golkar diprediksi menurun. Dari sembilan kursi yang diperoleh pada pemilu 2014 lalu, pada 2019 ini, Golkar berpotensi hanya meraih delapan kursi.

Suhaili Masih Yakin

Di tempat terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Daerah I Partai Golkar NTB HM Suhaili FT masih sangat yakin, kalau perolehan suara Golkar di NTB masih tinggi. Dia yakin pula, kalau perolehan kursi di DPRD NTB tak akan berkurang. Yakni tetap 11 kursi.

Dari mana asal keyakinan itu, Suhaili memang tak menunjukkan data. Bupati Lombok Tengah ini meminta semua pihak menunggu hitungan resmi KPU.

Dengan keyakinan tinggi itu pula, Suhaili yakin Golkar akan meraih dua kursi DPR RI dari Dapil Lombok. Kemudian, satu kursi di Dapil Sumbawa. Kemudian, DPRD NTB, dia yakin juga kursi ketua DPRD NTB tak akan beralih tangan. Tetap di Golkar.

“Tapi, saya tidak berani mempersentasekan berapa,” ujar Suhaili soal data-data yang dipegangnya, saat dikonfirmasi usai memimpin rapat jajaran SKPM lingkup Pemkab di Alun-Alun Tastura, Praya, kemarin (23/4).

Yang pasti, kata Suhaili Partai Beringin tetap di hati warga Bumi Gora. Tetap memberikan kepercayaan kader-kadernya duduk sebagai wakil rakyat dan tetap memberikan suara untuk partai.

“Kalau Loteng, mudah-mudahan bertambah,” kata mantan Ketua DPRD NTB tersebut.

Saat ini, jumlah kursi Fraksi Golkar di DPRD Loteng sebanyak 9 kursi. Apalagi melihat partisipasi pemilih yang juga meningkat.

Target Tinggi

Dalam Pemilu 2019 ini, Golkar NTB sebetulnya memasang target tinggi. Apalagi, Golkar memiliki figur TGB HM Zainul Majdi, Gubernur NTB dua periode, dan pemimpin organisasi islam yang besar di NTB. Figur TGB diyakini akan menjadi magnet bagi Golkar meraup dukungan.

Hal yang tak berlebihan. Mengingat dalam sejarah pemilu di NTB, TGB memang menjadi figur yang memegang peranan penting. Tahun 2009 misalnya. Saat TGB masih berada di Partai Bulan Bintang. Partai ini menjadi salah satu partai dengan perolehan suara tinggi di DPRD NTB. Bahkan, Partai Bulan Bintang meraih posisi wakil ketua di DPRD NTB.

Pun begitu tatkala TGB pindah haluan. Meninggalkan PBB untuk beralih ke Partai Demokrat. Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono ini pun dibawa TGB menjadi partai pemenang kedua di NTB di bawah Golkar pada Pemilu 2014 lalu. Demokrat yang tadinya hanya tiga kursi di pemilu sebelumnya, meraih delapan kursi. Dan berkah atas posisi Wakil Ketua DPRD NTB.

Dengan sejarah-sejarah itulah, maka TGB yang bergabung ke Golkar tahun 2018 usai memparipurnakan dua periode jabatan Gubernur NTB, diyakini akan menjadi bandul yang menarik dukungan massa ke Partai Beringin.

Dan keyakinan itu diungkapkan begitu tegas oleh Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto saat berkunjung ke NTB pertengahan Februari 2019 lalu. Airlangga bahkan menilai ‘kebangetan’ jika Partai Golkar tidak menang di NTB pada Pemilu 2019. Sebab, TGB telah bergabung.

Kala itu, di kegiatan temu kader Golkar di Mataram, Airlangga berpidato. Dia memperkenalkan TGB sebagai debutan baru kader Partai Golkar asli NTB. Disebutkan pula posisi TGB di DPP yakni sebagai Wakil Ketua Koordinator Bidang Keumatan dan Wakil Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Golkar.

“Jadi, kalau Partai Golkar tidak menang di NTB, kebangetan,” kata Airlangga kala itu.

Airlangga menegaskan, sebagai kader Golkar, TGB harus mampu memenangkan partai itu pada pemilu legislatif ataupun Pilpres 2019. Sebab, bagaimanapun, TGB adalah sosok panutan di NTB.

“Kalau dulu Ketua DPD Golkar NTB Suhaili sendirian, sekarang dibantu TGB sehingga mesinnya bertambah. Masa tidak menang,” ucapnya disambut riuh kader Partai Golkar.

Untuk memenangkan Partai Golkar di NTB pada Pemilu 2019, Airlangga menyeru seluruh kader bersatu. Terlebih para calon anggota legislatif (caleg) dari partai ini sangat mumpuni untuk bisa bersaing di Pemilu 2019.

Dan kini, kalau ternyata target menang itu akhirnya tak bisa diraih,

politisi senior Golkar Akbar Tandjung yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Kehormatan DPP Golkar menuntut evaluasi.

Akbar kemarin menghadiri pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid-Hj Sumiatun di Mataram. Akbar pun tak menampik jika perolehan sementara suara Golkar secara nasional menurun.

”Saya mencermati dari perhitungan quick count ternyata Golkar dari persentase suara terjadi penurunan,” ujarnya.

Akbar menjelaskan, jika pada pemilu 2014 lalu Golkar berada di posisi kedua dengan dukungan 91 kursi (14,5 persen). Namun hingga saat ini persentase suara Golkar masih berada di kisaran 11 persen sampai 12 persen.

”Ini harus menjadi perhatian khusus dari petinggi-petinggi partai Golkar. Terutama pengurus DPP Golkar termasuk kami selaku senior di Golkar,” katanya.

Sebagai Wakil Ketua Dewan Kehormatan DPP Golkar, apa yang terjadi pada pemilu 2019 ini akan menjadi pertimbangan dalam mengambil langkah-langkah strategis kedepan. Ini harus dilakukan agar Golkar tetap menjadi kekuatan politik yang berada di dua besar.

Menurut Akbar, dirinya belum bicara secara khusus terkait hasil perolehan pemilu legislatif sementara dengan Ketua Umum DPP Golkar Airlangga Hartarto.

”Melihat persentase hasil pileg terakhir ini, bisa dikatakan saudara Airlangga sebagai ketua umum tidak berhasil,” tegasnya.

Akbar menambahkan, melihat hasil persentase sementara Golkar di pileg menimbulkan rasa kecewa. Karena sejak awal dirinya sudah berpesan kepada ketua umum, tugas utamanya adalah meningkatkan suara partai dan perolehan kursi partai. Hal ini cukup logis untuk dilakukan karena Golkar pernah menjadi pemenang pemilu.

”Tentu saja harus ada evaluasi bersama. Semua pimpinan di partai harus mengevaluasi agar bisa menyiapkan langkah yang tepat untuk agenda nasional lima tahun lagi,” katanya. Untuk mengembalikan kejayaan Golkar, Akbar mengatakan memerlukan energi tambahan. Tapi kejayaan Golkar masih bisa diwujudkan karena Golkar pernah menjadi pemenang.

Akbar berkisah, ketika dia menjadi ketua Golkar, saat itu banyak tekanan yang dihadapi. Khususnya pada periode 1998 sampai 2004. Bahkan saat itu Golkar ditekan sampai mengarah pada pembubaran partai Golkar.

Tetapi di tengah tekanan itu, Golkar pada 1999 bisa mencapai posisi kedua dengan raihan 120 kursi dibawah PDIP. ”Waktu itu Golkar dapat pemilih 24 juta,” cetusnya.

Bagi Pengamat politik NTB Agus, perubahan eskalasi politik di NTB di mana dukungan pada Gerindra bisa meningkat, dinilai disebabkan efek ekor jas dari popularitas Prabowo Subianto di NTB. Dengan hasil ini, terbukti efek ekor jas itu memang ada dan dirasakan dampak positifnya bagi Gerindra.

”Saya rasa PDIP juga mendapat manfaat tapi tidak signifikan seperti Gerindra. Karena NTB memang lumbung suara Prabowo,” katanya.

Perolehan suara Golkar yang lebih rendah dari Gerindra di NTB, juga kata dia, menunjukkan jika peran tokoh di NTB tidak terlalu berpengaruh. Misalnya saja TGB HM Zainul Majdi yang masuk dalam barisan partai Golkar tidak menimbulkan efek bagi Golkar dalam hal perolehan suara.

Pola pemilu serentak ini memberikan efek luar biasa bagi partai politik. Isu pilpres lebih kencang dan menyentuh langsung emosional pemilih. Sehingga pengaruh tokoh lokal seperti TGB menjadi terkikis. (puj/dss/kus/r6)

Berita Lainnya

Bukit Nipah dan Padanan Terbakar

Redaksi LombokPost

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Uang Korban Gempa Dicuri Mandor

Redaksi LombokPost

Kejuaraan Paralayang Nasional Diikuti 153 Peserta

Redaksi LombokPost

Melihat Persiapan Pemkot Menyambut HUT Kota Mataram Ke-26

Redaksi LombokPost

Korban TPPO Banyak Dijual ke Suriah

Redaksi LombokPost

Wajib Pakai Besi Kolom Sepuluh Mili

Redaksi LombokPost

Tok, Tok, Tok, Bank Rontok

Kafilah Kecamatan Mataram Juara MTQ XVIII