Lombok Post
Feature

Seharian di Rumah Tengah Hutan Komika Dodit Mulyanto

Dodit memberi makan kuda peliharaannya. FOTO : DIMAS/JAWA POS

Ada dua alasan kenapa Dodit Mulyanto membangun rumah di tengah hutan: karena ingin bebas punya ’’kebun binatang’’ dan ’’balas dendam’’. Dari lahan yang luas itu, kebutuhan dasar sang pemilik dan hewan piaraan sudah bisa terpenuhi.

FAHMI SAMASTUTI, Mojokerto

===========================

HANYA bunyi cenggeret dan riak kali kecil yang terdengar dari kejauhan saat kami mengelilingi ’’kebun binatang kecil’’ itu. Ada dua kambing, dua kuda, dan tiga anjing penjaga.

Di sudut lain lagi, dekat toilet yang terpisah dari bangunan utama, masih ada empat ekor anjing kampung dan Beagle. ’’Kalau di sini, ojo turu awan (jangan tidur siang),’’ kata Dodit Mulyanto, sang pemilik rumah, sembari terus berjalan pelan, memperhatikan semua piaraannya. ’’Mending ngarit atau kerjo sampek kesel,’’ lanjutnya.

Selasa pagi sampai sore dua pekan lalu itu (9/4) kami berada di rumah tengah alas (hutan) komika sekaligus aktor tersebut. Rumah yang berada di lereng Gunung Pundak, Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, itu dikepung pepohonan tinggi.

Bertetangga dengan ladang sayur milik penduduk setempat dan kandang sapi. Rumah tetangga? Yang terdekat sekitar 500 meter jaraknya!

Dari Surabaya, Pacet sebenarnya bisa dijangkau dalam satu setengah jam. Tapi, rumah Dodit tersembunyi jauh dari keramaian destinasi wisata andalan Mojokerto itu.

Dari pusat Kecamatan Pacet, perjalanan harus dilanjutkan sekitar 15 menit ke Claket, desa yang terletak di antara Pacet dan Trawas, dua kecamatan di Mojokerto yang sama-sama berada di lereng gunung. Sebagian area desa itu masuk area taman hutan rakyat (tahura).

’’Nanti masuk gang, lurus notok saja. Nanti ada pagar kayu,’’ tulis Angelina Ci, manajer Dodit, dalam pesan singkat.

Cici, sapaan Angelina, tidak memberikan titik lokasi via aplikasi peta. ’’Sinyalnya kadang ada, kadang nggak,’’ lanjutnya.

Rumah di atas lahan 6 ribu meter persegi itu dibangun komika asal Blitar, Jawa Timur, tersebut dua tahun lalu. Untuk bisa mencapainya, harus melewati jalan makadam dan barongan alias semak bambu yang lumayan lebat. Setelahnya, krik… krik… krik… Benar-benar sepi. Tak ada lalu-lalang orang atau kendaraan.

’’Kenapa ketika lo punya duit banyak, lo malah mau tinggal di hutan?’’ tanya komika, sutradara, dan penulis Raditya Dika kepada Dodit dalam salah satu vlog-nya.

Kepak sayap Dodit memang merentang jauh sejak dia mengikuti pencarian bakat komika di salah satu stasiun televisi. Sejumlah film telah dibintangi mantan guru geografi tersebut. Juga, serial televisi dan iklan. Belum lagi tawaran manggung di berbagai kota.

Pria 33 tahun yang piawai bermain biola itu juga punya sebuah usaha kedai kopi di Surabaya, kota tempat dia pernah menjadi guru biografi dan mengajar ekstrakurikuler musik di sebuah SMA.

Kepada koran ini, Dodit mengaku memang sejak lama ingin punya rumah luas. Yang adoh lor kidul (jauh dari mana-mana). Tempat dia bisa bebas memelihara berbagai hewan tanpa harus, dalam bahasa pemeran dalam film Kulari ke Pantai itu, nggrusuhi tanggane (mengganggu tetangga).

Ide itu mustahil diwujudkan di kota besar dan permukiman padat penduduk. ’’Iso dadi omongan (bisa jadi bahan gunjingan),’’ katanya sembari ngarit (mencari rumput).

Sepanjang koran ini di sana, Dodit memang nyaris tak berhenti beraktivitas. Mulai memasang pelat hiasan dinding, memeriksa kandang, hingga ngarit. Kadang-kadang, kalau lagi mood, dia juga menulis.

Hanya disela istirahat sejenak dan makan siang. Baru benar-benar berhenti saat sore menjelang.

Tidak tidur siang itu ada tujuannya. Agar saat malam bisa langsung terlelap. Sebab, kalau susah memejamkan mata, siap-siap saja celingukan bingung mau mengerjakan apa.

Malam-malam di rumah alas itu, kata Dodit, terasa begitu panjang. Pukul 19.00, suasana sekitar sudah sepi. Listrik memang ada. Tapi, mau streaming atau akses media sosial, sinyalnya pun tidak stabil. Nonton TV? Tentu tidak. Karena memang tidak ada!

Hiburan satu-satunya, gemerlap lampu kota di kejauhan. Selebihnya, gelap. Alumnus Universitas Sebelas Maret, Surakarta, tersebut sempat berniat memasang obor.

’’Nggak sido apik (bukannya bagus), malah medeni (bikin takut),’’ terangnya.

Tapi, suasana sunyi dan gulita tak pernah jadi masalah bagi Dodit. Begitu pula kabar mistis soal ’’penunggu’’ di sana. Sebab, dia terbiasa mendaki gunung.

Justru, hawa dingin yang bisa bikin badan menggigil, terutama jelang pagi, yang lebih dia takuti. ’’Kalau tidak pakai selimut tebal, nggak bisa tidur,’’ katanya.

Sebelum dibeli Dodit, lahan luas itu dulu kebun buah naga yang terbengkalai. Lantaran tak terurus, tumbuhan itu menjelma menjadi gulma yang sulit dibasmi.

Batang tanaman sulit dibakar karena basah. Dibiarkan, malah muncul tunas baru. Harus dipendam. Buat membuka lahan, butuh 19 hari kerja dan 7 orang tukang.

Mulai membangun juga tidak mudah. Tidak banyak tukang yang bersedia menggarap. Sebab, lokasinya jauh.

Proses pembangunan ditangani sendiri olehnya. Rancangannya, suka-suka. ’’Digambar-gambar dewe, digarap dewe bareng tukang, ben podo koyok karep (digambar sendiri, dikerjakan sendiri bersama tukang),’’ ungkap Dodit.

Dia tidak memilih materi yang terlalu rumit. Hanya kayu, paving, beton cor, bata.

Bangunan kediaman Dodit itu terdiri atas rumah pendapa dan rumah utama. Ada satu kamar di lantai atas rumah utama. Kamar mandi dan dapur sekaligus ruang makan di lantai bawah. Dapur dan ruang makannya terbuka, tanpa dikelilingi tembok.

Di pendapa, dia punya akuaponik, hasil kerja sama dengan komunitas berkebun. Di bagian bawah pendapa, dia punya tiga kolam. Dua di antaranya diisi tombro dan nila.

Di bagian atas, Dodit menanam kangkung, selada air, dan mint. Praktis, seperti kehidupan dalam game Harvest Moon, untuk keperluan dasar hidup, Dodit bisa memenuhi dari lahan miliknya di tengah hutan tersebut. Termasuk keperluan rumput gajah untuk kambing dan kuda, juga dia tanam sendiri.

Sehari-hari rumah tengah alas Dodit itu dijaga Pak Dul dan Pak Ngadiyo, dua warga setempat. Mereka juga yang merawat Armageddon dan Jon Rudi. Serta Bingar, Lupe, dan Hero.

Dua yang pertama itu nama kuda-kuda Dodit yang diadopsi dari kawasan Pantai Kenjeran, Surabaya. Sedangkan tiga yang terakhir adalah nama ketiga anjing yang sudah ’’disekolahkan’’ langsung di pelatih tim K-9 Polrestabes Surabaya. Jadi, meski garang, seluruhnya patuh.

’’Mas Dodit biasa angon (beternak). Jadi, ngerti pas hewannya sakit, mau kawin, kudu diapakne (harus diapakan),’’ ucap Pak Dul.

Bagi Dodit, rumah di lahan luas itu juga seperti bentuk ’’balas dendam’’. Maklum, dia tuwuk (kenyang) merasakan pengalaman bertempat di ruangan sempit. Mulai kamar kos hingga ruang apartemen.

Karena itu, di rumah di Claket tersebut, dia benar-benar bermain-main dengan penempatan fungsi. Kandang hingga toilet pun disebar di berbagai titik. Alasannya, biar penasaran.

Salah satu toilet dibuat di luar ruangan, di tengah hamparan rumput.

Tidak berpintu, open air. Tapi tetap aman karena masih di dekat kandang anjing. ’’Rasakne, ndek kene nek kebelet rekoso (rasakan, di sini kalau kebelet susah), hahaha…’’ ujar pria yang membuka akun YouTube pada 2017 itu.

Sejumlah sahabat sudah pernah mengunjunginya di rumah itu. Juga, kedua orang tua. ’’Tapi, bapak dan ibu ndak saya ajak nginep lama-lama di sini. Sebab, kontur rumah ini naik turun, tidak cocok untuk orang tua,’’ katanya.

Sebagian ’’tamu’’ rutin ke rumah itu, antara lain, bajing, ayam hutan, dan tawon. Yang tentu tidak bisa setiap hari ditemui sang pemilik rumah.

Karena kesibukannya, Dodit hanya bisa satu dua hari menyambangi rumah di tengah hutan tersebut. Itu pun tidak selalu menginap.

Karena itu pula, dia belum bisa sepenuhnya ’’bonding’’ dengan kedua Armageddon dan Jon Rudi. Padahal, dia punya cita-cita: berkuda untuk jarak jauh.

’’Aku pengin munggah (mendaki) gunung numpak jaran (naik kuda). Jalan ke minimarket (sekitar 4,5 kilometer dari rumahnya, Red) numpak jaran,’’ ujarnya. (*/c5/ttg/JPG/r6)

Berita Lainnya

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Mantap, Polterkpar Lombok Masuk PATA

Redaksi Lombok Post

Makan Limbah, Ikan Jadi Berkelamin Ganda

Rebecca Alexandria Hadibroto, Dua Tahun Berturut-turut Juarai Kejuaraan Balet Dunia

Para Orang Tua yang Membantu Anak Menapaki Jalan Sukses di Festival Akuatik Indonesia

IPK 4 Dapat VIP, di Bawah 3 Nonton YouTube

Ngajinya Bagus Meski Tubuh Dirajam Tato

Redaksi LombokPost

Kartinian di Desa Kelahiran Kartini, di Tengah Impitan Pemilu dan Ujian Sekolah

Redaksi LombokPost