Lombok Post
Giri Menang Headline

Kelelahan, Enam PPS Tumbang

TERBARING: Nuriman, salah seorang petugas PPS saat dirawat di Puskesmas Kediri, kemarin

GIRI MENANG-Pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu tahun ini menyisakan banyak masalah. Mulai dari proses rekapitulasi yang banyak disorot hingga persoalan teknis penyelenggaraan Pemilu.

Pelaksanaan Pemilu di Lombok Barat (Lobar) menyebabkan sejumlah petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) tumbang karena kelelahan. Mereka kini dirawat di rumah sakit dan sejumlah puskesmas.

“Sekitar seminggu saya dirawat sejak hari pemungutan dan penghitungan. Awalnya dirawat di Puskesmas Kuripan tapi sekarang dirujuk ke Puskesmas Kediri sejak Senin (22/4) lalu,” aku Nuriman, salah seorang petugas PPS Desa Kuripan yang terkulai lemah di ruang perawatan Puskesmas Kediri, kemarin (24/4).

Pria berusia 29 tahun tersebut mengaku dirinya merasakan pusing yang luar biasa pasca berlangsungnya proses pemungutan hingga penghitungan suara. Lantaran, proses pemungutan hingga penghitungan tersebut berlangsung sejak pagi pukul 07.00 Wita hingga pukul 02.00 Wita dinihari.

Proses ini ternyata menguras tenaga dan pikirannnya. Hingga akhirnya stamina serta tekanan darahnya menurun drastis. “Kepala saya pusing sekali nggak kuat saya tahan.  Saya nyaris pingsan makanya saya langsung dibawa keluarga ke Puskesmas,” akunya.

Setelah dicek kondisi medisnya, ia divonis kelelahan mengakibatkan terjadinya gejala tipes. Sehingga ia pun harus mendapatkan perawatan intensif rawat inap. Nuriman akhirnya dirujuk ke Puskesmas Perawatan Kediri.

Selama perawatan di puskesmas, Nuriman mengaku menghabiskan biaya yang cukup besar. Mulai dari biaya makan bagi keluarga menjaga, biaya kebutuhan makan hingga biaya kebutuhan lainnya.

“Honor Rp 522 ribu sudah lama habis. Selama dirawat justru habis sekitar Rp 1 juta. Lebih banyak habis biaya dirawat dari honor yang kita dapat,” ungkapnya.

Ia merasakan tugas menjadi PPS pada Pemilu ini terlalu berat. Para petugas PPS dihadapkan untuk menyelesaikan tanggung jawab mereka hingga larut malam. Akibat banyaknya surat suara yang dihitung.

Di satu sisi, para PPS merasa bertanggung jawab menyelesaikan tugasnya hingga tuntas. “Mau tidak mau begadang sampai tengah malam demi tugas,” ungkapnya.

Padahal, jika dibandingkan dengan Pilkada beberapa waktu lalu, kondisinya jauh lebih mudah. Dengan honor yang didapatkan sama dengan pelaksanaan Pemilu.

“Maka kami berharap ke depan sistem pemilu ini bisa dievaluasi. Karena kan sudah ada puluhan yang meninggal. Jangan sampai ada korban lagi seperti saat ini,” harapnya.

Komisioner Divisi Sosialisasi KPU Lombok Barat (Lobar) mengakui saat ini sejumlah PPS hingga PPK dilaporkan sakit pasca pemilu. Petugas yang tumbang itu terbesar di beberapa kecamatan. Mulai dari wilayah Lembar, Batulayar, Gunungsari, hingga Kuripan.

“Sejauh ini ada lima laporan yang kami terima. Informasi awal memang mereka sakit kecapean,” aku Riadi.

Dengan kondisi ini, KPU Lobar mengaku belum bisa mengambil tindakan. Misalnya untuk memberikan bantuan atau santunan biaya berobat kepada petugas PPS yang dirawat di puskesmas atau rumah sakit.

“Itu akan kita diskusikan bersama komisioner yang lain. Karena belum ada aturan atau regulasi untuk itu (memberikan bantuan biaya berobat menggunakan anggaran KPU, Red),” tandasnya. (ton/r3)

Berita Lainnya

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Zohri Spektakuler! Genggam Tiket ke Tokyo 2020

BNI Tebar 100 Ribu Bingkisan Ramadan

Disperindag Cek Kecurangan SPBU

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Progres RTG Belum Sesuai Harapan