Lombok Post
Feature

Ngajinya Bagus Meski Tubuh Dirajam Tato

Baca: Tegur Sapa Umpatan Berganti Assalamualaikum

Anggapan penjara sebagai tempat penghakiman pelaku kriminal dikikis Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mataram. Upaya itu diwujudkan melalui Pesantren An Nur, sebuah langkah untuk membina akhlak para pesakitan.

Wahidi Akbar Sirinawa, Mataram

===========================

Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.20 Wita. Namun lorong-lorong Lapas Mataram mulai terlihat ramai. Sejumlah warga binaan keluar dari sel masing-masing. Mengenakan sarung dan baju terbaik mereka.

Ratusan warga binaan melangkahkan kakinya menuju masjid At Taubah. Mengambil wudu dan duduk dengan rapi mengisi ruang kosong di dalam masjid. Bersiap mengikuti pendidikan agama di Pesantren An Nur Lapas Mataram.

Pesantren di Lapas Mataram resmi berdiri 10 April lalu. Satu-satunya pesantren di NTB yang berada di penjara. Karena berada di areal penjara, santriwan dan santriwatinya tentu warga binaan lapas.

Stigma kelam memang melekat bagi mereka yang masuk dan menjalani hukuman di penjara. Tapi, bukan berarti tidak ada titik balik untuk melakukan perubahan. Poin ini yang kemudian menjadi landasan Lapas Mataram menginisiasi berdirinya Pesantren An Nur.

“Kita gugah mereka melalui pendekatan kerohanian. Harapannya tentu membawa perubahan bagi akhlak dan perilaku setelah menjalani hukuman,” kata Kalapas Mataram Tri Saptono.

Kegiatan Pesantren An Nur dimulai dari pagi hari hingga setelah salat Isya. Di waktu pagi, tepat setengah jam sebelum jam berkunjung pukul 09.00 Wita, warga binaan bersama-sama melaksanakan salat Duha.

Setelah itu dilanjutkan dengan baca tulis Alquran. Satu dua warga binaan terlihat kikuk dan canggung saat mengaji. Terbata-bata membaca penggalan ayat-ayat Alquran. Tetapi, jumlah mereka minoritas.

Lebih banyak lagi warga binaan, yang rupanya lancar melafalkan setiap huruf di Alquran. Suara mereka juga cukup merdu. Kontras dengan tampilan warga binaan yang terlihat sangar. Penuh tato di sekujur tangannya.

Setelah mengaji, kegiatan dilanjutkan dengan mendengar tausiah. Penceramahnya juga berasal dari warga binaan. Tri Saptono mengatakan, pihaknya telah menjalin koordinasi dengan Kemenag NTB. Meminta agar ada mubalig yang berkenan memberi siraman rohani di Pesantren An Nur.

”Ustad di Pesantren An Nur juga dari warga binaan,” sebut dia.

Selain mengaji, ada kelas untuk pembinaan akhlakul karimah. Kegiatan itu dilakukan dari Senin hingga Kamis. Warga binaan diajarkan mengenai sejarah Islam, fikih, akidah, bahkan hingga tata cara wudu dan salat dengan benar.

Untuk menunjang seluruh kegiatan di Pesantren An Nur, Lapas Mataram mendaulat empat warga binaan sebagai pengasuh sekaligus ustad. Mereka dinilai memiliki kemampuan agama yang lebih, selayaknya tuan guru di sejumlah pesantren di Lombok.

”Mereka nanti bisa berkolaborasi dengan ustad dari luar untuk memberikan pelajaran agama Islam,” ucap Tri.

Tri tak menyangka, antusiasme warga binaan cukup tinggi dengan keberadaan Pesantren An Nur. Pihak Lapas bahkan harus memberi jadwal dengan bergiliran, agar kegiatan pesantren bisa berjalan nyaman bagi warga binaan.

”Kita sesuaikan dengan urutan kamar. Jadi bergiliran,” jelasnya.

Apa yang diucapkan Tri dibuktikan Lombok Post saat melihat Pesantren An Nur pekan lalu. Ketika azan Zuhur berkumandang dari Masjid At Taubah, ratusan warga binaan bergerak menuju masjid.

Masjid hanya mampu menampung sekitar 200 jamaah. Jumlahnya tidak sesuai dengan banyaknya warga binaan yang hendak salat. Karena itu, warga binaan yang terlambat datang terpaksa harus mengantre. Menunggu giliran salat berjamaah.

”Subuh, Magrib, Isya, Zuhur, Asar ramai. Tidak pernah saya lihat masjid yang kalau mau salat berjamaah saja harus antre,” tutur Muhir, salah satu warga binaan Lapas Mataram.

Muhir yang terjerat kasus korupsi, mengapresiasi langkah Lapas Mataram membuka pesantren. Menurut dia, siraman rohani mampu memberi kesejukan bagi warga binaan. Membuat hati yang keras menjadi lembut.

Sebagai santri di Pesantren An Nur, Muhir merasakan betul dampaknya. Dia melihat ada perubahan dari warga binaan dari sisi perilaku dan emosional.

”Saya buktikan sendiri, dulu itu sapaannya setan, acong (anjing). Setelah ada pesantren, kalau ketemu itu semuanya bilang Assalamualaikum. Dengarnya jadi lebih sejuk,” ungkap politisi Golkar itu.

Warga binaan lainnya, Gita menyebut keberadaan Pesantren An Nur untuk menebus kesalahannya di masa lampau. Menjadikan dirinya lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahan setelah menjalani hukuman di penjara.

”Ikut terus (kegiatan) di pesantren. Itu juga jadi catatan kelakuan baik kita selama di sini,” sebut pria yang dihukum karena kasus narkoba itu.

Harapan Muhir, Gita, dan warga binaan lainnya sejalan dengan Lapas Mataram. Pihak Lapas menginginkan selepas masa hukuman, warga binaan bisa diterima masyarakat. Modal pembinaan akhlak di Pesantren An Nur diharapkan menjadi bekal terjun di kehidupan sosial bermasyarakat.

Seperti namanya, An Nur yang berarti cahaya. Pesantren Lapas Mataram diharapkan memberi petunjuk bagi warga binaan untuk keluar dari dunia kelam dan bisa menjalankan hidup yang bermanfaat bagi masyarakat.

”Semua yang kita perbuat pertanggungjawabannya kepada Tuhan. Berbuat baik jangan ketika hanya ada petugas atau orang lain, tapi karena kita selalu diawasi Tuhan Yang Maha Melihat,” kata Dirjen Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami. (*/r3)

Berita Lainnya

Praka Anumerta Sirwandi, Pahlawan Negara dari NTB yang Gugur di Papua

Redaksi LombokPost

Asal-Usul Baju Adat Sasak yang Dikenakan Jokowi

Redaksi LombokPost

Duta Bahasa NTB Juara Favorit

Redaksi Lombok Post

Ayo Dukung Duta Bahasa NTB

Redaksi Lombok Post

Amman Mineral dan YMBH Serahkan Hewan Kurban di Sumbawa dan Lombok

Redaksi Lombok Post

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Mantap, Polterkpar Lombok Masuk PATA

Redaksi Lombok Post

Makan Limbah, Ikan Jadi Berkelamin Ganda