Lombok Post
Kriminal

Dae Ferra Berkelit Tak Terima Fee

BERI KESAKSIAN : Saksi Hj Ferra Amalia memberikan kesaksian dihadapan majelis hakim terkait kasus korupsi Sampan Fiberglass di Pengadilan Negeri Tipikor Mataram, Selasa (30/4).

MATARAM-Sidang kasus dugaan korupsi Sampan Fiberglass kembali berlanjut, Selasa (30/4). Pada sidang dengan terdakwa Taufik Rusidi itu, menghadirkan saksi Hj Ferra Amalia, selaku mantan Ketua DPRD Kota Bima.

Dae Ferra sapaan akrabnya, mengaku tak terlibat langsung dalam proyek. Dia hanya membantu mengurus administrasi pengajuan penawaran hingga pencairan uang proyek.

Dari data informasi, pada proyek itu ada lima perusahaan yang menjalankan proyek tersebut. Masing-masing perusahaan melakukan pengadaan peralatan sampan di daerah terpisah.

Misalnya seperti CV Wadah Bahagia melakukannya di Desa Lamere, Sape dengan kontrak Rp 198.380.000. CV Lewamori Putra di Desa Kore kontraknya Rp 198.290.000. CV Lamanggila di Desa Punti dengan nilai Rp 198.450.000. CV Sinar Rinjani dengan nilai kontrak Rp 198.380.000. Terakhir,  CV Bima Putri Pratama di Desa Bajo Pulau dengan nilai kontrak Rp 198.200.000.

Setelah administrasi perusahaan selesai, Dae Ferra tak melanjutkan perannya langsung. Dia menyerahkan seluruh prosesnya ke Abdul Haris. ”Semua diurus Abdul Haris hingga mengantarkan seluruh berkas administrasi perusahaan itu ke Dinas PU Kota Bima,” terangnya dihadapan Majelis Hakim.

Saat ditanya Suradi selaku ketua majelis hakim mengenai fee proyek, Dae Ferra malah berkelit. ”Saya tidak terima fee dari masing-masing perusahaan,” kelitnya.

Dia juga mengaku  tidak pernah berhubungan secara langsung dan tidak langsung dengan Dinas PU. ”Setelah semua proses administrasi selesai saya tidak pernah berhubungan dengan orang PU,” ucapnya.

Dia mengerjakan persyaratan administrasi perusahaan itu karena dimintai tolong oleh almarhum mantan Bupati Bima Ferry Zulkarnain. ”Saya hanya diminta untuk menyelesaikan proses hingga pencairan anggarannya,” bebernya.

Dae Ferra juga mengaku, dirinya kurang paham dengan pengerjaan fisik di lapangan. Proses  pekerjaan fisik sampan dilakukan Abdul Halim  dari PT Bima Mutiara Sanggar  (BMS). “Perusahaan yang saya urus itu hanya membeli peralatan nelayan. Seperti, mesin sampan, jaring, pelampung, dan kompas,” jelasnya.

”Satu sampan mendapatkan dua mesin. Per mesin harganya Rp 16,5 juta. Jadi, totalnya untuk satu sampan Rp 33 juta,” ungkapnya. (arl/r2) 

Berita Lainnya

Jual Sabu Untuk Modal Kawin, Dua Sejoli Kompak Masuk Bui

Redaksi LombokPost

Nyabu Biar Lebih Bergairah

Redaksi Lombok Post

Mantan Kepala Kemenag Bima Ditahan, Tersandung Korupsi Tunjangan Guru di Bima

Redaksi Lombok Post

Zaini Arony Diklarifikasi Soal LCC

Redaksi LombokPost

Tersangka Penyuap Imigrasi Segera Diadili

Redaksi LombokPost

Rekanan Proyek THR Diklarifikasi

Cari Selamat, Maling Amatir Hianati Kawan

Dorfin Dituntut 20 Tahun Penjara

Redaksi LombokPost

Jaksa Usut Pengadaan Bibit THR

Redaksi LombokPost