Lombok Post
Feature

IPK 4 Dapat VIP, di Bawah 3 Nonton YouTube

NONTON BARENG : dari Kanan ke Kiri, Muh Fauzi Al Baihaqi, Retno Murtiningrum, Apriliana, Arinurasti Rahma L dan Aji Anjasmara datang bersama diacara Konser dengan IPK di UNY--FOTO : LYNDA PUTERI/JAWAPOS

Konser musik tidak biasa berlangsung di GOR Universitas Negeri Yogyakarta kemarin. Bukan soal panggungnya. Bukan pula pengisi acaranya. Namun, cara masuk penontonnya. Tiketnya ”dibeli” dengan indeks prestasi kumulatif (IPK).

 FERLYNDA PUTRI, Jogjakarta

==========================

MAHASISWA UNY dengan IPK 3,75 hingga 4,00 punya kesempatan istimewa saat nonton konser musik yang dilangsungkan untuk memperingati dies natalis ke-55. Kursinya VIP. Posisinya persis di depan panggung.

Mereka yang IPK-nya di bawah itu tentu masih bisa turut menyaksikan. Namun, posisinya tentu di belakang yang pinter-pinter. Mahasiswa ber-IPK di bawah 3 hanya bisa streaming lewat YouTube.

Acara unik itu bermula dari Clara Straordinaria, mahasiswa program studi pendidikan bahasa Inggris. Semula, dia hanya iseng mengirim direct message (DM) Instagram ke Rektor UNY Sutrisna Wibawa. Isinya, Clara menginginkan agar saat dies natalis nanti kampus mengundang sederet artis.

Gayung bersambut, DM yang dikirimkan Maret lalu ternyata ditanggapi serius oleh Sutrisna. Namun, Sutrisna mengajukan syarat bahwa penonton konser tidak gratisan.

Pembagian kursi konser harus bisa menunjukkan IPK. Semakin tinggi IPK-nya, tempat duduk yang didapatkan istimewa.

Percakapan Sutrisna dengan Clara itu lalu di-posting di akun IG-nya. Sebanyak 19.348 orang menge-like posting-an tersebut. Selain itu, ada 1.961 komentar yang menghiasi foto yang diunggah 26 Maret tersebut.

Kemarin malam (1/5) Clara datang ke konser tersebut. Dia termasuk pendaftar pertama. ”Nggak nyangka kalau bakal terealisasi. Dulu DM Pak Rektor karena iseng. Clara suka nonton konser dan pengin ada konser di UNY,” katanya kemarin.

IPK Clara 3,68. Berarti, dia mendapat tempat duduk di platinum. Di belakang kursi VIP. Malam itu Clara cukup cantik. Datang dengan mengenakan blus merah dan rok hijau. Lipstik merah dengan rambut sebahu yang tergerai.

Dia sengaja berdandan spesial untuk acara yang diusulkannya itu. Sayang, malam itu Clara harus berpisah dengan tiga teman lainnya karena berbeda raihan IPK. Tiket yang berbentuk soft file sudah dia download. Berdasar aturan main, ketika masuk, tiket IPK beserta kartu tanda mahasiswa (KTM) tersebut harus ditunjukkan kepada panitia, yang tak lain para anggota resimen mahasiswa (menwa).

Koran ini mengikuti Clara masuk GOR. Di dalam ternyata sudah hampir separo kursi terisi. Di tribun pun sudah banyak yang duduk. Beberapa dari mereka kipas-kipas menggunakan kertas lantaran hawa GOR yang gerah.

Bukan hanya Clara yang antusias dengan konser tersebut. Apriliana, mahasiswa fakultas bahasa dan seni (FBS), juga datang. Dia lebih beruntung daripada Clara. Dia bisa satu baris dengan empat orang temannya. ”Baru kali ini ada konser di UNY. Menarik bintang tamunya,” tutur mahasiswa tahun kedua itu.

Ditemui di tempat terpisah, Sutrisna bercerita bagaimana dirinya menuruti keinginan mahasiswa. Setelah mem-posting percakapannya dengan Clara, Sutrisna mendapat banyak DM dari mahasiswa. Intinya, mendukung adanya konser dengan syarat IPK tersebut. Ada yang meminta untuk mendatangkan Sheila on 7, Tulus, hingga sederet artis yang lain.

Beruntung, 2 April ada kunjungan dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY. ”Saya ceritakan apa yang menjadi konsep. Langsung setuju,” tuturnya. Salah satu obrolannya adalah tidak ada tiket yang dijual. Melainkan dengan IPK. Obrolan itu tak lebih dari 5 menit.

Nah, pekerjaan rumah lainnya adalah mencari pengisi konser. Acara tersebut harus dilaksanakan sebelum puasa meski dies natalis UNY jatuh pada 21 Mei. Artinya, persiapan hanya sebulan.

Dia meminta Wakil Rektor III Sumaryanto yang menangani acara. Seluruh manajer penyanyi yang diusulkan mahasiswa ditelepon. ”Sheila on 7 harus booking setahun sebelumnya. Yang bisa Maliq & D’Essentials,” kata pria 59 tahun itu.

Setelah sponsor dan pengisi acara didapat, Sutrisno segera memberikan pengumuman agar mahasiswa registrasi. Caranya, mendaftar lewat web sistem akademik (siakad) UNY. Antusiasme mahasiswa ternyata tinggi. Enam jam setelah pengumuman, 7.500 tiket ludes.

Ada juga mahasiswa yang tidak kebagian tiket. Mereka pun menunggu antrean kalau ada mahasiswa lain yang tidak konfirmasi. Dengan begitu, mereka bisa menggantikan yang absen. Hingga kemarin pagi, jumlahnya tak banyak, hanya 300 mahasiswa yang belum konfirmasi. Malamnya tiket sudah ludes.

Acara itu juga paperless. Tiket tidak di-print. Mahasiswa UNY. Melainkan masuk dengan tiket online. Ini untuk melatih mahasiswa agar cinta kepada alam. ”Pintu masuknya dibedakan menurut IPK. Sehingga tidak berjubel,” tutur pria kelahiran Gunungkidul itu.

Ada empat pintu masuk. Satu di bawah, tiga di lantai atas. DI setiap pintu setidaknya ada tiga anggota menwa yang menjaga.

Menurut Sutrisna, ulang tahun kampus harus bisa dinikmati seluruh warga kampus. Mahasiswa harus dilibatkan. Tidak hanya sebagai peserta, tapi juga panitia. Karena itu, kebanyakan yang mengerjakan acara tersebut adalah panitia. Mulai penyelenggara acara hingga pengamanan. Unit kegiatan mahasiswa (UKM) dilibatkan. Alumni pun diikutsertakan.

Penampilan semakin marak ketika Sutrisna beserta jajaran rektorat memberikan kejutan dalam acara itu. Mereka turut menyumbangkan lagu. Rektor dan empat wakil rektor menyanyikan dua lagu berjudul Sedulur dan Jogja Istimewa dari Jogja Hip Hop Foundation. Mereka turut ngerap. ”Kami berlatih sendiri-sendiri dengan HP,” ujar Sutrisna.

Dia yang sepekan sebelum acara berada di Tiongkok dan Jerman tetap menyempatkan latihan. Maklum, ngerap bukan hal yang mudah bagi kakek satu cucu itu. ”Dua lagu ini saya yang pilih. Maknanya bagus karena mengingatkan soal persaudaraan,” katanya.

Sejak pagi Sutrisno berencana tidak mengenakan batik. Dia memilih mengenakan baju kotak-kotak dengan bawahan celana jins. Penampilan wakil rektor III lebih nyentrik karena menggunakan celana jins gombrong ala penyanyi hiphop. Atasannya pakai polo shirt.

Jogja… Jogja… tetap istimewa

Istimewa negerinya… istimewa orangnya

Jogja… Jogja… tetap istimewa

Jogja istimewa… untuk Indonesia

Mahasiswa yang menonton menirukannya dengan kompak. Kapan lagi bisa lihat Pak Rektor dan jajarannya ngerap. (*/c10/git/JPG/r6)

Berita Lainnya

Praka Anumerta Sirwandi, Pahlawan Negara dari NTB yang Gugur di Papua

Redaksi LombokPost

Asal-Usul Baju Adat Sasak yang Dikenakan Jokowi

Redaksi LombokPost

Duta Bahasa NTB Juara Favorit

Redaksi Lombok Post

Ayo Dukung Duta Bahasa NTB

Redaksi Lombok Post

Amman Mineral dan YMBH Serahkan Hewan Kurban di Sumbawa dan Lombok

Redaksi Lombok Post

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Mantap, Polterkpar Lombok Masuk PATA

Redaksi Lombok Post

Makan Limbah, Ikan Jadi Berkelamin Ganda