Lombok Post
Metropolis

Wisata Halal Imbangi Dominasi Barat

CANTIK: Salah seorang wisatawan muslim menikmati suasana sunset di Pantai Senggigi, Lombok Barat, kemarin

MATARAM-Pariwisata halal merupakan kosep kepariwisataan paling tepat di tengah guncangan revolusi industri 4.0. Wisata halal sekaligus menjadi penyeimbang dominasi budaya barat dalam pengembangan pariwisata Indonesia. NTB dengan wisata halalnya berada di jalur yang benar. Tinggal mengemasnya agar diterima secara global.

”Ini tantangan yang harus dijawab, bagaimana membuat wisata halal lebih diterima secara universal,” kata Dosen Program Studi Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali Ignatius Sonny Wyarso Amiluhur, pada Lombok Post, kemarin (1/5).

Dia mengatakan, pemahaman masyarakat tentang wisata halal harus diluruskan. Jangan sampai terjebak pada bayangan pariwisata halal harus bernuansa Arab. Tapi konsep pelayanan pariwisata yang ramah terhadap kebutuhan turis, khususnya wisatawan muslim. Bentuknya bisa dengan menjaga kebersihan, menyediakan makanan yang halal, menyediakan fasilitas ibadah, hingga pelayanan yang ramah.

”Sebagian besar sudah diterapkan di banyak hotel,” katanya.

Sonny menilai, wisata halal merupakan model pariwisata yang memiliki kemampuan adaptasi dan ketahanan tinggi terhadap perubahan sosial dalam revolusi 4.0. Sekaligus mampu memperkokoh jiwa kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Bila selama ini, teori pengembangan wisata selalu diadopsi dari budaya barat, wisata halal menurutnya merupakan kosep yang lahir dari nilai timur.

Wisata halal juga menjadi penting. Sebab, revolusi industri 4.0 menimbulkan guncangan kebudayaan di tengah masyarakat. Termasuk sektor pariwisata. Ketika pariwisata Indonesia didominasi kepentingan ekonomi, lambat laun identitas nasional lebih banyak ditentukan selera pasar, poster-poster wisata digital, cendera mata, dan buku panduan.

Kondisi itu membuat pariwisata Indonesia semakin jauh dari nilai-nilai budaya masyarakat. Pada akhirnya pariwisata Indonesia hanya menjadi industri mediocre (biasa-biasa saja). Harusnya menjadi sebuah seni perjalanan untuk menemukan nilai-nilai dari peradaban lama nusantara.

Ditegaskan, dalam menghadapi goncangan budaya itu, diperlukan model kepariwisataan beyond cultural tourism, tidak sekedar pariwisata budaya yang selama ini dikembangkan Indonesia. Hal itu ditemukan dalam model pariwisata halal.

Ia mengingatkan, pengemasan wisata halal membutuhkan kreativitas tinggi. Bila tidak menggali dari dalam kebudayaan Indonesia, maka segala proses kreatif itu hanya akan sampai pada taraf imitasi saja, selalu terbelakang dan tidak menjadi trend setter. ”Akibatnya, keunikan yang seharusnya menjadi identitas nasional menjadi kabur,” katanya.

Dampak lainnya, memunculkan pemujaan pariwisata yang berorientasi pada hasil capaian ekonomi berupa target-target kunjungan, dan nilai finansial yang diperoleh. Harusnya terbangun representasi nilai-nilai asli yang otonom dan bebas.

Ia mencontohkan, beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia menggulirkan gagasan jalur Cheng-Ho untuk menarik wisatawan, namun jalur Cheng-Ho hanya relevan bagi wisatawan China. Harusnya perjalanan Ibn Battuta bisa menjadi contoh. Ia memiliki jalur perjalanan yang lebih menarik. Dia menempuh perjalanan 170.000 KM selama setelah 29 tahun, dimulai tahun 1325 dari Maroko dan kemudian kembali ke Maroko pada tahun 1354.

Dia mengunjungi hampir semua wilayah Eropa, Afrika dan Asia. Dia juga mampir ke Sumatera yang dikenalnya sebagai samudera. Riwayat perjalannya kemudian dibukukan dengan judul Ar-Rihlah yang berarti Lawatan. Catatan perjalanan itu menjadi bagian penting untuk mengenal peradaban-peradaban yang dilaluinya. Jalur yang dilalui Ibn Battuta bisa digagas sebagai bentuk seni perjalanan dalam wisata halal secara internasional.

Menjawab hal itu, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah menjelaskan, pengembangan wisata halal terus dilakukan. Penyempurnaan atas pelaksanaan di lapangan terus dilakukan tim OPD. Mereka tidak pernah surut untuk melakukan promosi dan mengangkat konsep wisata halal.

”Kemarin kita dapat penghargaan sebagai wisata halal terbaik di Indonesia, ini memacu semangat kami,” ujarnya.

Gubernur Zul membantah, wisata halal tidak diseriusi setelah TGB HM Zainul Majdi tidak lagi menjadi gubernur. Pemerintahannya tetap melanjutkan pengembangan wisata halal. Dia berharap NTB bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. (ili/r6)

Berita Lainnya

Bukit Nipah dan Padanan Terbakar

Redaksi LombokPost

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Uang Korban Gempa Dicuri Mandor

Redaksi LombokPost

Kejuaraan Paralayang Nasional Diikuti 153 Peserta

Redaksi LombokPost

Melihat Persiapan Pemkot Menyambut HUT Kota Mataram Ke-26

Redaksi LombokPost

Korban TPPO Banyak Dijual ke Suriah

Redaksi LombokPost

Wajib Pakai Besi Kolom Sepuluh Mili

Redaksi LombokPost

Tok, Tok, Tok, Bank Rontok

Kafilah Kecamatan Mataram Juara MTQ XVIII