Lombok Post
Metropolis

Restoran Siap Saji Dapat Toleransi

NIKMATI MAKANANA: Seorang perempuan duduk sambil menikmati makanannya di sebuah restoran siap saji di Kota Mataram, kemarin (3/5). Pada bulan Ramadan restoran ini diharuskan menutup dinding kaca tersebut dengan gorden.

MATARAM-Pengusaha tempat hiburan, kafe, restoran cepat saji, warung makan, diminta untuk menjaga kondusivitas daerah selama Ramadan. Pemkot Mataram menyiapkan sanksi tegas apabila aturan jam operasional di bulan suci tidak dipatuhi.

Dansatpol PP Kota Mataram Bayu Pancapati mengatakan, jajarannya sudah bergerak melakukan imbauan ke pengusaha di Kota Mataram. Terakhir, mereka menemui pengusaha hiburan di Kecamatan Cakranegara.

”Kita ingatkan untuk mematuhi aturan yang ditetapkan pemkot,” kata Bayu.

Edaran pemkot kepada pengusaha terkait waktu operasional saat Ramadan. Bayu berharap, pengusaha bisa mematuhi aturan yang ditetapkan Pemkot Mataram. ”Hasil pertemuan disambut baik. Mereka akan ikut menjaga ketertiban di tempat usahanya,” sebut dia.

Imbauan jam operasional diberlakukan kepada pengusaha tempat hiburan dan restoran cepat saji. Bayu mengatakan, untuk restoran cepat saji diharapkan hanya melakukan take away. Tidak melayani makan di tempat. ”Boleh buka, tapi di jam 5 sore,” tuturnya.

Tetapi, beberapa restoran meminta untuk tetap buka di jam puasa. Menyikapi itu, Pemkot memilih jalan tengah. Tetap memperbolehkan untuk buka, hanya saja penjualannya tidak dilakukan secara vulgar. ”Nanti pakai tirai bisa. Yang penting ada penutupnya,” ujar dia.

Menurut Bayu, pemkot memang memberi toleransi. Di sisi lain, pengusaha juga harus menghormati apa yang menjadi ketentuan dari pemerintah. Sebab, dari pengalaman sebelumnya, banyak pengusaha yang membandel ketika Ramadan masuk di minggu kedua.

Hal yang sama diberlakukan untuk pengusaha hiburan di Kota Mataram. ”Itu tetap kita awasi. Yang harus diingat, kita tidak mematikan (usaha), pengusaha juga harus menghargai. Jangan sampai pas orang ngaji, tadarusan, malah terdengar live music,” tegas Bayu.

Sementara itu, Kadis Perdagangan Kota Mataram H Amran M Amin mengatakan, selama Ramadan diberlakukan jam buka untuk pedagang. Namun, dari temuan di tahun-tahun sebelumnya, masih banyak warung nasi yang melanggar aturan jam operasional.

”Kita sudah rapat untuk menyikapi itu. Sudah saatnya untuk tindakan tegas terhadap pelanggaran, karena hampir tiap tahun ditemukan kondisi seperti itu,” kata dia.

Bentuk tindakan tegas dari petugas dijelaskan Amran. Kata dia, apabila ditemukan warung nasi yang masih berjualan di siang hari, petugas akan mengambil seluruh peralatan mereka. Dinas juga membuka peluang mencabut izin berjualan.

Amran mengatakan, langkah itu untuk mengantisipasi terulangnya pelanggaran. Upaya persuasif berupa imbauan dinilai dia tidak akan memberi efek jera bagi pemilik warung.

”Nanti arahnya ke sana, ketegasan. Ketika satgas turun, kalau ditemukan pelanggaran, izinnya langsung dicabut saja,” tutur Amran.

Menurut Amran, aturan jam operasional kepada pemilik warung tidak memberatkan. Mereka hanya diminta untuk tidak beroperasi di jam puasa. Ketika sore dan malam hari, warung makan bisa beroperasional seperti biasanya.

Disinggung adanya anggapan Pemkot hanya berani menindak warung nasi, namun tidak tegas kepada restoran, ditepis Amran. Menurut dia, kecurigaan itu sebaiknya dihilangkan. ”Itu pembenaran saja. Komunitasnya sudah berbeda, penegakan aturannya juga berbeda,” tandas dia. (dit/r5)

Berita Lainnya

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna

Pansus DPRD Terima LKPJ Wali Kota Tahun Anggaran 2018

Perjuangan Para Pahlawan Demokrasi Mewujudkan Pemilu Jujur dan Adil

Pemkot Senang Berwacana