Lombok Post
Metropolis

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

RUKYATUL HILAL: Salah seorang petugas BMKG meneropong posisi hilal di Taman Loang Baloq, Kota Mataram, kemarinRUKYATUL HILAL: Salah seorang petugas BMKG meneropong posisi hilal di Taman Loang Baloq, Kota Mataram, kemarin

MATARAM-Marhaban Ya Ramadan. Selamat datang bulan suci penuh ampunan. Mulai hari ini, seluruh umat muslim memulai ibadah puasa hingga sebulan ke depan.

Umat muslim di NTB menyambutnya dengan penuh suka cita. Mereka memenuhi masjid-masjid untuk salat tarawih sebagai tanda dimulainya bulan Ramadan. Lantunan ayat-ayat suci menggema dari berbagai penjuru pulau seribu masjid.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sebagian warga yang jadi korban gempa menyambut bulan Ramadan dengan rasa haru. Mereka yang rumahnya hancur akibat gempa tetap menggelar tarawih dengan khusyuk meski di masjid darurat. Pada malam itu, mereka semua tunduk, sujud dan memohon ampun ke pada Allah SWT.

Nuansa itu terasa hingga ke Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center NTB. Suara merdu dan melengking Syeikh Mahmud Abdul Basith, imam besar asal Mesir yang menjadi imam salat tarawih menambah khusyuk jamaah yang datang beribadah.

Sayangnya, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Masjid Islamic Center tahun ini lebih sepi dan lengang. Hal itu disebabkan, sebagian warga masih takut gempa.

Seperti pengakuan Lalu Yusron, salah seorang jamaah asal Belencong, Desa Midang, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Dia merasa lebih sepi karena banyak orang yang takut gempa. Tahun sebelumnya lantai dua dipenuhi jamaah salat. Bahkan parkir kendaraan sampai di jalan raya. Tapi suasana itu tidak dirasakannya tahun ini.

“Gedung (masjid) banyak yang retak. Mungkin pemerintah harus segera memperbaiki,” harapnya.

Yusron mengaku, dalam dirinya ada perasaan takut, cemas bila tiba-tiba ada gempa. Sebab dia juga menjadi korban gempa. Rasa trauma masih ada. Apalagi Sabtu malam lalu, gempa mengguncang dan membuatnya lari ketakutan. Tapi dia tidak terlalu menghiraukan, itu tidak membuatnya takut datang ke masjid. “Karena namanya ajal Allah SWT yang atur,” ujarnya.

Sama halnya dengan Rizki Nugraha, warga Desa Gelogor, Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Dia sengaja datang ke Islamic Center karena mau merasakan tarawih seperti tahun sebelumnya. Tapi nuansa tahun ini lebih sepi karena suasana sedang kurang kondusif akibat gempa. “Banyak saudara kita yang tidak bisa merasakan Ramadan seperti tahun sebelumnya,” katanya.

Meski masih ada yang was-was, Rizki tetap lebih senang ke IC karena merupakan tempat yang paling afdal untuk tarawih. Masjidnya besar dan jadi ikon NTB. Setiap tarawih jamaah banyak, sekali pun tahun ini lebih sepi, tapi dibanding masjid lainnya, IC tetap ramai.

“Lebih terasa Ramadannya kalau di sini,” katanya.

Hilal Tidak Nampak

Sementara itu, sore harinya, Kementerian Agama (Kemenag) NTB bersama BMKG menggelar rukyatul hilal atau pemantauan hilal di Taman Loang Baloq. Namun hingga matahari terbenam hilal tidak mampu dilihat dengan alat teropong. Hal itu disebabkan tebalnya awan di ufuk barat.

Kepala Bagian Tata Usaha Kemenag NTB H Sirojuddin menjelaskan, meski hilal tidak terlihat, namun berdasarkan hasil perhitungan tim Kemenag NTB, semua sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan Menteri Agama se-ASEAN (MABIM).

Dalam kriteria yang ditetapkan MABIM, jika posisi hilal di atas dua derajat di atas ufuk kemungkinan akan terlihat, dan umur bulan delapan jam. Tapi dari hasil hitungan Kemenag NTB, usia bulan lebih dari 10 jam. Artinya kriteria syarat hilal yang ditetapkan MABIM sudah dipenuhi, dan puasa bisa mulai dilakukan. Namun bulan tidak terlihat karena faktor cuaca.

“Kalau di sini tidak bisa kemungkinan di tempat lain bisa, karena pemantauan hilal dilakukan di 102 titik,” ujarnya.

Bila sesuai perhitungan, diperkirakan sampai 2021 pelaksanaan ibadah puasa atau 1 Ramadan akan digelar secara serentak. Karena sampai 2021 letak hilal di atas dua derajat. “Setelah itu (2021) mungkin kita melakukan kesepakatan-kesepakatan,” katanya.

Sirojuddin berharap, memasuki bulan Ramadan kondisi masyarakat semakin kondisif. Meski tensi politik tinggi, namun dengan bulan Ramadan bisa saling menahan diri.

Sementara itu, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin berharap awal puasa yang bersamaan ini menjadi cerminan kebersamaan bangsa Indonesia.

Lukman menuturkan sidang memutuskan awal puasa jatuh hari ini setelah ada laporan dari para perukyah di lapangan. “Ada sembilan perukyah yang melaporkan melihat hilal. Kesaksian mereka di bawah sumpah,” kata politisi PPP itu.

Posisi mereka diantaranya di Bangkalan, Gresik, Lamongan, Kota Makassar, Brebes, dan Sukabumi. Dengan hasil tersebut, maka hasil analisis atau perhitungan hisab terkonfirmasi. Sebelumnya metode hisab, diantaranya diterapkan oleh Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa jatuh pada 6 Mei.

Lukman menegaskan antara sistem rukyat dengan hisab tidak perlu dipertentangkan. Sebaliknya keduanya saling melengkapi. Untuk itu sudah menjadi tradisi bagi pemerintah, menggelar sidang isbat dengan mengakomodasi metode hisab serta rukyat. Dia berharap seluruh umat Islam bisa merawat kebersamaan dalam bulan puasa ini.

Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdullah Jaidi juga menyampaikan rasa syukur karena umat Islam di Indonesia bisa mengawali puasa dengan serempak. “Insyaallah terus dipertahankan supaya memulai awal puasa secara bersama-sama,” katanya.

Dia menuturkan bahwa Ramadan harus bisa membentuk karakter muslim sejati. Lalu juga mewujudkan kesalehan pribadi maupun sosial.

Selain itu MUI berharap di tengah masa perhitungan suara Pemilu 2019, bulan Ramadan bisa menghadirkan berkah. Kemudian juga bisa membuat semua pihak mengendalikan diri. “Ramadan membawa berkah pada situasi politik yg aman, tentram, damai, dan kebersamaan,” katanya.

Sidang isbat diawali paparan posisi hilal oleh Cecep Nurwendaya dari tim Badan Hisab dan Rukyat Kemenag. Dalam paparannya tahun ini awal puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha sama atau bebarengan. Potensi perbedaan baru terjadi pada Idul Adha 2022 nanti. Kemudian pada 2023 akan ada perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha. Lantas di 2024 giliran awal puasa yang berbeda.

Pada umumnya perbedaan terjadi karena tinggi hilal saat dilakukan rukyat kurang atau di bawah dua derajat. Sehingga sulit diamati melalui rukyat. Berbeda dengan kemarin, dimana posisi hilal berkisar 4,5 derajat hingga 5,5 derajat di atas ufuk.

Sementara itu pemantauan Hilal serentak yang dilakukan oleh Pengurus NU menunjukkan hasil yang sama. Stasiun pemantauan hilal di Indonesia timur seperti Papua, Manado, NTT dan Lombok rata-rata melaporkan tidak bisa melihat hilal karena tertutup mendung tebal.

Titik pemantauan hilal di Bukit Condrodipo melaporkan berhasil melihat hilal pada pukul 17.24 WIB dengan ketinggian 5 derajat. 6 orang petugas pemantau telah disumpah oleh pengadilan agaman setempat.

Laporan kemudian disusul oleh titik pemantauan hilal di Tanjung Kodok, Lamongan. Disusul oleh titik pemantauan Pantai Gebang Bangkalan pada 17.29 WIB. Pada pukul 17.58 WIB titik pemantauan Pelabuhan Ratu di Sukabumi Jawa Barat juga melaporkan munculnya hilal.

“Titik munculnya hilal ini sesuai dengan perhitungan hisab kami, yakni di antara 4 hingga 6 derajat. Hampir semua titik pemantauan melaporkan ketinggian 5 derajat,” jelas Sekretaris Lajnah Falakiyah NU Nahari Muslih.

Dengan 4 titik yang melaporkan munculnya hilal dan masing-masing perukyat telah disumpah, maka Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj pun membacakan ikhbar resmi PBNU bahwa puasa bisa dimulai hari ini (6/5). (ili/wan/tau/r3)

Berita Lainnya

Festival Begasingan Buka Mentaram Berolahraga 2019

Redaksi Lombok Post

Polda Ajak Mahasiwa Tangkal Paham Radikal

Redaksi LombokPost

Bukit Nipah dan Padanan Terbakar

Redaksi LombokPost

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Uang Korban Gempa Dicuri Mandor

Redaksi LombokPost

Kejuaraan Paralayang Nasional Diikuti 153 Peserta

Redaksi LombokPost

Melihat Persiapan Pemkot Menyambut HUT Kota Mataram Ke-26

Redaksi LombokPost

Korban TPPO Banyak Dijual ke Suriah

Redaksi LombokPost

Wajib Pakai Besi Kolom Sepuluh Mili

Redaksi LombokPost