Lombok Post
Giri Menang Headline

Korban Gempa Menjerit Lagi

TERPAKSA BERTAHAN: Sejumlah warga korban gempa yang masih tertahan di Huntara area lapangan umum Desa Lingsar, Sabtu (11/9) lalu.

GIRI MENANG-Nasib sejumlah korban gempa di Lombok Barat (Lobar) masih memprihatinkan. Di bulan Puasa, mereka masih tertahan di hunian sementara (Huntara). Rumah mereka yang hancur akibat gempa belum juga selesai diperbaiki.

“Baru bangun pondasi. Bahan bangunan dan tukang sulit makanya belum bisa jadi,” aku Wadiah warga Desa Lingsar.

Kondisi serupa hampir dialami seluruh korban gempa yang tinggal di Huntara di kawasan lapangan umum Desa Lingsar. Sampai saat ini rumah mereka belum juga selesai dibangun meski bantuan diakui warga sudah masuk ke rekening mereka. Sampai saat ini terdapat 55 kepala keluarga yang saat ini masih bertahan di Huntara.

“Kami sudah cari tukang sampai Lombok Tengah dan Lombok Timur tapi memang sulit. Makanya masih belum jelas kapan bisa rumah kami bisa jadi,” Marzaini, warga lainnya.

Otomatis sementara waktu para korban gempa ini harus tertahan di hunian sementara selama Ramadan. Mereka merasakan Bulan Puasa kali ini jauh berbeda dengan bulan puasa tahun sebelumnya. Mereka hidup dalam segala keterbatasan bersama keluarganya saat berbuka puasa maupun aktivitas seharinya. “Mau nggak mau harus disyukuri masih bisa kumpul sama keluarga,” lanjut Marzaini.

Kendala yang dihadapi saat ini, belum maksimalnya mereka bisa bekerja seperti sebelumnya. Akibat fokus warga masih terpecah antara memperbaiki rumah mereka. Di satu sisi, dana bantuan gempa tidak bisa digunakan untuk kebutuhan makan atau berbelanja. Karena penggunaannya sudah diatur hanya untuk perbaikan rumah saja. “Bantuan pemerintah sekarang sudah hilang. Tidak pernah ada lagi bantuan sembako atau yang lainnya. Padahal kami terus terang masih butuh,” timpal warga lain, Wadiah.

Kondisi perekonomian warga saat ini masih belum pulih seperti sebelum gempa. Mereka sebenarnya berharap bantuan Jaminan Hidup (Jadup) yang dijanjikan bisa terealisasi. Untuk memenuhi kebutuhan selama rumah mereka diperbaiki dan kondisi perekonomian normal seperti sebelum gempa.

Terpisah Kepala Dinas Sosial Lombok Barat Hj Ni Made Ambaryati yang dikonfirmasi Lombok Post mengenai dana Jadup mengaku bantuan tersebut memang belum cair. “Belum. SP2Dnya baru terbit Jumat kemarin, kata pusat. BNI belum bisa masukkan jumlah nominal ke dalam buku tabungan penerima Jadup,” jelasnya, kemarin (12/5).

Jika sudah ada jumlah nominal dalam rekening tabungan, baru pihaknya bisa melaunching penerimaan Jadup. “Besok Senin kami tanyakan lagi ke BNI,” sambungnya.

Untuk tahap I, Lobar mengusulkan 967 kepala keluarga atau sekitar 3.380 jiwa untuk menerima Jadup. Masing-masing orang akan menerima bantuan Jadup sebesar Rp 600 ribu. Sehingga jumlahnya mencapai 2,038 miiar. Sedangkan tahap II sebanyak 71.255 KK dengan 285.508 jiwa. Maka jumlah bantuan jadup sekitar Rp 171,3 miliar. Namun untuk tahap II, sampling verifikasi yang dilakukan di setiap desa sekitar 25 kepala keluarga ternyata menemui banyak kendala. Sehingga pihaknya harus turun kembali ke semua desa agar bantuan Jadup bisa tepat sasaran. (ton/r8)

Berita Lainnya

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Zohri Spektakuler! Genggam Tiket ke Tokyo 2020

BNI Tebar 100 Ribu Bingkisan Ramadan

Disperindag Cek Kecurangan SPBU

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Progres RTG Belum Sesuai Harapan