Lombok Post
Giri Menang

Mengunjungi Masjid Ridwan, Masjid Berarsitektur China di NTB

INDAH: Inilah masjid Ridwan yang memiliki arsitektur khas Tionghoa yang ada di Desa Pakuan, Kecamatan Narmada Lombok Barat.

Masjid selalu menjadi tempat yang menenangkan. Tidak hanya terkenal karena aristekturnya yang indah dan unik, di Masjid Ridwan, pengunjung akan merasakan ketenangan dan kenyamanan saat menjalankan ibadah salat.

HAMDANI WATHONI, Giri Menang.

============================

Sebuah beduk berdiri di beranda masjid. Ruangan segi delapan di dalam masjid terlihat kosong. Di dalam ruangan masjid ini sudah tersedia sarung dan mukena. Pintu masjid yang yang terbuat dari ukiran kayu terpampang di depan. Masjid ini terbuka bagi siapapun yang mau beribadah.

Lokasi tempat wudu pun sudah disediakan. Berada di bawah tak jauh dari lokasi masjid. Airnya masih jernih dan bersih. Bersumber dari mata air pegunungan yang tak jauh dari lokasi Desa Pakuan.

“Siapapun yang datang boleh beribadah. Karena meski jadi destinasi wisata, masjid ini sama seperti masjid lainnya tempat untuk beribadah,” tutur Satral, penjaga Masjid Ridwan.

Air mengalir jernih dari keran masjid menyegarkan tubuh dan pikiran. Selepas wudu, pikiran terasa begitu tenang. Ditambah udara murni dari rerimbunan pepohonan yang ada di sekitar masjid Ridwan.

Di dalam ruangan masjid, pemandangan indah tak kalah menenangkan. Pemandangan pemukiman warga hingga kawasan hutan di balik kaca transparan yang menjadi sekat ruangan bisa dinikmati. Maklum, masjid ini berada di ketinggian perbukitan.

Salat akan terasa khusyuk di masjid ini. Tidak ada suara bising. Hanya ketenangan dan kesejukan udara yang berhembus terasa. “Tetap digunakan salat atau upacara keamagaan oleh warga setempat,” ucap Satral.

Namun masjid ini juga tidak tertutup bagi wisatawan non muslim yang berkunjung. Karena kehadiran masjid ini didirikan juga salah satunya untuk menyebar syiar Islam di Pulau Lombok.

H Maliki, warga keturunan Tionghoa yang membangun masjid ini diceritakan Satral sejak awal meniatkan agar Masjid Ridwan bisa diakses siapa saja. Bukan untuk kepentingan pribadi atau sekelompok orang.

“Makanya beliau tidak membolehkan diberlakukan adanya tiket untuk masuk ke area masjid meski ini menjadi salah satu destinasi wisata di desa kami. Orang hanya dipersilakan beramal seikhlasnya,” tutur Satral.

Amal dari pengunjung ini digunakan pengelola masjid dari kalangan warga desa setempat untuk kebutuhan biaya listrik dan merawat taman yang ada di sekitarnya. Karena, tidak hanya masjid, ada taman yang mengelilinginya. Di tambah dengan area outbond yang biasa dijadikan lokasi camping bagi para pelajar dan mahasiswa dariberbagai daerah.

“Beberapa waktu lalu, ada sejumlah santri dari Ponpes Kediri menggelar acara kemah di sini. Itu memang boleh. Kebetulan ada halaman yang luas juga untuk kegiatan itu,” tutur Satral.

Sama seperti pengunjung lainnya, para santri dari Ponpes ini pun tidak dikenakan biaya khusus. Mereka hanya dipersilakan untuk beramal seikhlasnya. “Bagi yang mau prewedding atau acara lainnya. Silakan saja datang kemari,” imbuhnya.

Masjid Ridwan ini dibangun tahun 2010 oleh H Maliki yang merupakan keturunan Tionghoa. Ia membangun masjid ini setelah memilih menjadi mualaf bersama seluruh keluarganya. Dari keterangan Satral, masjid dengan arsitektur khas Tionghoa ini tidak hanya dibangun di Desa Pakuan.

Masjid yang mirip dengan Masjid Ridwan juga dibangun di Desa Langko, Kecamatan Lingsar hingga di kediaman pribadi H Maliki dan keluarganya di di wilayah Kota Mataram. (*/r3)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi!

Redaksi LombokPost

Satu Sapi dan Tiga Kambing Tak Layak Sembelih

Redaksi LombokPost

Senggigi Butuh Jualan Baru!

Redaksi LombokPost

Farin Langsung Bidik Kursi Bupati

Redaksi LombokPost

Aparat Diminta Usut Perjalanan Dinas Dewan Lobar

Redaksi LombokPost

Rp 595 Juta Kerugian Negara Belum Kembali!

Redaksi LombokPost

Dermaga Rusak, Antrean Truk Mengular

Redaksi LombokPost

Tegur Sudah, Segel Sudah, Bongkarnya Tunggu Apalagi?

Redaksi LombokPost

Pedagang Ingin Kembali ke Pasar Lama Gunungsari

Redaksi LombokPost