Lombok Post
NTB

Sekda Rosiady Siap Angkat Kaki

MATARAM-Sekda NTB H Rosiady Sayuti siap menanggalkan jabatannya. Sebelum pensiun, Juni mendatang dia memutuskan kembali ke kampus sebagai dosen. Langkah itu cepat diambil agar karirnya sebagai birokrat tidak benar-benar berakhir. ”Saya harus mengurus pengembalian diri saya ke kampus supaya tidak pensiun dini,” kata Rosiady, pada Lombok Post, kemarin (14/5). Pria kelahiran 8 Juni 1961 itu menjelaskan, jika langkah itu tidak dilakukan dia bisa pensiun di usia 58 tahun. Karena usia seorang sekda maksimal 58 tahun. Dengan kembali ke jabatan fungsional sebagai dosen di Universitas Mataram (Unram) dia bisa mengabdi hingga 70 tahun kalau menjadi profesor, dosen biasa maksimal 65 tahun. ”Kalau saya bukan pindah, tetapi kembali,” katanya. Dengan berheti menjadi sekda, Rosiady mengaku tidak merasa dibuang oleh Gubernur NTB. Juga bukan karena ada unsur politik. Dia berhenti karena memang usianya sudah tidak memungkinkan. Pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, tidak diatur masa jabatan sekda bisa diperpanjang. ”Tidak ada itu hanya humor saja,” katanya. Meski sudah mengajukan untuk kembali menjadi dosen, namun dia benar-benar berhenti setelah SK pemberhentian dari presiden keluar. ”Setelah keluar saya serahkan ke gubernur kapan calon sekda mau diproses,” katanya. Tapi bila gubernur menunjukkanya jadi ketua panitia seleksi (pansel) lebih bagus. Sehingga tidak perlu ada pengangkatan pelaksana tugas (Plt) Sekda NTB. Seperti mantan Sekda NTB H Muhammad Nur. Dia langsung jadi ketua pansel untuk menyeleksi calon pengganti. Siapkan Posisi Komisaris Bank NTB Syariah Terpisah, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah menjelaskan, dia sudah menulis surat pelepasan H Rosiday Sayuti ke Unram. Pihak kampus memberikan “deadlline” jangan sampai terlambat diajukan. Kalau udah usia 58 tahun dia tidak bisa balik lagi ke Unram.”Kalau dia mau jadi ketua pansel, tidak masalah,” katanya. Setelah lima tahun menjadi sekda, Zul menilai Rosiady punya banyak pengalaman dan koneksi. Sehingga dia bisa dipertimbangkan mengisi salah satu posisi komisaris Bank NTB Syariah yang kosong. ”Dan banyak peluang yang lain,” katanya. Untuk mencari sekda baru, Zul akan membentuk pansel untuk menyeleksi beberana nama yang berminat. Pansel memilih tiga yang berkompeten dan diajukan ke gubernur. Setelah gubernur memilih salah satunya, kemudian diajukan ke pusat. ”Yang menentukan Jakarta,” katanya. Sekda Rosiady sendiri baru akan berhenti menjadi sekda bila sudah ada SK pemberhentian dari presiden. Selama belum, dia masih berhak menjadi sekda. ”Tapi kalau dirasa Plt lebih produktif kenapa tidak,” katanya. (ili/r5)

MATARAM-Sekda NTB H Rosiady Sayuti siap menanggalkan jabatannya. Sebelum pensiun, Juni mendatang dia memutuskan kembali ke kampus sebagai dosen. Langkah itu cepat diambil agar karirnya sebagai birokrat tidak benar-benar berakhir.

”Saya harus mengurus pengembalian diri saya ke kampus supaya tidak pensiun dini,” kata Rosiady, pada Lombok Post, kemarin (14/5).

Pria kelahiran 8 Juni 1961 itu menjelaskan, jika langkah itu tidak dilakukan dia bisa pensiun di usia 58 tahun. Karena usia seorang sekda maksimal 58 tahun. Dengan kembali ke jabatan fungsional sebagai dosen di Universitas Mataram (Unram) dia bisa mengabdi hingga 70 tahun kalau menjadi profesor, dosen biasa maksimal 65 tahun. ”Kalau saya bukan pindah, tetapi kembali,” katanya.

Dengan berheti menjadi sekda, Rosiady mengaku tidak merasa dibuang oleh Gubernur NTB. Juga bukan karena ada unsur politik. Dia berhenti karena memang usianya sudah tidak memungkinkan. Pada Undang-Undang Nomor 23  Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, tidak diatur masa jabatan sekda bisa diperpanjang. ”Tidak ada itu hanya humor saja,” katanya.

Meski sudah mengajukan untuk kembali menjadi dosen, namun dia benar-benar berhenti setelah SK pemberhentian dari presiden keluar. ”Setelah keluar saya serahkan ke gubernur kapan calon sekda mau diproses,” katanya.

Tapi bila gubernur menunjukkanya jadi ketua panitia seleksi (pansel) lebih bagus. Sehingga tidak perlu ada pengangkatan pelaksana tugas (Plt) Sekda NTB. Seperti mantan Sekda NTB H Muhammad Nur. Dia langsung jadi ketua pansel untuk menyeleksi calon pengganti.

Siapkan Posisi Komisaris Bank NTB Syariah

Terpisah, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah menjelaskan, dia sudah menulis surat pelepasan H Rosiday Sayuti ke Unram. Pihak kampus memberikan “deadlline” jangan sampai terlambat diajukan. Kalau udah usia 58 tahun dia tidak bisa balik lagi ke Unram.”Kalau dia mau jadi ketua pansel, tidak masalah,” katanya.

Setelah lima tahun menjadi sekda, Zul menilai Rosiady punya banyak pengalaman dan koneksi. Sehingga dia bisa dipertimbangkan mengisi salah satu posisi komisaris Bank NTB Syariah yang kosong. ”Dan banyak peluang yang lain,” katanya.

Untuk mencari sekda baru, Zul akan membentuk pansel untuk menyeleksi beberana nama yang berminat. Pansel memilih tiga yang berkompeten dan diajukan ke gubernur. Setelah gubernur memilih salah satunya, kemudian diajukan ke pusat. ”Yang menentukan Jakarta,” katanya.

Sekda Rosiady sendiri baru akan berhenti menjadi sekda bila sudah ada SK pemberhentian dari presiden. Selama belum, dia masih berhak menjadi sekda. ”Tapi kalau dirasa Plt lebih produktif kenapa tidak,” katanya. (ili/r5)

 

Berita Lainnya

Ayo Dukung Duta Bahasa NTB

Redaksi Lombok Post

Karantina Mataram Musnahkan Bibit Kubis Berbakteri Asal Amerika

Redaksi LombokPost

Warga Sekotong Harus Hati-hati! Ikan dan Beras Terindikasi Terpapar Merkuri

Redaksi LombokPost

Pemprov Masih Konsultasi

Redaksi LombokPost

Dewan Usulkan Bentuk Pansus

Redaksi LombokPost

Rastra untuk NTB Akan Dihapus

Redaksi LombokPost

AP Diminta Tidak Ngutang Terlalu Lama

Redaksi LombokPost

Awas, Dana Desa Rawan Dikorupsi!

Redaksi LombokPost

Emi Dapat Umrah Gratis

Redaksi LombokPost