Lombok Post
Politika

Terpental, Mahalli: Tidak Masalah!

TAK DAPAT TUAH : Bendera Partai Demokrat berkibar di kampanye Capres 02 Prabowo Subianto, beberapa waktu lalu.

MATARAM-Partai Demokrat NTB gagal mengulang perolehan kursi pada pemilu 2014 lalu. Saat itu, partai berlambang bintang mercy ini, berhasil meraih delapan kursi. Tapi, pemilu 2019 kali ini, Demokrat harus rela kehilangan satu kursi.

Dari hasil pleno KPU NTB kemarin, terlihat Demokrat gagal mendapat kursi di Dapil I Kota Mataram dan Dapil III Lombok Timur Selatan. Demokrat nyaris saja cuma dapat enam kursi, jika dapil IV Dompu, Bima, dan Kota Bima, tidak menyumbang dua kursi bagi partai besutan presiden Presiden ke 6 RI Soesilo Bambang Yudhoyono.

Ketua DPD Demokrat NTB TGH Mahalli Fikri, tak mempersoalkan rontoknya satu kursi bagi Demokrat. “Tujuh kursi, memang kenapa? nggak masalah,” kata Mahalli dingin.

Menurutnya, capaian itu sudah terbaik. Sekalipun jumlahnya berkurang dibanding tahun 2014. Mahalli pun tidak melihat rontoknya perolehan kursi Demokrat di DPRD NTB, ada kaitanya dengan pindah gerbongnya, beberapa pentolan Demokrat.

Sebut saja, TGB HM Zainul Majdi dan Hj Sitti Rohmi Djalilah wakil Gubernur NTB sekaligus kakak kandung TGB.

“Partai yang lain juga turun kok, Golkar turun (dari 11 kursi menjadi 10 kursi),” cetusnya.

Dengan kata lain, pindah gerbongnya beberapa tokoh yang pernah membesarkan Demokrat di NTB tidak berpengaruh pada perolehan partai. Semua kembali pada ketokohan caleg dan kemampuan mereka dalam mengkampanyekan diri sendiri.

“Persaingan juga ketat,” tandasnya.

Agus, Pengamat Politik dari UIN Mataram memiliki analisa berbeda dengan Mahalli. Agus melihat, rontoknya perolehan Demokrat tidak lepas dari pindah gerbongnya beberapa tokoh politik di partai bintang mercy itu.

“Betul, harus kita akui pemilih kita lebih cendrung pada figur daripada partai,” kata Agus.

Konsekwensinya saat ada figur sentral dalam sebuah partai pindah gerbong, pasti berdampak bula pada rperolehan partai tersebut. Bahkan cederung diikuti pula dengan berpindahnya pemilih. Mengikuti arah politik figur.

“Ini konsekwensi yang wajar, karena kita menganut sistem pemilu proporsional,” ulasnya.

Namun, mengapa TGB tidak berhasil membawa perubahan ke Golkar? 

Bagi Agus kasus ini berbeda. Munculnya dua kutub dalam pilpres telah menambah eskalasi ketegangan politik diantara pemilih. Ia melihat seandainya TGB berpindah gerbong ke partai yang mendukung paslon 02, hasilnya akan berbeda dengan yang terjadi pada Golkar.

“Harus diakui banyak pemilih yang kecewa dengan keputusan TGB di partai dan mendukung Jokowi, sementara di sini lumbung 02,” ulasnya.

Kekecewaan itu, membuat pemilih yang selama ini mengikuti TGB terpecah. Ada yang setia mengikuti, ada yang kecewa lalu memilih posisi politik berbeda dengan TGB, ada pula yang akhirnya menentukan sendiri pilihan politiknya, sekehendak hati mereka.

“Karakter pemilih kita sangat loyal terhadap isu agama,” ujarnya.

Hal ini membuat banyak pendukung TGB sampai di persimpangan. Termasuk yang selama ini setia, mengikuti TGB saat masih ada di Demokrat. Polarisasi agama dinilainya sangat tinggi di NTB. “Sehingga cukup mewarnai perilaku memilih warga di sini,” tandasnya. (zad/r2)

 

 

Berita Lainnya

22 Mei, NTB Kondusif!

Evi Buka Rahasia Foto Cantiknya

Laporan Farouk Kedaluarsa

BN KMA: Ini Kemenangan Rakyat!

Jangan Terpengaruh Ajakan Rusuh

Ini Pesan DPW PKS NTB ke Johan dan SJP

Paloh Dorong Amin Jadi Dubes

KPU Siap Ladeni Gugatan Farouk

Hari Ini, Prabowo-Sandi Deklarasi Menang!