Lombok Post
Feature Headline

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Dr Jamaluddin

Lombok dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid. Masyarakatnya dikenal religius. Islam menjadi sipirit penggerak kemajuan peradaban masyarakat Lombok hingga kini. Tapi tidak banyak yang tahu bagaimana Islam masuk dan berkembang di Lombok. Lombok Post menelusuri catatan sejarahnya dari buku “Sejarah Islam Lombok; Abad ke-16 hingga Abad ke-20” karya Dr Jamaluddin.  

 SIRTUPILLAILI, Mataram

=====================

Penyebaran Islam tidak lepas dari perkembangan perdagangan antar daerah di nusantara. Di sepanjang pantai kepulauan nusantara, tumbuh kota-kota bandar perdagangan dan pelayaran. Sekitar abad ke-13, tumbuh kota-kota pusat perdagangan di bawah hegemoni kerajaan Islam, seperti Samudera Pasai. Di susul Malaka abad ke-15, termasuk kota-kota bandar di Pulau Jawa, berlanjut ke Kalimantan, Maluku, Bali hingga Nusa Tenggara.

Kehadiran kota-kota emporium (pusat perdagangan) Islam di Nusantara membuat para pedagang Islam ikut ambil bagian dalam perdagangan internasional maupun regional, termasuk ke Lombok.

Karena itu, Jamaluddin dalam bukunya memperkirakan pada abad ke-15 sudah ada pedagang muslim bermukim di Lombok. Sejak saat itu pula Islam hadir di Lombok. Meski bukti-bukti masih minim, namun ia yakin orang-orang Islam sudah ada yang tinggal di Lombok. Terkait hal itu, belum banyak catatan sejarah yang bisa membuktikan.

Dalam buku “Sejarah Islam Lombok” Jamaluddin menelusuri sejarah masuk dan berkembangnya Islam melalui sumber-sumber lokal, salah satunya naskah Babad Lombok. Dalam naskah tersebut disebutkan, dari Pulau Jawa agama Islam berkembang ke Kalimatan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.

Penyebaran dilakukan oleh beberapa ulama, salah satunya Sunan Prapen atas perintah Sunan Giri. Sunan Prapen mendarat pertama kali di Salut, perkampungan tua yang ada di wilayah pesisir timur Lombok. Salut pada zaman itu merupakan bagian dari wilayah kerajaan Bayan, masa kini masuk ke dalam Kecamatan Kayangan, Lombok Utara. Jamaluddin memperkirakan, waktu kedatangan Sunan Prapen sebelum tahun 1545 M.

Sebelum mengislamkan kerajaan Lombok, Sunan Prapen terlebih dahulu mengislamkan masyarakat Salut. Salah satu buktinya adalah masjid tua di Desa Salut yang bisa dilihat hingga saat ini. Artinya yang pertama memeluk Islam bukan kerajaan Lombok/Selaparang, tetapi masyarakat Salut dan wilayah barat daya.

”Desa Salut memiliki peran sangat strategis dalam proses islamisasi wilayah Lombok,” kata Jamaluddin, yang ditemui di rumahnya.

Rangga Salut, seorang komandan prajurit di Salut menyarankan kepada Sunan Prapen, jika ingin mengislamkan Lombok secara lebih luas, mereka harus mengislamkan terlebih dahulu kerajaan Lombok/Selaparang di bawah kekuasaan Raja Prabu Rangkesari. Saat itu kerajaan Lombok terpusat di wilayah Labuan Lombok.

Setelah Salut dan sekitarnya terislamkan, Sunan Prapen melanjutkan perjalanan menuju Labuan Lombok yang saat itu menjadi pusat kerajaan-kerajaan Lombok. Mengislamkan Raja Lombok sangat penting untuk memuluskan gerakan dakwah ke berbagai tempat di Lombok, khususnya kerajaan-kerajaan yang ada di bawah kekuasaan Selaparang.

Dalam Babad Lombok dijelaskan, raja Lombok menerima kehadiran agama Islam di bawah mubalig Jawa setelah melakukan beberapa kesepakatan. Namun dalam perkembangannya, kesepakatan itu ternodai, hasutan beberapa tokoh dalam istana membuat raja berbalik haluan dan mengingkari kesepakatan tersebut.

Dapat Penolakan

Raja Lombok pun menyiapkan tentara untuk mengusir prajurit Islam di Labuan Lombok. Ketagangan pun terjadi dan perang tidak bisa dihindari. Dalam peperangan itu, raja Lombok dan rakyatnya melarikan diri ke hutan dan gunung.

Tapi akhirnya raja bisa dikerja dan ditangkap menghadap Sunan Prapen. Dia diampuni kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat dan dikhitan. Raja dan para pengikitnya kemudian diajarkan berbagai pengetahuan agama. Kemudian di pusat pemerintahan didirikan masjid. Kaum pria saat itu dikhitan, sementara khiatan bagi kaum perempuan ditunda.

Dalam menjalankan misi dakwahnya, Sunan Prapen tidak sendiri. Dia datang bersama rombongan dan mereka membagi tugas. Selain membawa prajurit, Sunan Prapen dia dibantu beberapa orang patih, antara lain Patih Mataram Arya Kertasura, Jaya Lengkara. Adipati Semarang, Tumenggung Surabaya, Tumenggung Sedayu, Tumenggum Anom Sandi, Ratu Madura dan Ratu Sumenep.

Setelah mengislamkan kerajaan Lombok, agama Islam pun disebarkan ke daerah-daerah kedatuan yang berada di bawah kerajaan Lombok. Seperti kedatuan Pejanggik, Langko, Parwa, dan Suradadi.

Proses pengislaman kedatuan di bawah kerajaan Lombok itu tidak berjalan mulus. Meski kerajaan Lombok telah diislamkan, namun kadatuan punya otonomi sendiri terkait persoalan keyakinan. Meski para dai sudah menyampaikan dakwah, tetap ada yang menolak.

Di beberapa tempat seperti Perigi dan Suradadi, pajurit Islam mendapat perlawanan sengit. Rakyat Suradadi di bawah kepemimpinan Patih Biku’ Mangkurat coba menghalau prajurit Islam, namun perlawanannya berhasil dilumpuhkan, dan masyarakat Suradadi masuk Islam.

Setelah itu, hampir seluruh desa dan kedatuan di bawah kerajaan Lombok memeluk agama Islam. Kecuali beberapa tempat seperti Pengantap, Pejarakan di bagian barat dan sebagian di Tanjung, Gangga, Pekanggo dan Sokong. Mereka yang tidak mau masuk Islam lari ke gunung-gunung. Masyarakat di desa-desa itu juga tidak terhindukan pada masa kekuasaan Majapahit berkuasa di Lombok. Mereka tetap memeluk agama Budha. (bersambung/r3)

Berita Lainnya

Honda Luncurkan Skutik Casual Fashionable, Genio

Total 1.691 Warga NTB Digigit Anjing Gila

Redaksi LombokPost

Adik Gubernur Didorong Maju di Pilbup Sumbawa

Redaksi LombokPost

Seleksi JPTP, Sekda Tekankan Transparansi

Redaksi LombokPost

Lobar Usulkan 217 Formasi CPNS

Redaksi LombokPost

PAD Lobar Turun Drastis

Redaksi LombokPost

Penyeberangan Kayangan-Poto Tano Kembali Normal

Redaksi LombokPost

Topat Agung di Pantai Duduk

Redaksi LombokPost

Data Penerima Jadup Ditarget Rampung 17 Juni

Redaksi LombokPost