Lombok Post
Feature Headline

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

KITAB ASSAMARKANDI: Jamaluddin menunjukkan kitab Assamarkandi, salah satu sumber yang digunakan dalam menggali sejarah Islam di Lombok.

Setelah Sunan Prapen mengislamkan kerajaan Lombok/Selaparang di bawah kepemimpinan Prabu Rangkesari, agama Islam dengan cepat menyebar di sekujur Lombok. Pada masa ini pula berkembang kota-kota bercirikan Islam yang menjadi pusat ekonomi sekaligus pembelajaran agama Islam.

SIRTUPILLAILI, Mataram  

 ===================

LABUHAN LOMBOK, yang juga kita kenal dengan nama yang sama sekarang, sudah kesohor semenjak dulu. Ini adalah bandar yang ternama. Namanya harum menjulang. Sebab, Labuhan Lombok adalah pusat pemerintahan Kerajaan Lombok/Selaparang yang dipimpin Prabu Rangkesari pada abad ke-16.

            Sebagai ibu kota kerajaan, Labuhan Lombok adalah bandar yang ramai. Bahkan, sebelum Kerajaan Lombok/Selaparang menjadi kerajaan Islam. Sehingga Labuhan Lombok waktu itu ramai dikunjungi pedagang dari luar. Seperti dari Jawa, Bali, Palembang, Makassar, Maluku. Termasuk pedagang dari China dan Arab Saudi.

            Kemajuan itu kian pesat. Seiring pesatnya kemajuan Kerajaan Lombok/Selaparang. Kerajaan ini ditaksir berkuasa di Lombok selama dua setengah abad. Dimulai pada Abad ke-16 dan berakhir pada abad ke-18 Masehi.

Selama menjadi penguasa Lombok, kerajaan ini berhasil menjadi sebuah kerajaan besar dan berwibawa. Baik di kalangan masyarakat Sasak maupun di kalangan masyarakat dunia kala itu. Pada saat itu pula, di Lombok ada beberapa kerajaan seperti Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong, Suradadi dan Parwa. Namun, semua kerajaan itu mengakui supermasi kekuasaan Kerajaan Selaparang.

            Pada kekuasaan Kerajaan Islam Lombok/Selaparang inilah, kemudian lahir kota-kota bercorak Islam di Pulau Lombok. Islam telah menjelma menjadi spirit dalam pembangunan peradaban masyarakat Lombok kala itu. Bila di beberapa tempat kota muslim terbangun dalam waktu yang lama dan proses panjang, seperti Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Nusantara yang berdiri pada Abad ke-13, sekitar tahun 1297.

Di Lombok, kota-kota Islam itu terbentuk seiring terislamkannya raja-raja di Lombok. Ketika raja-rajanya masuk Islam, maka otomatis ibu kota kerajaan pun berubah menjadi kota-kota Islam dan pusat kerajaan muslim.

”Pada era ini didirikan masjid-masjid serta pusat pengajaran Islam,” kata Jamaluddin.

Di tengah kemajuan pesat Labuhan Lombok itu, maka Prabu Rangkesari kemudian memindahkan ibu kota kerajaan. Yang semula berada di pesisir, dipindhakanlah ke lokasi yang lebih tengah. Tepatnya di Selaparang, yang ada di Kecamatan Suela, Lombok Timur, saat ini.

Dalam buku “Sejarah Islam Lombok; “Sejarah Islam Lombok; Abad XVI – Abad XX” Jamaluddin menggambarkan, momentum pemindahan pusat kerajaan Lombok dari wilayah pesisir Labuan Lombok menuju daerah pedalaman di Selaparang. Perpindahan yang berpengaruh besar bagi pengajaran agama Islam.

Pemindahan itu sendiri diusulkan oleh Patih Singayudha dan Patih Bandayudha kepada Prabu Rangkesari. Kedua tangan kanan Prabu menilai, pusat kerajaan yang ada di pesisir pantai tidak strategis. Teramat mudah diserang musuh dari luar.

Memang ada keuntungan. Yakni mampu mendatangkan penghasilan cukup bagus sebagai kota pelabuhan. Karena itu, pusat kerajaan pun kemudian diputuskan dipindah. Dengan alasan keamanan. Meski begitu Labuan Lombok, tetap menjadi kota pesisir.

Selaparang sendiri kata itu bukanlah sesuatu yang asing. Karena sebelumnya, Selaparang menjadi pusat kerajaan Selaparang Hindu. Sehingga masyarakat setempat sudah akrab dengan penataan wilayah perkotaan. Namun, pemindahan ibu kota kali ini membawa dampak  baru bagi wilayah tersebut.

Sebagai langkah pertama pemindahan ibu kota, dibangunlah istana di Selaparang. Istana dengan corak islam yang kental. Setelah istana kerajaan dibangun, baru kemudian dibangun berbagai fasillitas umum seperti masjid dapa dasar.

Lalu, mulailah Islam menajdi fenomena di pusat ibu kota yang baru. Istana kerajaan menjadi pusat pengembangan intelektual Islam di bawah perlindungan resmi raja. Kemudian melahirkan banyak tokoh ulama. Mereka memiliki banyak jaringan, baik di dalam maupun di luar kerajaan.

Selain itu, kota sebagai pusat ekonomi sangat kondusif untuk  mendukung penyebaran Islam. Relatif baiknya kegiatan ekonomi juga membuat pendirian masjid dan pusat pembelajaran bisa dibangun.

Dengan banyaknya pedagang muslim dan orang-orang muslim yang  secara sengaja bermigrasi untuk menyebarkan agama Islam. Kota pelabuhan dan kota kerajaan menjadi cukup dinamis dengan gagasan-gagasan baru tentang Islam. Hal itu menyebar hingga ke pelosok-pelosok Lombok.

Dalam hal ini, terdapat ketergantungan timbal-balik antara kegiatan perdagangan dengan pengembangan dan pemeliharaan lembaga pengajaran Islam. Lembaga pengajaran Islam yang dibangun sangat penting untuk mempertahankan karakter kota Islam, juga penyebaran agama Islam  ke pedesaan.

Dengan demikian Selaparang tumbuh menjadi kota kerajaan dan kota perdagangan. Kala itu, di utara Selaparang juga didirikan perkampungan bagi para pendatang. Kampung-kampung tua itu masih bisa dilihat sampai saat ini. Termasuk makam-makam tua yang menggunakan batu megalit sebagai nisan.

Dengan tampilnya Selaparang sebagai kota pusat kerajaan, beberapa tempat juga muncul sebagai kota-kota kerajaan seperti Sokong, Bayan, Pejanggik, Langko, Suradadi, dan Parwa. Meski mengakui supermasi kekuasaan Selaparang, kerajaan-kerajaan itu memiliki otonomi mengatur pemerintahannya sendiri.

Keberhasilan bidang ekonomi melalui pertanian dan perdagangan telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan ekonomi menjadi penentu untuk membangun peradaban.

Peran Islam sebagai agama yang berperadaban tidak bisa dilepas menjadi bagian di dalamnya.

”Islam hadir di muka bumi dengan membawa peradaban. Kehadirannya di Lombok pun membawa peradaban,” kata Jamaluddin. (*/bersambung/r6)

Berita Lainnya

Honda Luncurkan Skutik Casual Fashionable, Genio

Total 1.691 Warga NTB Digigit Anjing Gila

Redaksi LombokPost

Adik Gubernur Didorong Maju di Pilbup Sumbawa

Redaksi LombokPost

Seleksi JPTP, Sekda Tekankan Transparansi

Redaksi LombokPost

Lobar Usulkan 217 Formasi CPNS

Redaksi LombokPost

PAD Lobar Turun Drastis

Redaksi LombokPost

Penyeberangan Kayangan-Poto Tano Kembali Normal

Redaksi LombokPost

Topat Agung di Pantai Duduk

Redaksi LombokPost

Data Penerima Jadup Ditarget Rampung 17 Juni

Redaksi LombokPost