Lombok Post
Politika

Selly-Makmur Berpeluang Hadang Mohan

KERIS PUSAKA: Mohan memperlihatkan keris pusaka warisan mendiang Ayahanya kepada Lombok Post, beberapa waktu lalu.

MATARAM-Gong kampanye belum ditabuh. Tapi beberapa figur yang di sebut-sebut bakal bertarung dalam pilkada 2020, sepertinya telah melesat lebih dahulu. Mencari dukungan dan simpati masyarakat.

Ada ragam cara dan teknik mereka menarik simpati. Tetapi rata-rata mereka adalah orang-orang yang diuntungkan oleh situasi. Sehingga, memungkinkan lebih dahulu memulai pertarungan.

“Yang jelas Pak Mohan (Wakil Wali Kota Mataram) orang yang diuntungkan pertama,” kata DR Asrin dari Institute Agama dan Kebudayaan (INSAN) NTB.

Sejak ia menjadi wakil wali kota mendampingi Ahyar, ia telah mendapat keuntungan popularitas. Sehingga, rasanya tidak ada satu warga kota di ruas 61,3 km persegi ini yang tak mengenal Mohan. Sehingga, ia hanya perlu menggarap elektabilitasnya. Menjaga kepercayaan publik, bahwa ia bisa bekerja sesuai harapan warga kota.

Mohan masih dapat ‘keuntungan’ trah. Ayahnya yang juga Wali Kota, almarhum HM Ruslan. “Orang yang paling siap ke dua saya rasa Selly,” ulasnya.

Selly mungkin dari sisi popularitas kalah jauh dengan Mohan. Tetapi, Selly dinilai masih punya kesempatan mempepet suara Mohan. Ia pernah menjadi Penjabat Wali Kota dan ‘memamerkan’ konsep kepemimpinannya yang berbeda dari gaya kepemimpinan petahana selama ini.

“Yang paling berpeluang mengimbangi mohan ya tentu Selly saat ini,” ulasnya.

Sekalipun Selly kalah dari segi popularitas, tetapi dari sisi elektabilitas Mohan belum tentu melebihi Selly. Keduanya masih berpeluang saling mengungguli. Mengapa? Posisi Selly sebagai kepala dinas perdagangan provinsi, lebih menyentuh persoalan rakyat. Dan itu adalah panggung kampanye dirinya.

“Ia konsisten muncul di pasar-pasar,” terangnya.

Mohan memang bisa meraih panggung ekonomi berupa pasar-pasar selama menjabat sebagai wakil wali kota. Lalu muncul di semua pasar-pasar kota. Tetapi seberapa sering dan efektif, panggung itu untuknya?

“Angka golput pada pilkwakot 2015 lalu sangat tinggi mencapai 44,8 pesen,” terangnya.

Artinya, hampir separo warga kota enggan memberikan hak suara. Salah satu alasannya bisa saja jadi karena tidak tertarik dengan pasangan yang muncul saat itu. Padahal ada pasangan Aman (Ahyar-Mohan) jilid II dan Sahaja (Salman-Jana).

Angka golput itu sangat besar. Bisa jadi alasan kuat para figur yang tertarik bertarung di Pilwakot 2020 berpeluang menang.

Asrin sendiri masih konsisten dengan analisa awalnya. Calon dari kalangan akademisi sangat berpeluang membuat kejutan dalam pilwakot 2020.

“Kalau ada akademisi misalnya pak Ros (Rosyiadi Sayuti) kembali maju, saya rasa akan membuat pemilu kota bisa berlangsung berimbang antar figur,” ulasnya.

Ia melihat, calon dari akademisi tidak hanya akan menggembosi suara petahana. Tetapi, juga bisa meraup suara di kantong Golput yang tinggi. Belum lagi kehadiran figur-figur lain yang tentu saja akan semakin memecah-belah solidnya suara untuk petahana.

Selain Mohan dan Selly, figur lain yang dinilai Asrin sangat siap bertarung saat ini ada Badruttamam Ahda dan mantan Sekda Kota Mataram HL Makmur Said.

“Mereka (Makmur dan Ahda) bisa sangat kuat, saat suara petahana dipecah oleh figur-figur lain yang bermunculan,” analisanya.

Dengan kata lain semakin banyak figur yang muncul, semakin besar peluang petahana disaingi hingga berpotensi dikalahkan. Tetapi, sebaliknya jika dalam Pilwakot 2020 hanya menghadirkan pertarungan dua pasang saja, maka hampir pasti kekuatan Mohan sulit dikalahkan dan berpotensi menang.

“Kalau Pak Mohan bisa mencegah banyak calon yang muncul ia bisa menang, tapi kalau banyak calon saya rasa ia bisa kesulitan,” tandasnya.

Sementara itu, Badruttamam Ahda saat dikonfirmasi kabar maju masih menjawab dipolomatis. Putra Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh itu, saat ini mengaku masih lebih bahagia hadir di mimbar-mimbar agama daripada sibuk bicara politik.

“Di mimbar saya hanya bicara agama, tidak bicara politik,” kata Ahda.

HL Makmur Said  pun masih enggan memproklamirkan diri akan maju. Sekalipun banyak yang telah bisa memprediksi posisnya sebagai ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI), telah tercium sebagai langkah Makmur membangun dukungan.

“Ini hanya wadah silaturahmi,” kata Makmur singkat.

Selly pun begitu. Ia selalu menolak diwawancara tentang rencanannya ikut Pilwakot 2020. Tetapi, jawabannya tentang kesibukannya mengurusi masalah harga, bisa saja sinyal dari Selly bahwa ia tengah membangun basis massa melalui pasar-pasar.

“Saya sibuk bahas tentang harga-harga saja,” tutupnya. (zad/r2)

Berita Lainnya

HRF : Smart City itu Kunci!

Redaksi Lombok Post

Empat Tahun, Bisa Balik Modal Nggak?

Redaksi Lombok Post

Djohan Incar Syarif

Redaksi LombokPost

PKS Buka Peluang Bentuk Poros Sendiri

Redaksi LombokPost

Ismul atau Jafri, Mana Lebih Sakti?

Redaksi Lombok Post

Jalan Suhaili Menyambung Dinasti

Redaksi Lombok Post

Protes Warga Tak Mempan, Dewan Siap Paparkan Hasil Kunker

Redaksi Lombok Post

Ali: Dinda Seharusnya Tak Tenang

Redaksi LombokPost

Jangan Ada Evi Kedua!

Redaksi LombokPost