Lombok Post
Politika

Pilbup Loteng 2020, Nama Gede Syamsul Menguat

HL Gede Syamsul Mujahidin

MATARAM--NW Anjani masih menyimpan asa merebut Lombok Tengah. Salah satu alasannya, warga nahdliyin di sana mencapai 53 persen. Angka menunjukan bumi Tatas Tuhu Trasna salah satu basis massa NW.

Figur NW pun berpeluang besar memimpin di sana. Persoalannya selama ini basis massa 53 persen itu, tidak seluruhnya milik NW Anjani. Tetapi ada NW Pancor juga di sana. Karenannya rekonsiliasi dua NW disebut-sebut jadi salah satu kunci sukses merebut Lombok Tengah.

“Ya saya pikir memang sudah saatnya (rekonsiliasi),” kata Sekretaris Jendral PBNW TGH Abdul Muhyi Abidin, kubu Anjani.

Dua kali pilkada di Lombok Tengah yakni 2010 dan 2015, dua kali pula NW Anjani gagal memenangi pertarungan Lombok Tengah. Saat itu, ada figur TGH Gede Sakti yang diusung NW Anjani.

Kini PBNW kembali bersiap-siap menatap pilkada 2020. Tentu dengan harapan tidak kalah lagi dan bisa belajar dari dua kekalahan sebelumnya.

“Saya memang sempat bertemu dengan beberapa tokoh (di Lombok Tengah),” kata Muhyi.

Dari pertemuan itu, ada dua figur yang diminta beberapa tokoh yang ditemui Muhyi untuk diusung dalam Pilkada 2020 nanti. Dari dua nama itu, semuanya sosok baru yang dinilai mampu memaksimalkan dulungan warga nahdliyin dan warga umumnya.

“Lebih menyebut Gede Syamsul atau Lale Yaqutunnafis,” ungkapnya.

Muhyi sendiri tidak tahu, apa alasan beberapa tokoh itu mengusulkan figur baru. Tetapi, ia menduga, ada kaitannya dengan figur yang masih muda. Serta dianggap bisa mewakili keinginan kaum milenial masa kini.

“Ini mungkin tren, sudah ada berubah sedikit,” imbuhnya.

Namun nama-nama ini, belum menjadi sikap atau keputusan resmi NW Anjani. Masih ada proses dan tahapan, sampai diputuskan siapa yang akan diusung di di Pilkada Lombok Tengah.

Sementara itu, secara umum Dr Asrin, Direktur Institute Agama dan Kebudayaan (INSAN) NTB, melihat kompetisi di Lombok Tengah akan lebih berimbang bila dibanding Kota Mataram. Sekalipun dua daerah ini sama-sama berpeluang mengusung petahana.

Di Kota Mataram ada nama Wakil Wali Kota H Mohan Roliskana. Sedangkan, di Lombok Tengah ada HL Pathul Bahri yang juga berposisi sebagai Wakil Bupati.

“Tapi dari sisi kans, tentu lebih besar kans Mohan terpilih lagi,” banding Asrin.

Pathul mendampingi Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT di periode ke dua. Berbeda dengan Mohan yang mendampingi Ahyar sejak jadi Wali Kota dua periode. Dengan waktu yang lebih panjang, Mohan tentu diuntungkan dari segi waktu untuk membangun popularitas dan elektabilitasnya.

Begitu juga dari segi geografis dan teknologi informasi. Kota Mataram lebih kecil dan media informasi juga lebih dijangkau. Sehingga berbagai kegiatan Mohan selama mendampingi Ahyar tersosialisasi dengan baik.

“Tapi di Lombok Tengah kan masih ada daerah-daerah yang masih sulit dijangkau media informasi,” bandingnya.

Ia menimbang pertarungan antar figur di Lombok Tengah lebih terbuka. Siapapun figur masih berpeluang maju dan menang. Dengan catatan, bisa memaksimalkan waktu yang tersisa untuk sosialisasi. Hingga waktu pemilihan tiba.

 “Akademisi pun berpeluang, karena mereka punya lembaga yang secara konsisten memperkenakan figurnya,” sebutnya. (zad/r2)

Berita Lainnya

PDIP NTB Dukung Megawati

Redaksi LombokPost

Perang Sosmed Dimulai

Redaksi LombokPost

PAN Pasang BJS di Sumbawa

Redaksi LombokPost

Dukungan Makmur Semakin “Subur”

Redaksi LombokPost

Suami Wagub Belum Tertarik Kursi Bupati Di Pilkada Lombok Tengah 2020

Redaksi LombokPost

Mau Nyalon, Ini Empat Modal Wajib!

Redaksi LombokPost

Belum Menyerah, Rusni Incar Wali Kota

Redaksi LombokPost

Nasdem Dukung Najmul, Bila …

Redaksi LombokPost

Gagal ke DPR, Muazzim Lirik Pilbup Loteng

Redaksi LombokPost