Lombok Post
Metropolis

Ketika Terminal Mandalika Menjadi Ladang Rezeki Pedagang Asongan

LARIS MANIS: Pedagang Asongan Muzakki melayani pembeli yang melakukan arus balik di Teriminal Tipe A Mandalika, kemarin (9/6).

Tidak memiliki modal banyak atau lahan strategis di tempat tinggal bukan menjadi alasan untuk tidak berwirausaha. Muzakki misalnya, ia memanfaatkan  terminal Mandalika menjadi ladang rezeki sejak puluhan tahun lalu. Ia berkeliling dari bus satu ke bus yang lain menjajakan dagangannya.

ALI ROJAI, Mataram

================

CUACA siang  kemarin begitu panas di Terminal Tipe A Mandalika. Tak hanya mentari, namun debu-debu beterbangan ketika bus melintas keluar dari terminal. Para warga yang melakukan arus balik waktu itu tidak seberapa. Namun mereka tetap menunggu keberangkatan bus. Beberapa warga melakukan berbagai cara untuk membunuh rasa bosan terkait kepastian bus akan berangkat. Ada yang main game, tidur, hingga ada yang jalan-jalan di sekitar area terminal.

Di sudut terminal, tepatnya di sebelah utara keberangkatan bus  Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) terlihat pedagang asongan. Mengenakan topi hitam ia terlihat bolak balik mengantarkan air mineral kepada beberapa orang. Ia tidak khawatir meski dagangannya ditinggal begitu saja. Muzakki namanya. Ia memang dikenal sebagai pedagang asongan di Terminal Mandalika. Bahkan beberapa sopir dan kernet bus cukup akrab dengannya.

Sehingga tidak jarang dagangan yang dijajakannya diambil begitu saja para kernet dan sopir bus. Yang penting baginya sudah memberitahukan makanan, minuman, atau rokok yang diambil. “Tidak ada yang tidak bayar. Tetap mereka bayar tapi ngutang,” kelakar Muzakki.

Pria asal Lingkungan Tegal, Kecamatan Sadubaya dikenal sebagai pria penyabar. Tidak banyak bicara, namun bekerja. Buktinya, air panas didalam termos waktu itu habis. Sementara di satu sisi bayak kernet, sopir, hingga penumpang yang memesan kopi. Sehingga tanpa banyak bicara ia keluar dari terminal meninggalkan dagangannya  untuk mengambil air panas.

Sebagai pedagang asongan dilakoni Muzakki di terminal bukan baru-baru ini. Namun sudah hampir 20 tahun lebih. Sebelum ada terminal Tipe A Mandalika ini, ia sudah  berjualan di Terminal Sweta. Menjadi pedagang asongan dilakoninya karena kebutuhan. Apalagi ia tidak memiliki modal yang cukup banyak untuk menyewa atau pun membeli toko untuk berjualan ditempat yang strategis. Bahkan berjualan di kampung halamannya pun ia tidak bisa karena lokasi rumah yang tidak strategis. “Kita tinggal di dalam gang. Mana bisa jualan di rumah,” sebut bapak empat anak ini.

Namun demikian ia cukup cekatan memanfaatkan peluang. Ia berjualan di Terminal Mandalika dengan memanfaatkan banyaknya orang yang berlalu lalang. Menjajakan daganganya dari bus yang satu ke bus yang lain dilakukannya tiap hari. Bahkan ia tidak hanya mengandalkan terminal saja menjadi ladang rezeki, namun di setiap keramaian saat ada kegiatan. “Kalau ada acara wisuda di Mataram saya juga berjualan di sana. Tapi tetapnya di terminal,” ucap pria kelahiran 1973 ini.

Terminal Mandalika ibarat ladang pertanian baginya. Dari hasil berjualan di terminal ia bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya. Banyak pengalaman hidup ia jalani di terminal. Terutama jambret dan tukang tipu. Namun begitu ia tidak mau mempedulikannya. Sebab, jika ia ikut-ikutan akan berimbas kepada dirinya secara pribadi. “Kalau ada jambret atau tukang tipu laporkan saja ke polisi. Saya tidak mau tahu walaupun itu kejadiannya di depan mata,” akunya.

Dulu sebut Muzakki, ia  sering  melihat orang ditipu dalam pembelian tiket. Orang-orang  menawarkan tiket kepada warga, namun setelah dicek ternyata tiket yang dibeli itu tidak di stor kepada agen. Sehingga, mau tidak mau tiket hangus. Begitu juga dengan  jambret ia melihat dengan mata kepala sendiri mengambil  handphone atau pun dompet. Namun ia lagi- lagi ia tidak mau memberitahukan kepada orang yang dijambret. Sebab kalau dikasi tahu akan berdampak kepada dagangannya. “Kita kadang tahu, tapi diem saja. Biarkan yang dijambret melapor ke polisi,” ungkapnya.

Hidup di terminal akunya cukup keras. Tapi pada intinya jangan saling menyakiti dalam mencari rezeki. Sekalipun  apa yang dilakukan itu tidak baik. Dulu kata dia, Terminal Mandalika banyak disinggahi  TKI. Namun setelah ada kasus yang kurang mengenakan terkait barang bawaan TKI yang kerap hilang membuat mereka kapok naik bus. Kini, sebagian besar TKI  tidak lagi menggunakan bus untuk pulang. Mereka menggunakan pesawat. “Kadang barang-barang bawaan mereka hilang,” sebutnya.

Namun kini, Terminal Tipe A Mandalika ini cukup rapi. Tidak ada pedagang permanen yang boleh berjualan di dalam terminal. Mereka sudah dibuatkan lapak-lapak khusus untuk berjualan agar tidak mengganggu bus atau pun penumpang di dalam terminal. (*)

Berita Lainnya

Bukit Nipah dan Padanan Terbakar

Redaksi LombokPost

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Uang Korban Gempa Dicuri Mandor

Redaksi LombokPost

Kejuaraan Paralayang Nasional Diikuti 153 Peserta

Redaksi LombokPost

Melihat Persiapan Pemkot Menyambut HUT Kota Mataram Ke-26

Redaksi LombokPost

Korban TPPO Banyak Dijual ke Suriah

Redaksi LombokPost

Wajib Pakai Besi Kolom Sepuluh Mili

Redaksi LombokPost

Tok, Tok, Tok, Bank Rontok

Kafilah Kecamatan Mataram Juara MTQ XVIII