Lombok Post
Selong

Mengintip Aktivitas Napi di Rutan Kelas IIB Selong

BERKREASI: Alim, salah seoramg napi sedang memperbaiki bunga buatannya di Rutan kelas IIB Selong, kemarin (18/6).

Narapidana (napi) bukan orang jahat. Mereka juga manusia yang harus dihormati.  Mereka masih memiliki hati dan kreasi. Buktinya, mereka bisa berkarya di dalam tahanan.

 SUHARLI, LOMBOK TIMUR

======================================

Kumandang azan Duhur terdengar di dalam Rutan Kelas IIB Selong. Para penghuni rutan  bergegas memenuhi panggilan. Sipir memasang mata dengan awas. Mengecek narapidana di setiap blok.

Usai salat, para narapidana asyik duduk di teras musala. Tetapi, salah satu napi bergegas menuju ruangannya. Langkahnya cukup cepat.

Rupanya, napi itu melanjutkan pekerjaannya. Namanya, Alim. Pria berusia 30 tahun itu fokus membuat karangan bunga. Di bloknya ada tas kresek berserakan.  ”Silakan pak, mari masuk,” Sapa Alim dengan ramah.

Sampah dan limbah itu diaduknya. Hingga terlihat mengeras. Lalu dia membentuknya dengan cara memotong hingga berbentuk persis seperti daun. ”Batangnya bunga ini kita buat dari kawat dan kita lapis dengan limbah yang sudah kita olah,” terangnya.

Hasil karyanya hampir persis sama dengan bunga aslinya. Tetapi, apabila dipegang bunga itu terbuat dari limbah plastik. ”Ya begini sudah yang kita buat di dalam rutan. Ini untuk mengisi waktu kosong,” ujarnya.

Dalam membuat satu bunga, dia bisa menghabiskan waktu 10 hari. Itu pun harus dibuat dengan disiplin waktu. ”Kalau kita tekun, hasilnya lebih bagus,” ucapnya.

Dia yang sudah menjalankan hukuman 1,5 tahun baru membuat 17 belas bunga. Dia menjual hasil karyanya ke luar. ”Dibayar Rp 50-75 ribu per bunga,” ujarnya.

Saat pertama kali membuat bunga plastik, hasilnya tak terlalu bagus. Bahkan, saat pameran pun tak ada yang membeli hasil karyanya. ”Sulit sekali laku. Ya, memang hasilnya jelek juga,” keluhnya.

Tetapi dengan dorongan dari rekan-rekan di dalam rutan, dia pun bisa mengembangkan kreasinya. “Sekarang banyak orang dari luar yang memesannya,” kata dia.

Dia menarik tarif Rp 75 ribu per bunga. Meski pemesan ditarik harga, biasanya mereka membayar dengan harga lebih. ”Itulah rejeki,” kata dia.

Meski ada pesanan, Alim juga merancang bunga khusus untuk ibunya. Bunga itu dia  buat dengan maksimal. ”Bunga itu paling berkesan. Karena memang saya buat untuk ibu  saya,” ujarnya.

Dia membuat bunga untuk ibunya sebagai bentuk pelepas rindu. Bayangkan, dia divonis 8 tahun penjara. ”Selama itu, saya tidak akan bertemu. Paling tidak dengan bunga itu ibu saya bisa melepas rindu kalau tidak bisa bertemu dengan saya,” kenangnya.

Alim berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Persoalan sebelumnya, akan menjadi pelajaran penting baginya. ”Mungkin begini cara saya ditegur sama Allah,” kata pria asal Lenek itu.

Dia tertarik menggeluti kerajinan itu. Saat keluar nanti, dia akan menjadi perajin bunga plastik. ”Saya rasa asyik juga berjualan kembang plastik,” pungkasnya. (r5/*)

Berita Lainnya

Rohman Mantap Pilih Jalur Independen

Redaksi LombokPost

Masyarakat Harus Lebih Selektif!

Redaksi LombokPost

Spesialis Pencuri Mobil Ditangkap Polisi

Redaksi Lombok Post

80.584 Anak Belum Punya Akta

Redaksi Lombok Post

Sengketa Lahan Ancam Investasi

Redaksi Lombok Post

Di Balik Alasan Jukir RSUD dr R Soedjono Selong Mempertahankan Kehendaknya (2-Habis)

Redaksi Lombok Post

FK UI Gelar Pelatihan di Sembalun

Redaksi LombokPost

Warga Selong Tertangkap Bawa Setengah Kilo Sabu

Redaksi LombokPost

Belanja Murah di Pasar Jumat Pancor

Redaksi LombokPost