Lombok Post
Politika

Buzzer Imbangi Mesin Parpol

Agus MS

MATARAM-Munculnya beberapa calon yang ingin lewat jalur independen bukanlah barang baru. Mahalnya ongkos mesin partai, telah membuat beberapa figur dan tokoh dengan low budget menempuh jalur perseorangan.

Alasan mesin partai yang kebanyakan tak efektif bekerja memenangkan paslon salah satu alasan yang memperkuat akhirnya jalur perseorangan ditempuh. Selain biaya murah, potensi menang pun masih terbuka.

Salah satu catatan manis demokrasi tentang calon independen yakni pilkada 2013 silam. Saat pasangan Ali BD dan Khaerul Warisin sukses jadi bupati dan wakil bupati Lombok Timur.

Agus MS, Pengamat Politik UIN Mataram melihat keuntungan calon independen tak kalah menarik dengan lewat partai. “Dari sisi lolos verifikasi, catatannya positif,” kata Agus.

Ketua Prodi Politik Islam ini melihat aturan saat ini cukup akomodatif. Memberi peluang bagi calon perseorangan untuk bersaing dengan calon yang menggunakan kendaraan publik. “Pola verifikasi oleh KPU cukup longgar,” nilainya.

Hanya saja, calon perseorangan harus lebih superior saat kampanye. Mereka yang telah memiliki kendaraan politik, tentu mesin partainya akan bekerja memenangkan calonnya. Berbeda dengan tim pemenangan di balik calon independen yang ukuran militansinya dalam bekerja masih belum ada ukuran.

“Kalau partai jelas militansinya di perintah partai, tapi tim pemenangan mengukurnya bagaimana?” terangnya.

Tim pemenangan yang bekerja di balik calon independen bisa sangat militan. Tapi juga, sebaliknya hanya menjadikan calonnya sapi perahan saja. Menjual lips service hanya untuk membuat calon membuka pundi-pundi logistik.

Sedangkan mesin partai walaupun belakangan ada catatan buruk tetang kerja mesin partai paling tidak, gerakannya mendulang suara lebih terstruktur. Sekalpun kadang hasilnya mengecewakan.

“Tim pemanangan (di belakang calon independen), tidak selalu punya pendukung yang kuat dan permanen,” tekannya.

Tim-tim dadakan itu bisa saja berkamuflase di balik kemampuan lips service. Sehingga, terlihat meyakinkan di mata calon, tapi hasilnya ternyata nol besar. Berbeda dengan partai yang jelas-jelas secara struktur organisasi sudah punya ‘alat’ hingga tingkat desa-desa.

“Paling tidak mereka punya pendukung partai yang tergolong militan dan aktif,” nilainya.

Tapi pertarungan calon independen saat ini tentu tak sepahit perjuangan calon independen dulu. Calon independen dulu, hanya bisa menggaet ormas-ormas hingga simpul tokoh untuk memperlebar peluang menang.

“Karakteristik sosial NTB yang mana pilihan politik masyarakatnya masih berafiliasi dengan ideologi, keluarga, suku, daerah dan organiasi, membuat calon idenpenden masih berpeluang menang,” terangnya.

Kini calon indepeden semakin diuntungkan dengan tumbuh suburnya teknologi. Agus menyebut secara eksplisit peran media sosial dalam beberapa pemilu terakhir sukses menggiring arah dukungan politik.

“Itu kendaraan politik yang realistis bagi calon independen,” sebutnya.

Sudah jadi rahasia umum, ada buzzer-buzzer yang bekerja di balik media sosial. Tim yang tidak lahir dari rahim parpol ini telah menjelma menjadi kendaraan politik untuk mempengaruhi pemilih.

“Lebih dari 30 persen pemilih kita pemula dan mereka berkomunikasi dan berinteraksi dengan kolega melalui media sosial,” catatanya.

Demikian juga dengan pemilih kelas menengah ke atas. Terus tumbuh dan menyebar di kantor pemerintah, swasta, dan sektor riil lainnya. Mereka pun belakangan aktif berkomunikasi melalui media sosial.

“Yang komunikasi secara oral dan kotak langsung tidak lebih dari 20 persen,” catatanya.

Maka menurutnya data ini sebenarnya telah membuat kekuatan parpol yang selama ini ditakuti bukan tidak mungkin dipatahkan. Melalui para ‘mesin’ buzzer di media sosial untuk mendorong pemenangan calon idependen.

“Media sosial telah menguntungkan calon independen untuk bertarung saat ini,” yakinnya.

Ketua KPU Kota Mataram Husni Abidin sebelumnya mengapresiasi munculnya banyak calon. Baik yang rencannanya akan menggunakan kendaraan politik atau jalur perseorangan. Pertarungan dinilai akan lebih berwarna dan demokratis.

“Perlu saya klarifikasi juga, syarat dukungan calon independen itu bukan 34.494 suara, tapi paling tidak 24.921 suara, ada kesalahan hitung kemarin,” klarifikasinya. (zad/r2)

Berita Lainnya

Djohan Incar Syarif

Redaksi LombokPost

PKS Buka Peluang Bentuk Poros Sendiri

Redaksi LombokPost

Ismul atau Jafri, Mana Lebih Sakti?

Redaksi Lombok Post

Jalan Suhaili Menyambung Dinasti

Redaksi Lombok Post

Protes Warga Tak Mempan, Dewan Siap Paparkan Hasil Kunker

Redaksi Lombok Post

Ali: Dinda Seharusnya Tak Tenang

Redaksi LombokPost

Jangan Ada Evi Kedua!

Redaksi LombokPost

Sekda Lotim Incar Wali Kota Mataram

Redaksi Lombok Post

Pelantikan Wakil Rakyat 5 Daerah Molor

Redaksi LombokPost