Lombok Post
Politika

Duet Pathul-GSM Mencuat

TGH Abdul Muhyi Abidin

MATARAM-Kekuatan massa organisasi Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok Tengah, separo warga Lombok Tengah. Klaim ini, didukung hasil survei Konsultan Citra Indonesia (KCI) yang merilis 48-53 persen warga terafiliasi organisasi warisan Maulana Saikh Zainuddin Abdul Madjid.

Sayangnya, beberapa kali pilkada, NW tercatat gagal menempatkan kadernya sebagai bupati dan wakil bupati.

Penyebabnya, tak jauh dari buah terbelahnya faksi NW Anjani dan NW Pancor. Salah satu abituren NW yang menyadari ini TGH Abdul Muhyi Abidin, Sekjen PBNW Anjani pun menyerukan persatuan.

“Sudah saatnya kita bersatu lagi,” kata Muhyi menyadari penyebab kegagalan ini.

Data 48-53 persen warga NW bila dikonversi ‘kotor’ dari DPT Lombok Tengah, maka angkanya berkisar 387 ribu suara. angka yang minim ini masih harus terbelah dua, karena munculnya kutub Anjani dan Pancor. Jika diasumsikan kekuatan massa keduanya terbagi dua, maka masing-masing kutub menguasai sekitar 194 ribu suara.

Mengacu pada hasil survei KCI, maka separo lagi warga Lombok Tengah bukan warga NW. Mereka terpolarisasi ke kutub-kutub organisasi massa lain. Semisal NU, Muhammadiyah, Yatofa dan lain-lain.

Selain terpolirasi dalam organisasi keagamaan, polarisasi bertingkat juga ke dalam figur tokoh-tokoh. Diantaranya tokoh keulamaan pimpinan pondok pesantren dan yayasan keumatan. Situasi inilah yang membuat pemilih di Lombok Tengah sangat berwarna.

“Kami tentu membuka diri berkoalisi dengan yang lain,” lanjut Muhyi.

 Muhyi memahami, polarisasi berkutub-kutub warga Lombok Tengah tak bisa hanya diikat dengan satu simpul NW saja. Fakta selama ini, simpul NW yang dijadikan kekuatan untuk mengikat pemilih warga NW, tak sukses menggoalkan kader.

Karenannya, butuh simpul lebih banyak lagi untuk membangun kekuatan basis massa yang lebih solid. Bahkan tidak hanya dengan sesama NW — Anjani dan Pancor — tapi  juga membuka diri dengan organisasi massa yang lain.

“Ya kami terbuka untuk itu,” tekannya.

Salah satu skema yang bahkan belakangan ramai didesas-desuskan di forum-forum yang membahas utak-atik pasangan, munculnya ide menduetkan HL Pathul Bahri dengan HL Gede Syamsul Mujahidin (GSM). Representasi dari memadukan simpul NU dengan NW. Ide ini pun disambut dengan positif oleh Muhyi.

“Ya kenapa tidak, jika untuk kebaikan NW,” responnya.

NU dipandang sejauh ini di Lombok Tengah sukses menggoalkan calon-calon yang diusung. Termasuk saat NU juga berada di belakangan HM Suhaili FT yang sukses dua priode.

“NW tentu realistis, bisa di nomor satu (calon Bupati) atau nomor dua (wakil bupati),” terangnya.

 NW-NU atau NU-NW menjadi tawaran politik yang fleksibel dan dinamis yang diusulkan Muhyi. Setelah berhitung dengan kompleksnya simpul-simpul warga Lombok Tengah. Bagi Muhyi kepentingan NW jauh lebih prioritas, daripada sekadar memamerkan gengsi tanpa perhitungan matang.

“Kenapa tidak, jika itu jadi harapan warga NW,” tegasnya.

Pengamat Politik INSAN NTB Dr Asrin menilai duet NU-NW menurutnya ide menarik. Hanya saja, pilihannya hampir pasti nomor satu pasti milik NU. “Ya apa NW siap jadi nomor dua? saya rasa itu tidak mudah, ini soal gengsi,” kata Asrin.

Tapi jika duet ini benar-benar terwujud, ia yakin Pilkada Lombok Tengah telah memunculkan pasangan yang kokoh dan sulit ditandingi. Dua organisasi tua, NU dan NW pasti bergerak militan memenangkan pasangan itu. Pasangan ini juga diuntungkan dengan posisi Pathul yang bersatus petahana.

“Saya rasa kuat itu,” yakinnya. (zad/r2)

Berita Lainnya

Djohan Incar Syarif

Redaksi LombokPost

PKS Buka Peluang Bentuk Poros Sendiri

Redaksi LombokPost

Ismul atau Jafri, Mana Lebih Sakti?

Redaksi Lombok Post

Jalan Suhaili Menyambung Dinasti

Redaksi Lombok Post

Protes Warga Tak Mempan, Dewan Siap Paparkan Hasil Kunker

Redaksi Lombok Post

Ali: Dinda Seharusnya Tak Tenang

Redaksi LombokPost

Jangan Ada Evi Kedua!

Redaksi LombokPost

Sekda Lotim Incar Wali Kota Mataram

Redaksi Lombok Post

Pelantikan Wakil Rakyat 5 Daerah Molor

Redaksi LombokPost