Lombok Post
NTB

Potensi Pariwisata dan Ekonomi Harus Dikembangkan

PENDAKIAN TAMBORA: Beberapa orang pendaki berhenti dan membangun tenda di salah satu rute pendakian Gunung Tambora.

MATARAM-Gunung Tambora telah diakui sebagai cagar biosfer dunia. Artinya, NTB kini memiliki dua cagar biosfer yang diakui masyarakat internasional, yakni Gunung Rinjani dan Tambora. Bahkan Rinjani-Lombok telah menjadi UNESCO Global Geopak (UGG). Pengakuan dunia itu menjadi modal untuk pengembangan dua kawasan tersebut.

Menanggapi itu, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah mengatakan, NTB termasuk provinsi yang unik. Dia memiliki dua geopark kelas dunia, yakni Rinjani dan Tambora. Status sebagai geopark dunia harus dimaknai dengan baik. Geopark adalah tempat belajar bagi semua pihak.

”Geopark ini menjadi lahan bagi kita untuk belajar yang sesungguhnya,” katanya, usai acara pencanangan gerakan membaca di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah NTB, kemarin (17/6).

 Hal yang bisa dipelajari dari geopark sangat banyak. Mulai dari konsep-konsep konservasi sumber daya alam. Konsep pengembangan ekonomi, sosial budaya hingga pariwisata. ”Ini keberuntungan luar biasa bagi NTB, dan kita menjadi tuan rumah konfrensi geopark internasional di Lombok,” kata Zul.

Menurutnya, pengakuan status sebagai geopak dunia menunjukkan Lombok dan Sumbawa merupakan tempat yang aman, nyaman dan  menantang untuk dikunjungi. Pemerintah daerah harus bisa menanfaatkannya.

Dalam dalam sidang The 31st Session of The Man and The Biosphere Programme International Coordinating Council di Paris, Perancis, Senin (17/6), NTB ditunjuk sebagai tuan rumah agenda 13rd South East Biosphere Reserve Network tahun 2020 mendatang.

Acara tersebut dihadiri Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalillah. Dia menjadi salah satu dari lima pimpinan delegasi yang mewakili Indonesia dalam agenda sidang hari pertama. Wagub didamping Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTB Najamuddin Amy.

Berdasarkan hasil pertemuan itu, Najamuddin mengatakan, dua cagar itu dianggap penting karena menjadi laboratorium pembangunan berkelanjutan dengan memberdayakan komunitas lokal, untuk menghadapi tantangan global. ”Kami berharap dua cagar biosfer bisa memberikan dukungan bagi NTB untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan,” katanya.

Tiga karakteristik utama cagar biosfer. Diantaranya memiliki tiga fungsi yang saling berkaitan, yaitu fungsi konservasi, fungsi pembangunan dan pemasok kebutuhan pokok. Ciri lain cagar biosfer yakni adanya upaya untuk melampaui zona konservasi tradisional yang biasanya hanya bersifat terbatas.

Upaya ini dibangun melalui skema zonasi yang diselaraskan. Menggabungkan area inti yang dilindungi dengan zona di mana pembangunan berkelanjutan dipupuk oleh penduduk lokal dan perusahaan dengan sistem tata kelola yang sering sangat inovatif dan partisipatif. ”Cagar biosfer adalah perangkat untuk mencegah punahnya spesies-spesies yang menjadi khazanah kekayaan bumi,” jelasnya. (ili/r5)

Berita Lainnya

Ayo Dukung Duta Bahasa NTB

Redaksi Lombok Post

Karantina Mataram Musnahkan Bibit Kubis Berbakteri Asal Amerika

Redaksi LombokPost

Warga Sekotong Harus Hati-hati! Ikan dan Beras Terindikasi Terpapar Merkuri

Redaksi LombokPost

Pemprov Masih Konsultasi

Redaksi LombokPost

Dewan Usulkan Bentuk Pansus

Redaksi LombokPost

Rastra untuk NTB Akan Dihapus

Redaksi LombokPost

AP Diminta Tidak Ngutang Terlalu Lama

Redaksi LombokPost

Awas, Dana Desa Rawan Dikorupsi!

Redaksi LombokPost

Emi Dapat Umrah Gratis

Redaksi LombokPost