Lombok Post
Politika

Mau Nyalon, Ini Empat Modal Wajib!

Agus MS

MATARAM-Waktu pilkada 2020 semakin dekat. Pengamat Politik dari UIN Mataram Agus MS menyebut politisi atau figur paling tidak harus menyiapkan empat model modal sebelum akhirnya bertarung di panggung pilkada.

“Di studi ilmu politik sedikitnya dikenal empat modal kekusasaan,” kata Agus.

Empat modal kekuasaan itu antara lain: Ekonomi, Budaya, Sosial, dan Simbolik. Modal-modal ini tidak bisa dibangun hanya dalam waktu satu dua tahun. Tetapi, bertahun-tahun untuk memastikan ‘logistik-logistik’ itu cukup sebagai modal bertarung.

“Itu syarat untuk bisa memenangkan pemilu, siapa yang lebih siap saya rasa dia punya potensi terbuka untuk menang,” urainya.

Agus lalu merinci, modal ekonomi erat kaitannya dengan sumber finansial kandidat. Faktor ini sama pentingnya dengan empat modal lainnya.

“Kalau ada yang menyebut pilkada itu mahal memang benar,” ungkapnya.

Kandidat paling tidak harus telah mengeluarkan modal finansial sejak mendaftar. Apalagi banyak Partai Politik (Parpol) yang memasang tarif tak murah, sebagai kompensasi dukungan mesin partai. Di atas kertas parpol bisa saja berdalih partainya tidak memasang biaya untuk pendaftaran.

Tetapi para tim pemenangan di dalam parpol itu sendiri, tidak bisa bekerja tanpa dukungan logistik. Sementara, sulit mendapati ada parpol yang kadernya mau merogoh saku sendiri untuk memenangkan kandidat tertentu.

Jika ada hubungan keluarga atau kekerabatan bisa saja, kader dalam satu partai mau mendukung logitik kandidat tertentu. Itupun dengan harapan setelah terpilih, ia dapat keuntungan dari hasil dukungannya. Tapi bagi parpol yang kadernya tidak punya hubungan emosional, sulit untuk merasionalkan dukungan tanpa syarat.

“Paling tidak kandidat butuh biaya iklan politik, biaya kerja tim pemenangan, biaya saksi, dan biaya-biaya lain,” terangnya.

Lalu yang kedua ada modal budaya. Seperti latar belakang keluarga kandidat, kualifikasi intelektual, agama, dan asal-usul. Termasuk di dalamnya apakah ia putra daerah asli atau tidak.

“Modal ini penting karena pemilih kita, harus diakui masih fanatik dengan hal-hal yang berkaitan dengan identitas,” sebutnya.

Berikutnya lagi, modal sosial. Inilah salah satu modal yang nyata-nyata tidak bisa dibangun secara instan. Hubungan sosial harus telah dirintis bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Sehingga, seseorang bisa dianggap kaya secara sosial.

“Boleh seorang kandisat lemah difinansial tetapi dia punya jaringan dengan pengusaha atau elit politik,” terangnya.

Modal sosial bahkan lebih mumpuni dalam memberikan dukungan untuk maju bagi calon. Modal ini tersebar dari pemerintah pusat yang siap jadi sponsor. Hingga berbagai bentuk lembaga atau organisasi di tengah masyarakat.

“Ada yang punya jaringan media, LSM, Ormas, Kegamaan, dan lain-lain,” contohnya.

Sedangkan modal simbol erat kaitanya dengan jabatan orang itu sendiri. Apakah ia menduduki jabatan sebagai ketua, pimpinan, kepala atau lainnya dalam sebuah organisasi.

“Ini juga modal penting dalam bertarung,” terangnya.

Empat hal kata Agus, tidak bisa dibangun secara instan. Semua harus dirintis sejak lama, bertahun-tahun hingga puluhan tahun. Para calon dadakan dengan minim empat modal itu, berpeluang hanya sebagai pengembira.

Maka mengukur siapa yang berpeluang menang dalam pilkada 2020, cukup dengan menganalisa empat variabel ini. “Maka kita bisa analisa siapa yang punya peluang terpilih nanti,” tandasnya.

Tidak mudahnya mendapat empat modal ini membuat banyak figur akhirnya mencoba perintungan melalui jalur independen. Paling tidak meminimalisir pengeluaran modal finansial.

Di Beberapa daerah beberapa nama misalnya sudah menyatakan diri akan maju lewat jalur independen. Seperti HL Makmur Said di Mataram, lalu ada Kepala Dinas Perhubungan NTB Lalu Bayu Windia.

“Kalau dukungan cukup saya akan maju lewat Independen,” kata Bayu. (zad/r2)

Berita Lainnya

Gonjang Ganjing Partai Beringin

Redaksi Lombok Post

HRF : Smart City itu Kunci!

Redaksi Lombok Post

Empat Tahun, Bisa Balik Modal Nggak?

Redaksi Lombok Post

Djohan Incar Syarif

Redaksi LombokPost

PKS Buka Peluang Bentuk Poros Sendiri

Redaksi LombokPost

Ismul atau Jafri, Mana Lebih Sakti?

Redaksi Lombok Post

Jalan Suhaili Menyambung Dinasti

Redaksi Lombok Post

Protes Warga Tak Mempan, Dewan Siap Paparkan Hasil Kunker

Redaksi Lombok Post

Ali: Dinda Seharusnya Tak Tenang

Redaksi LombokPost