Lombok Post
Metropolis

Mataram Butuh Pemimpin Tegas

TGH Muammar Arafat

MATARAM-Nama TGH Muammar Arafat kerap dikait-kaitkan dengan Pilkada Kota Mataram 2020 mendatang. Banyak yang mendorongnya untuk maju bertarung untuk merebut kursi pimpinan di ibu kota Provinsi NTB ini.

“Jangan sampai kita didorong-dorong saja, namun tidak ada dukungan. Dendek sampe tejonjong sik tereng odak,” kata Muammar, kemarin (25/6).
Jika pun ada aspirasi masyarakat, ia mengaku belum tentu maju. Namun ia akan komunikasikan dengan keluarga. Terutama dengan orang tua untuk mendapatkan restu.

Menurutnya, Mataram ini harus lebih maju dari dari kabupaten/kota lainnya di NTB. “Masyarakat harus dimudahkan dalam pelayanan,” kata Muammar.

Menurutnya, Kota Mataram tidak terlalu luas. Namun, ia melihat pemkot masih kesulitan dalam menegakkan aturan. Buktinya, banyak pelaku usaha menjalankan bisnisnya secara ilegal di daerah ini. Mereka kerap melanggar perda, tanpa diberikan sanksi tegas.

“Kalau memang tidak boleh membangun di sini di kasi tahu, jangan sampai sudah membangun baru dibongkar. Ini kan menjadi masalah,” urainya.

Mataram mestinya menjalankan aturan berbasis teknologi. Semua harus online. Aplikasi yang digunakan pun harus lebih cepat dibandingkan kabupaten/kota lainnya. Jangan sampai masyarakatnya saja yang modern dengan membuka berbagai usaha yang mengikuti zaman.

“Andil pemerintah menjadi kota modern ini harus ada,” tukasnya.

Menurutnya, sebuah kota akan dikatakan maju bukan dari banyaknya ritel-ritel modern. Namun alangkah baiknya pemerintah menyulap pasar-pasar tradisional di Kota Mataram menjadi pasar modern. “Ini baru keren,” imbuhnya.

Diungakpan, dengan Mataram yang tidak terlalu luas mestinya sudah tidak ada lagi kita dengar orang kemalingan atau dijambret. Mestinya di pusat-pusat keramaian sudah terpasang CCTV. Di Kota Mataram tempat berkumpulnya orang-orang hebat dan kaya terasa jomplang dengan keberdaan orang-orang kurang mampu. Sering sekali terlihat ada nenek yang tinggal di bantaran sungai. “Mestinya orang-orang jompo dibawa ke panti,” ujarnya.

Mataram ini menurutnya membutuhkan pemimpin tegas, tapi tidak ganas. Adem tapi tidak melempem. Saat ditanya maju pada Pilwali? Muamar belum kepikiran.

Tapi ia mengapresiasi sejumlah nama-nama yang maju untuk Pilwali 2020 mendatang. Seperti HMS Kasdiono, HL Makmur Said, Hj Putu Selly Andayani, Ahda Badrutaman, dan sejumlah nama lainnya. Meski mereka sebagian besar berasal dari  luar Mataram, tidak ada masalah. Mataram ini tidak memandang pemimpin dari suku atau etnis mana. Yang penting baginya pemimpin itu punya kualitas.

“Tidak apa-apa orang dari luar Mataram yang menjadi wali kota nantinya, tapi mereka punya kualitas. Apalagi Mataram heterogen penduduknya,” tukasnya.

Berbeda dengan Muammar, politisi PKS TGH Achmad Muchlis justru sudah leaflet. Leaflet itu kini sudah beredar melalui media sosial.

Dalam leaflet tersebut terdapat foto TGH Achmad Muchlis berpeci putih dengan sorban di pundak kanannya. Berlatar belakang Masjid Hubbul Wathan Islamic Center, di Mataram.

Di sana tertulis jargon yang diusung TGH Muchlis, yakni, jujur, bersih, melayani. TGH nampaknya bakal maju sebagai calon Wali Kota Mataram melalui kendaraan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Ketua DPW PKS NTB Abdul Hadi mengatakan, untuk saat ini belum ada keputusan dari partai mengenai siapa kader yang maju dalam Pilkada Kota Mataram 2020. Begitu pula dengan siapa yang nantinya akan mereka dukung.

”Belum ada keputusan apapun,” kata Hadi, kemarin (25/6).

Mengenai leaflet digital dengan gambar TGH Achmad Muchlis, Hadi tak mempersoalkannya. PKS NTB sementara ini memberikan peluang kepada seluruh kader untuk maju. Termasuk memperkenalkan diri ke masyarakat.

Nantinya, partai akan menguji elektabilitas mereka. Siapa kader dengan elektabilitas tinggi, berpeluang besar untuk diusung PKS dalam pilkada kota. Hal yang sama berlaku kepada tokoh lain di luar partai.

”Nanti kita lihat lagi. Dari struktur (pengurus) akan menguji elektabilitas calon,” ujar dia.

Untuk saat ini, PKS Kota Mataram dipastikan tidak bisa mengusung pasangan wali kota dan wakil wali kota sendiri. Ini tak terlepas dari raihan lima kursi dalam Pileg 2019 lalu. Artinya, PKS harus berkoalisi dengan partai lain untuk memenuhi syarat kursi minimum mengusung pasangan calon.

Majunya TGH Achmad Muchlis patut diperhitungkan. Sosok tuan guru di NTB memiliki kelebihan dibandingkan yang lain. Ilmu agama yang dimiliki membuatnya dihormati dan disegani masyarakat. Apa yang keluar dari mulut tuan guru, biasanya selalu didengar masyarakat.

Saat ini, TGH Achmad Muchlis tinggal menunggu pelantikannya sebagai anggota DPRD NTB. Dia melenggang ke Parlemen Udayana melalui Dapil Kota Mataram. (jay/dit/r3)

Berita Lainnya

Bukit Nipah dan Padanan Terbakar

Redaksi LombokPost

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Uang Korban Gempa Dicuri Mandor

Redaksi LombokPost

Kejuaraan Paralayang Nasional Diikuti 153 Peserta

Redaksi LombokPost

Melihat Persiapan Pemkot Menyambut HUT Kota Mataram Ke-26

Redaksi LombokPost

Korban TPPO Banyak Dijual ke Suriah

Redaksi LombokPost

Wajib Pakai Besi Kolom Sepuluh Mili

Redaksi LombokPost

Tok, Tok, Tok, Bank Rontok

Kafilah Kecamatan Mataram Juara MTQ XVIII