Lombok Post
Giri Menang Headline

Korban Gempa Utang Beras

BELUM STABIL: Dua orang korban gempa di Desa Kekait hingga kemarin (7/7) masih mendiami Hunian Sementara (Huntara).

GIRI MENANG-Hampir setahun berlalu, gempa bumi berkekuatan 7,0 Skala Richter mengguncang Pulau Lombok. Dampaknya masih begitu terasa hingga saat ini. Puluhan ribu rumah warga Kabupaten Lombok Barat (Lobar) yang rusak akibat gempa masih belum selesai diperbaiki. Tak hanya itu, dampak ekonomi yang disebabkan gempa juga masih dirasakan masyarakat.

“Sampai sekarang kehidupan kami belum bisa normal,” ujar Hj Zakiah ditemui Lombok Post di kawasan perumahan hunian sementara (Huntara) di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Minggu kemarin (7/7).

Ia mengaku tinggal di Huntara terasa jauh berbeda dengan rumahnya sebelum runtuh akibat gempa. Sejak tinggal di Huntara, ia tidak bisa melaksanakan aktivitasnya seperti biasa. Misalnya berjualan nasi campur yang merupakan mata pencahariannya sejak bertahun-tahun silam.

“Sebelum gempa saya berjualan nasi di rumah. Dalam sehari rata-rata bisa dapat jualan Rp 200 ribu,” akunya.

Sayangnya, semenjak tinggal di Huntara, aktivitasnya berjualan nasi campur menjadi terhenti. Zakiah mengaku sudah berupaya mencoba menjual nasi campur di sekitar kawasan Huntara. Tidak banyak warga yang membeli nasi yang dijualnya. Kondisi ekonomi warga yang tinggal di Huntara juga cukup sulit.

“Kadang dapat Rp 50 ribu jualan, kadang nggak dapat jualan sama sekali,” tuturmya.

Penghasilannya dari berjualan nasi campur di area Huntara beberapa kali tak bisa menutupi kebutuhan sehari-hari. “Makanya kami kadang juga berutang beras. Karena sejak beberapa bulan lalu kan sudah tidak lagi dapat bantuan apa-apa,” akunya.

Khaeriah, pedagang sembako yang juga korban gempa di Desa Kekait mengaku, ekonominya masih belum bisa stabil seperti sediakala. Akibat daya beli masyarakat Kekait merosot. Ini juga berdampak pada omzet penjualan sembakonya. “Sementara kita sama keluarga juga butuh makan setiap hari,” akunya.

Warga berharap proses pembangunan rumah warga yang terdampak gempa bisa segera selesai. Agar warga yang saat ini masih tinggal di Huntara bisa kembali ke rumahnya.

Lambannya proses perbaikan rumah korban gempa di Desa Kekait yang diketahui Hj Zakiah dan Khaeriah akibat kendala tukan bangunan. Mereka mengaku sudah menerima bantuan sejak beberapa bulan lalu. Namun perbaikan terkendala minimnya keberadaan tukang. “Saya pilih RIKO dan sudah bangun pondasi. Tapi tukangnya harus bergerak membangun rumah lain karena kan jumlah rumah rusak ini ada ribuan,” ucap mereka.

Ini yang membuat proses perbaikan rumah korban gempa berjalan lambat di Desa Kekait. Sebelumnya, Dinas Perumahan dan Pemukiman Lobar melalui Kabid Perumahan Lalu Ratnawi mengaku proses percepatan telah diupayakan. Pihaknya menargetkan agar tahun ini semua warga yang telah menerima bantuan bisa menyelesaikan pembangunan rumanya. “Kami targetkan untuk 72.220 warga korban gempa yang sudah menerima bantuan bisa selesai membangun rumahnya tahun ini,” ucapnya kepada Lombok Post.

Sisanya, sekitar 5.651 warga korban gempa yang belum tersentuh akan ditangani menyusul kemudian. Karena saat ini Pemkab Lobar masih mengajukan bantuan susulan tahap II kepada mereka. (ton/r8)

Berita Lainnya

Telkomsel Hadirkan Kuota Keluarga

Redaksi Lombok Post

Duta Bahasa NTB Juara Favorit

Redaksi Lombok Post

BUMN Gelar Jalan Sehat dan Pasar Murah di Mataram

Redaksi Lombok Post

Ayo Dukung Duta Bahasa NTB

Redaksi Lombok Post

Protes Warga Tak Mempan, Dewan Siap Paparkan Hasil Kunker

Redaksi Lombok Post

Mantan Kepala Kemenag Bima Ditahan, Tersandung Korupsi Tunjangan Guru di Bima

Redaksi Lombok Post

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Zaini Arony Diklarifikasi Soal LCC

Redaksi LombokPost

Tenda di Mina Penuh Sesak, Ruang Satu Jamaah Hanya 0,8 Meter Persegi

Redaksi LombokPost