Lombok Post
NTB

Ahli Tsunami Minta Perkuat Mitigasi

KEGEMPAAN: Ketua IATsI Gegar Prasetya (kanan) memberikan penjelasan tentang potensi gempa dan tsunami kepada wartawan di ruang Sekda NTB, kemarin (10/7).

MATARAM-Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATsI) meminta masyarakat tidak cemas dengan potensi gempa megathrust 8,5 magnitudo. Potensi itu tidak spesifik akan terjadi Lombok. Tapi seluruh wilayah Indonesia yang dilalui lempeng sesar selatan dari Sumatera, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara.

Ketua IATsI Gegar Prasetya menjelaskan, jalur lempeng selatan, dari Sumatera sampai Sumba berada pada satu zona subduksi yang sama. Mengenai seberapa besar gempa dan potensi tsunami, harus dilakukan penelitian terus menerus dan lebih detail. ”Potensi besaran gempa dan tsunami tidak sama,” katanya, di kantor Gubernur NTB, kemarin (10/7).

Jepang dan Amerika menurutnya jauh lebih berbahaya, namun mereka tetap melakukan pembangunan di tempat itu. Karena mereka sudah paham dan siap dengan mitigasinya. ”Karena yang paling perlu adalah kegiatan mitigasinya,” kata Gegar.

Menurutnya, alam tidak pernah membunuh. Namun yang membuat orang meninggal karena bangunan yang tidak tahan gempa. Karena itu harus dibangun, bangunan yang tahan gempa dan tsunami.

Ia menjelaskan, potensi gempa dan tsunami berbeda. Tsunami terjadi tergantung seberapa besar gangguan yang terjadi di dasar lautnya. Meski gempa 8 magnitudo belum tentu dia menyebabkan tsunami. Tapi sangat tergantung dari bentuk pantainya. ”Karena itu perlu dilakukan pendetailan potensi tsunami,” katanya.

Ia menambahkan, gempa besar sekali pun belum tentu terjadi tsunami. Karena tergantung dari kedalaman gempa. Meski gempa 8 magnitudo tetapi dengan kedalaman 100 km ke atas, hampir dipastikan tidak tsunami. Tapi dengan gempa 6,8 magnitudo dengan kedalaman di bawah 20 km, itu berpotensi tsunami. Sehingga harus berhati-hati.

”Kalau merasakan gempa lebih dari 25 detik di pantai maka secepatnya lari, tidak usah tunggu perintah pemerintah,” kata Gegar.

Artinya, potensi gempa dan tsunami ada karena Indonesia berada di jalur cincin api. Karena itu, dia mengingatkan pentingnya kewaspadaan dari semua pihak. Bangunan-bangunan yang ada di pantai wilayah selatan harus lebih kokoh dan tahan gempa.

Bahkan bangunan hotel harus tersertifikasi punya mitigasi bencana yang baik. Sehingga meski ada potensi, turis tidak takut karena mereka sudah punya mitigasi yang baik. Di Bali hotel-hotelnya sudah punya mitigasi yang bagus.

Terkait itu, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD NTB H Ahsanul Khalik mengimbau warga tetap tenang dan waspada. Sebab tidak hanya terjadi di selatan Lombok, tetapi memanjang dari Jawa Timur sampai Sumba. Karena itu, mereka akan turun bersama kabupaten/kota untuk memperkuat mitigasi bencana. Apakah dengan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan masjid-masjid untuk menyampaikan informasi yang tepat.

”Sehingga masyarakat memahami, potensi itu ada di mana pun dan kapan pun ada,” katanya.

Terpenting saat ini adalah bagaimana memperkuat mitigasi. Program mitigasi juga sudah ada di setiap daerah. Hal itu akan dimaksimalkan. Namun mitigasi terpadu belum ada, karena berkaitan dengan tata ruang dan infrastruktur yang tahan gempa. ”Ini yang belum mungkin dilakukan ke depan,” katanya. (ili/r5)

Berita Lainnya

Ayo Dukung Duta Bahasa NTB

Redaksi Lombok Post

Karantina Mataram Musnahkan Bibit Kubis Berbakteri Asal Amerika

Redaksi LombokPost

Warga Sekotong Harus Hati-hati! Ikan dan Beras Terindikasi Terpapar Merkuri

Redaksi LombokPost

Pemprov Masih Konsultasi

Redaksi LombokPost

Dewan Usulkan Bentuk Pansus

Redaksi LombokPost

Rastra untuk NTB Akan Dihapus

Redaksi LombokPost

AP Diminta Tidak Ngutang Terlalu Lama

Redaksi LombokPost

Awas, Dana Desa Rawan Dikorupsi!

Redaksi LombokPost

Emi Dapat Umrah Gratis

Redaksi LombokPost