Lombok Post
Politika

Mataram Butuh Figur Berkualitas

Dr Lalu Wira Pria Suhartana

MATARAM-Ragam ekspektasi muncul jelang pemilu 2020. Terutama hadirnya pemimpin yang dicita-citakan. Lebih dari sekadar euforia pesta demokrasi dan mengangkat pemimpin untuk lima tahun ke depan. Tapi kehadirannya, benar-benar membawa perubahan bagi daerah ke arah lebih baik.

Narasi tentang pemimpin milenial, misalnya. Salah satu bentuk cita-cita yang hadir di tengah masyarakat, hadirnya pemimpin yang memahami kebutuhan masa kini.

Sehingga, program pembangunan lebih dari sekadar agenda normatif. Tapi tepat sesuai harapan dan perekembangan peradaban masa kini.

“Kalau saya melihat kita butuh pemimpin kharismatik,” kata Dr Lalu Wira Pria Suhartana akademisi Fakultas Hukum, Universitas Mataram.

Pria yang aktif mengamati dinamika pemerintahan dan politik daerah ini menangkap harapan tinggi masyarakat. Hadirnya pemimpin yang lebih dari sekadar punya otoritas legal.

“Tapi ia harus mampu memahami dinamika saat ini,” catatnya.

Cita-cita masyarakat juga hadirnya pemimpin yang kaya ide. Kaya solusi. Kaya kebijakan. Jangan sampai jadi pemimpin yang hanya jadi sombol. Tetapi segala kebijakannya tidak lebih dari kebijakan pesanan para sponsor dibelakangnya.

“Kita perlu bangkitkan kepercayaan diri masyarakat dengan pemimpin seperti itu,” ulasnya.

Ia mencontohkan semisal di Kota Mataram. Daerah ini lanjut Wira secara potensi Sumber Daya Alam (SDM) paling minimalis dibanding daerah lain. Maka pemimpin yang hadir nanti seyogyanya mampu melihat peluang di tengah kekurangan daerah ini.

“Misalnya ia harus mampu merencanakan pola pengembangan wilayah yang tidak berbasis SDA, tapi menciptakan sarana yang berorientasi pengembangan sektor jasa,” kupasnya.

Tantangan yang dihadapi pemimpin sejatinya tak mudah. Tidak hanya sekadar mengelola tatanan kehidupan masyarakat. Pemimpin juga punya tantangan lebih besar yakni kapitalisme.

“Ini rentan mengintervensi intervensi kebijakan publik,” peringatnya.

Hanya pemimpin yang berkarakater, berkharisma, dan punya kekuatan politik saja yang mampu melakukan semua itu. Sementara, pemimpin simbol atau boneka yang mudah distir sesuai kepentingan pemodal, hanya akan membuat sebuah daerah menjadi rimba persaingan ekonomi yang buas.

“Sementara pemimpin harus bisa menjaga harmonisasi heterogenitas sosial dengan menghindari etnosentrisme,” tekannya. (zad/r2)

Berita Lainnya

Djohan Incar Syarif

Redaksi LombokPost

PKS Buka Peluang Bentuk Poros Sendiri

Redaksi LombokPost

Ismul atau Jafri, Mana Lebih Sakti?

Redaksi Lombok Post

Jalan Suhaili Menyambung Dinasti

Redaksi Lombok Post

Protes Warga Tak Mempan, Dewan Siap Paparkan Hasil Kunker

Redaksi Lombok Post

Ali: Dinda Seharusnya Tak Tenang

Redaksi LombokPost

Jangan Ada Evi Kedua!

Redaksi LombokPost

Sekda Lotim Incar Wali Kota Mataram

Redaksi Lombok Post

Pelantikan Wakil Rakyat 5 Daerah Molor

Redaksi LombokPost