Lombok Post
Politika

PPP Dorong Poros Baru di KLU

MASSA PPP : Seorang pria tengah membawa bendera PPP di tengah iring-iringan massa kampanye pada Pilgub 2018 lalu.

MATARAM-Keberanian figur tampil di Pilkada Kabupaten Lombok Utara (KLU), masih kecil. Terlihat dari polarisasi figur masih hanya dominan pada sosok bupati KLU H Najmul Akhyar dan mantan bupati KLU Djohan Sjamsu.

Polarisasi yang masih sangat sempit ini, diperkirakan bakal berdampak pada tajamnya iklim politik. Bila sampai masa pendaftaran nanti, hanya ada dua calon yang mendaftar.

“(Nanti seperti) Jokowi-Prabowo lagi,” seloroh Muhammad Akri, Sekwil DPW PPP NTB.

Akri pun merasakan polarisisasi yang kuat pada dua tokoh itu di KLU. Belum adanya figur-figur lain yang berani muncul, membuat peta politik semakin mengkristal ke dua nama.

Pada dasarnya PPP lanjut Akri, tertarik mencairkan polarisasi politik. Mendorong kader partai ikut turun berlaga di antara kuatnya figuritas Najmul dan Djohan. Hanya saja, pertimbangan perolehan kursi partai yang membuat PPP akhirnya berpikir realistis.

“Kita ada kader seperti ketua DPC PPP Nasrudin,” contohnya.

Tapi dengan dua kursi tentu tidak cukup untuk mendorong kader sendiri. Masih kurang tiga kursi lagi untuk bisa mengusung paket sendiri.

Pada pilkada 2015 KLU silam, PPP berdiri di belakang Najmul. Hanya saja, dalam dinamika politik PPP membuka peluang untuk mendukung calon di luar Najmul-Djohan. Dengan syarat, memiliki elektabilitas dan polularitas yang tinggi berdasarkan hasil uji ilmiah survei.

“Pada dasarnya kita ingin menang,” tegasnya.

Secara umum selain Najmul dan Djohan, Akri melihat potensi itu ada pada Raden Nuna Abriadi politisi PDIP. Selain itu ia juga melihat potensi itu ada di Wakil Bupati KLU Syarifuddin.

Tapi dua nama ini belum terlihat aktivitas politiknya yang kuat. Tak terlihat pula tanda-tanda yang tajam Najmul-Syarifuddin pecah kongsi.

“Saya kira yang sudah pasti nyalon kalau sekarang itu Najmul sama Syarif,” ujarnya.

Saat ini PPP masih memilih berposisi untuk terus mengamati perkembangan politik. Semua peluang kata Akri masih terbuka. Mendukung figur petahana, hingga mengusung mantan Djohan pun terbuka. Tapi juga PPP menunggu langkah politik partai lain yang tertarik membentuk poros baru.

“Kita terbuka untuk siapapun (termasuk figur di luar Najmul-Djohan),” terangnya.

Sementara itu, pengamat politik dari INSAN NTB Dr Asrin melihat ada banyak keuntungan sebuah daerah punya figur calon pemimpin. Idealnya jangan hanya terpolarisasi pada dua figur saja. Karena berpeluang meningkatkan tensi politik.

“Kalau banyak figur kan minimal rasa kalah tidak terlalu menyakitkan,” celetuk Asrin.

Baik bagi yang didukung ataupun pendukung. Keuntungan lainnya tentu semakin banyak pilihan semakin leluasa untuk mencari yang terbaik diantara yang ada. Nuansa pesta demokrasinya pun jauh meriah dan gembira.

“Semakin banyak calon, semakin bagus,” tekannya. (zad/r2)

Berita Lainnya

Djohan Incar Syarif

Redaksi LombokPost

PKS Buka Peluang Bentuk Poros Sendiri

Redaksi LombokPost

Ismul atau Jafri, Mana Lebih Sakti?

Redaksi Lombok Post

Jalan Suhaili Menyambung Dinasti

Redaksi Lombok Post

Protes Warga Tak Mempan, Dewan Siap Paparkan Hasil Kunker

Redaksi Lombok Post

Ali: Dinda Seharusnya Tak Tenang

Redaksi LombokPost

Jangan Ada Evi Kedua!

Redaksi LombokPost

Sekda Lotim Incar Wali Kota Mataram

Redaksi Lombok Post

Pelantikan Wakil Rakyat 5 Daerah Molor

Redaksi LombokPost