Lombok Post
Metropolis

Wajib Pakai Besi Kolom Sepuluh Mili

DIKLAIM TAHAN GEMPA: Beberapa orang pekerja sedang menuntaskan pembangunan rumah bersubsidi di salah satu kawasan perumahan baru di Desa Terong Tawah, Lombok Barat, kemarin (8/8).

MATARAM-Para pengembang di NTB mengaku sama sekali tidak keberatan dengan aturan baru dari pemerintah yang mewajibkan mereka membangun rumah tahan gempa di kompleks perumahan baru.

Pengembang di NTB siap mematuhi aturan itu. Yang berarti mereka siap memasang besi kolom dan fondasi di tiap rumah dengan tebal minimal 10 milimeter.

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) NTB H Herri Susanto pada Lombok Post, melalui sambungan telepon, kemarin (8/8) mengungkapkan, seluruh anggota DPD REI di NTB akan patuh dengan kebijakan pemerintah tersebut.

Bahkan, untuk NTB, Herri yang saat ini sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci mengklaim, anggotanya sudah menerapkan pembangunan rumah tahan gempa semenjak tahun 2018.

”Jadi kami sudah mengacu pada kewajiban itu,” katanya.

Seperti diberitakan Lombok Post, kemarin, aturan rumah tahan gempa ini sebetulnya adalah aturan lama yang tertuang dalam Peraturan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (perkim) Nomor 403/KPTS/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (Rs Sehat) atau Perkim 403 semua bangunan baru wajib untuk memiliki konstruksi tahan gempa.

Hanya saja, pengawasan atas implementasi aturan ini selama ini rupanya tidak maksimal. Sehingga baru kemarin, pemerintah memastikan akan meningkatkan pengawasan pada standarisasi rumah tahan gempa. Namun, hal ini hanya akan berlaku untuk kompleks perumahan baru. Tidak merujuk pada kompleks perumahan lama dan sudah ditempati.

Herri menegaskan, sebelum semua pihak berteriak mengenai konstruksi rumah tahan gempa, REI NTB sudah menjalankan hal tersebut. Bahkan, Herri mengklaim, rumah-rumah bersubsidi yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah disebutnya sudah memenuhi standar tahan gempa tersebut. Rumah-rumah bersubsidi itu kata dia ada di Gunungsari dan Labuapi, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, hingga di Sumbawa.

Indikasi rumah tersebut tahan gempa kata dia, adalah rumah tersebut tidak ambruk saat gempa mengguncang. ”Selama rumah yang dibangun tidak roboh, itu sudah termasuk rumah tahan gempa,” katanya.

Soal penggunaan besi kolom 10 milimeter termasuk untuk fondasi, Herri juga mengklaim kalau semua anggota REI NTB telah mematuhi hal tersebut. Ditegaskannya, semua produk rumah subsidi yang di bangun pada 2018 sudah memakai besi ukuran 10 milimeter.

“Silahkan cek di semua pengembang,” tandasnya.

Karena itu, kalau kini pemerintah akan memperketat pengawasan, Direktur Utama PT Hissto Perkasa Nusantara tersebut memastikan hal tersebut tak akan jadi masalah sama sekali.

Senada dengan Herri, Direktur Utama PT Baiti Jannati Lombok Miftahuddin Ma’ruf mengklaim kalau konstruksi bangunan rumah subsidi yang dibangun pihaknya sudah sesuai kewajiban rumah tahan gempa tersebut.

”Sudah sejak tahun lalu. Jadi tinggal dilanjutkan saja,” katanya pada Lombok Post, kemarin.

Dia menegaskan, pengembang tidak main-main dalam membangun rumah. Itu sebabnya, dia menyebut, semua rumah yang kami bangun perusahaannya telah menggunakan besi kolom ukuran minimal 10 milimeter.

Menurut Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Daerah (BPOD) REI NTB ini, pihaknya tidak keberatan dengan aturan tersebut. Mengingat, banyak masyarakat, khususnya di NTB yang membutuhkan rumah subsidi namun dengan konstruksi kuat.

”Bahkan, kalau sebelumnya kolom yang kita gunakan 10 milimeter, sekarang semua sudah 15 milimeter,” tegasnya.

Ma’ruf memastikan proyek pembangunan rumah yang dibangun perusahaanya dalam kondisi baik. Seperti 300 unit rumah yang dibangun di Taliwang, Sumbawa Barat pada 2018 lalu.

Karena sudah menggunakan struktur rumah tahan gempa, maka dia memastikan, langkah pemerintah yang akan memperketat pengawasan mulai saat ini tak akan memengaruhi harga jual rumah. Termasuk harga jual rumah subsidi.

“Untuk rumah subsidi, tetap harga jualnya Rp 158 juta per unit,” katanya.  (tea/r6)

Berita Lainnya

Bukit Nipah dan Padanan Terbakar

Redaksi LombokPost

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Uang Korban Gempa Dicuri Mandor

Redaksi LombokPost

Kejuaraan Paralayang Nasional Diikuti 153 Peserta

Redaksi LombokPost

Melihat Persiapan Pemkot Menyambut HUT Kota Mataram Ke-26

Redaksi LombokPost

Korban TPPO Banyak Dijual ke Suriah

Redaksi LombokPost

Tok, Tok, Tok, Bank Rontok

Kafilah Kecamatan Mataram Juara MTQ XVIII

Hadapi Kekeringan dengan Sumur Dangkal

Redaksi LombokPost