Lombok Post
Selong

Masyarakat Harus Lebih Selektif!

MENABUR YODIUM: Lembaga UPJY MP Keruak, Ahmad Fauzi (kiri) bersama timnya sedang melakukan yudisasi garam non yodium yang disita pihak berwenang di Kantor Satpol PP Lotim belum lama ini.

SELONG-Kesadaran petani garam melakukan yudisasi atau pemberian zat yodium pada garamnya dinilai semakin berkurang. Semakin hari, semakin banyak saja petani garam yang tidak mengedarkan garam non yodium di Lotim. Hal tersebut disampaikan salah seorang petugas yudisasi dari Lembaga Unit Pelayanan Jasa Yudisasi Masyarakat Prima (UPJY MP) Keruak, Ahmad Fauzi.

“Masih banyak yang main petak umpet dengan petugas pemeriksaan. Mereka melakukan yudisasi kalau sudah ditangkap begini,” kata Ahmad kepada Lombok Post.

Menurut Ahmad, petani garam malas melakukan yudisasi karena beberapa faktor. Salahnya satunya adalah karena berkurangnya subsidi yudisasi kepada petani garam. Dulunya, petani garam bisa mendapatkan subsidi yudisasi sampai seratus persen. Namun sekarang, sudah menyusut menjadi 25 persen.

Padahal biaya untuk melakukan yudisasi tidaklah terlalu banyak. Namun memang butuh tenaga lebih untuk melakukannya. Ahmad menerangkan, kesadaran yudisasi tersebut terlihat dari semakin berkurangnya petani yang meminta jasanya untuk melakukan yudisasi.

“Kita berharap, pemerintah bisa memberikan subsidi lagi. Kalaupun tidak seratus persen, ya 50 persen saja,” jelasnya.

Kabid Penegakan Peraturan Perundang-undangan Satpol PP Lotim Wiwin Ayu Iswardianingrum mengatakan, belum lama ini pihaknya telah menyita garam non yodium dari tangan pengusaha nakal. Garam yang informasinya berasal dari Bima tersebut ditemukan di gudang salah seorang pengusaha dari Kecamatan Aikmel.

Kata Wiwin, jumlah yang disita pada sidak per tiga bulan tersebut sebanyak 150 karung. “Ini yang kedua kalinya kita amankan dari pengusaha yang sama,” jelas Wiwin.

Wiwin menerangkan, pengusaha yang ditemukan menyimpan garam non yodium diberikan waktu. Terutama untuk melakukan yudisasi atau pemberian iodium untuk garam tersebut.

Kasatpol PP Lotim Baiq Farida Apriani menerangkan, pihaknya sebenarnya telah geram melihat para pengusaha nakal tersebut. Menurutnya harus ada efek jera yang diberikan. “Kemarin saya sendiri ingin cepat memusnahkannya. Tapi pengusaha meminta dan bersedia untuk melakukan yudisasi. Dalam aturan, jika lebih dari dua kali tertangkap, ketiga kalinya akan masuk dalam tindak pidana,” jelas Farida.

Sesuai dengan Perda No. 3 tahun 2012, siapapun yang mengedarkan garam non yodium, dapat dipidakan kurungan selama 6 bulan dengan denda Rp 6 juta. Kata Farida, memang masih banyak garam non yodium yang beredar. Tapi dalam hal ini, pihaknya sebagai bagian dari tim gangguan akibat kekurangan yodium (Gaky). Selain Satpol PP, terdapat juga pihak dari dikes dan disperindag. (tih/r5)

Berita Lainnya

Rohman Mantap Pilih Jalur Independen

Redaksi LombokPost

Spesialis Pencuri Mobil Ditangkap Polisi

Redaksi Lombok Post

80.584 Anak Belum Punya Akta

Redaksi Lombok Post

Sengketa Lahan Ancam Investasi

Redaksi Lombok Post

Di Balik Alasan Jukir RSUD dr R Soedjono Selong Mempertahankan Kehendaknya (2-Habis)

Redaksi Lombok Post

FK UI Gelar Pelatihan di Sembalun

Redaksi LombokPost

Warga Selong Tertangkap Bawa Setengah Kilo Sabu

Redaksi LombokPost

Belanja Murah di Pasar Jumat Pancor

Redaksi LombokPost

Tanda Tanya Hantui Guru Sekolah Nisa

Redaksi LombokPost