Lombok Post
Kriminal

Tersangka Penyuap Imigrasi Segera Diadili

PELIMPAHAN: Petugas dari KPK (baju merah) melimpahkan berkas tersangka kasus dugaan suap izin tinggal WNA, Liliana Hidayat ke PN Mataram, kemarin (13/8).

MATARAM-Komisi  Pemberantasan Korupsi (KPK) telah merampungkan berkas tersangka kasus suap penyalahgunaan izin tinggal WNA, Liliana Hidayat. Kemarin (13/8), KPK mengantarkan berkas tersangka ke Pengadilan Negeri Mataram.

Dari pantauan Lombok Post, KPK tiba di PN Mataram pukul 09.10 Wita. Mereka datang ke PN membawa koper.

Di dalamnya terdapat sebundel berkas. Sampulnya berwana putih, bertuliskan KPK dengan berkas perkara Liliana Hidayat. Berkas Nomor: BP/79/DIK.02.00/23/07/2009 tersebut diserahkan ke petugas register perkara PN Mataram.

Pada sampul berkasnya juga jelas tertulis, perkara tindak pidana korupsi memberi hadiah atau janji kepada Kurniadie (selaku kepala Imigrasi Mataram) bersama dengan Yusriansyah Fazrin selaku Kasi Inteldakim terkait dengan proses hukum atas penyalahgunaan izin tinggal WNA atas nama Geoffery William Bower dan Manikam Katherasan.

Liliana selaku Direktur PT Wisata Bahagia Indonesia diancam dengan pasal 5 ayat (1) huruf a atau b. Atau pasal 13 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi.

Ketua PN Mataram Isnurul Syamsul Hidayat mengatakan, pihaknya baru menerima satu berkas dari KPK. Yakni, berkas tersangka yang bertindak selaku pemberi suap. ”Baru berkas Liliana  saja yang kita terima. Berkas tersangka lainnya, belum,” kata Isnurul saat ditemui di PN Mataram, kemarin (13/8).

Penetapan majelis hakim belum ditetapkan. Begitu juga dengan jadwal persidangannya. ”Paling lambat besok (Hari ini, Red (14/8)) kita tetapkan semuanya,” bebernya.

Penahanannya akan dilakukan di Lapas Mataram. Tetapi saat ini, informasinya tersangka masih dalam keadaan sakit. ”Meski dalam keadaan sakit, masa penahanannya masih berlaku,” ujarnya.

Ketika akan disidangkan di Mataram, akan terbit surat penahanan baru. Begitu, berkas perkara dilimpahkan ke pengadilan, tidak berlaku lagi masa penahanan yang dikeluarkan KPK. ”Nanti kita keluarkan surat penahanan yang baru,” kata dia.

Diketahui, KPK menangkap Operasi Tangkap Tangan (OTT) di tubuh imgrasi atas gratifikasi penghentian kasus penyalagunaan izin tinggal WNA. Pada OTT tersebut KPK menetapkan tiga orang tersangka. Yaitu, Kakanim Mataram Kurniadie, Kasi Intelijen dan Penindakan Yusriansyah, serta direktur pengelola Wyndham Sundancer Liliana Hidayat.

Penghentian kasus izin tinggal itu sempat ada negosiasi harga. Negosiasi awal, Liliana hendak menyetor Rp300 juta. Namun, bagi Kurniadie uang sebanyak itu belum cukup untuk menghentikan kasus.

Untuk menaikkan harga, Kurniadie mengancam menerbitkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) pada kasus tersebut. Kurniadie meminta mahar penghentian kasus Rp 1,2 miliar.

Karena Liliana bersikukuh agar dua pegawainya tidak dideportasi, mau tidak mau dia harus memenuhi permintaan Kurniadie. Liliana memberikan uang ke Kurniadie dengan cara membuang uang gratifikasi itu ke tong sampah. Lalu anak buah Yusriansyah mengambilnya dan memberikannya ke Kurniadie.

Kabarnya, uang tersebut juga mengalir ke beberapa bawahannya sebagai bentuk hadiah THR lebaran. (arl/r2)

Berita Lainnya

Jual Sabu Untuk Modal Kawin, Dua Sejoli Kompak Masuk Bui

Redaksi LombokPost

Nyabu Biar Lebih Bergairah

Redaksi Lombok Post

Mantan Kepala Kemenag Bima Ditahan, Tersandung Korupsi Tunjangan Guru di Bima

Redaksi Lombok Post

Zaini Arony Diklarifikasi Soal LCC

Redaksi LombokPost

Rekanan Proyek THR Diklarifikasi

Dae Ferra Berkelit Tak Terima Fee

Cari Selamat, Maling Amatir Hianati Kawan

Dorfin Dituntut 20 Tahun Penjara

Redaksi LombokPost

Jaksa Usut Pengadaan Bibit THR

Redaksi LombokPost